Oleh:

Sofi Hanif

T. Yuniati, dan

Didi Junaedi

TEKNIK PRODUKSI INDUK JANTAN YY IKAN NILA

(Oreochromis niloticus)

Oleh :

Sofi Hanif, T. Yuniati, dan Didi Junaedi

Abstract

      Penerapan teknologi Nila Jantan YY ditujukan untuk menyediakan induk nila yang dapat memproduksi benih tunggal kelamin janan secara genetis menjadi alternatif yang penting untuk mengantikan teknologi pengarahan kelamin menggunakan hormon.

      Teknologi Induk Jantan YY di adopsi untuk membuat teknik produksi induk yang dapat menghasilkan benih tuggal kelamin jantan. Metodologinya memerlukan enam rangkaian proses kegiatan yang bertahap mulai dari tahap feminisasi pertama, verifikasi hasil feminisasi (Progeny Test I) dan feminisasi tahap kedua, verifikasi jantan berkromosom YY (Progeny test II) dan verifikasi betina berkromosom YY (Progeny Test III). Dua tahap terakhir adalah perbanyakan dan produksi massal induk jantan YY. Tahap Feminisasi pertama, dilakukan oleh Prof. Komar Sumatadinata dan Dr. Ratu Siti Aliah, menghasilkan induk ikan nila betina yang diduga memiliki kromosom XY yang kemudian dipelihara di BBPBAT Sukabumi sebagai implementasi kerjasama antara Dirjen Perikanan Budidaya dengan BPPT.

      Verifikasi betina XY dilakukan dengan mengawinkan induk betina hasil feminisasi dengan jantan normal dan anakannya akan menetukan induk tersebut XY atau XX, tergantung nisbah kelamin (sex ratio) jantan yang dihasilkan dari identifikasi kelamin secara visual setelah berukuran dewasa.  Turunan betina XY sebagian di-feminisasi kembali dan sebagian tidak di-feminisasi. Verifikasi kedua dilakukan terhadap anakan jantan turunan induk betina XY dan menghasilkan induk jantan YY.  Verifikasi tahap ketiga dilakukan terhadap turunan betina XY yang di-feminisasi dan menghasilkan betina YY.

      Perbanyakan dilakukan dengan memijahkan induk jantan YY dengan induk betina YY yang tidak sekerabat.  Anakan hasil perbanyakan sebagian difeminisasi untuk menghasilkan induk betina YY.  Induk hasil perbanyakan terdiri dari betina YY ukuran rataan 96 sampai 130 gram per ekor dan YY jantan ukuran 12-130 gram.  Pada bulan Juni 2006 telah dilakukan uji produksi masal Jantan YY dengan mengawinkan Betina YY dengan Jantan YY yang tidak satu keturunan.  Anakannya masih berupa benih ukuran rataan 2-3 cm.

  •  Key Word : Verifikasi, progeny test, kromosom, feminisasi, nila jantan, larva, dan YY-supermale.
  1. PENDAHULUAN
  1.  Latar belakang

      Penggunaan benih ikan nila jantan dalam proses pembesaran merupakan pilihan pembudidaya dalam rangka peningkatan produksi melalui sistem pembesaran tunggal kelamin jantan, karena secara genetis ikan nila jantan tumbuh lebih cepat dari pada ikan betina (Contreras-Sanchez et al. 2001).  Sistem pembesaran tunggal kelamin jantan lebih menguntungkan secara ekonomis, karena selain mempercepat masa pemeliharaan, juga dapat menghasilkan ukuran ikan yang besar dan seragam. Hal ini karena selama masa pemeliharaan dapat mencegah terjadinya pemijahan liar. 

      Benih jantan nila pada umumnya dapat diproduksi secara komersial dengan teknik pengarahan kelamin (sex reversal) menggunakan hormon Methyl Testosteron (Green et al., 1997; Abucay and Mair, 1997; Gale et al., 1999).  Jenis hormon pada umumnya menggunakan hormon 17 α Methyl Testosteron (MT).  Teknik secara oral banyak dipraktekan lebih luas dan komersial karena lebih praktis, mudah dilakukan dan secara signifikan dapat menghasilkan benih 100% jantan (Popma and Green, 1991).

      Walaupun penggunaan hormon dalam produksi benih nila telah digunakan secara komersial, namun demikian ada kekhawatiran tentang dampak negatif terhadap hormone yang mempengaruhi keamanan pangan dan kelestarian lingkungan.  Pada saat ini umumnya konsumen ikan menghendaki agar ikan yang dikonsumsinya diperoleh dari hasil produksi yang terbebas dari bahan-bahan yang berbahaya.  Sehingga apabila usaha budidaya ikan dalam proses produksinya menggunakan bahan hormon (hormone base aquaculture) maka produk budidaya tersebut akan sangat rawan terhadap propaganda negatif pasar.  Disamping itu berdasarkan penelitian, telah ada bukti bahwa penggunaan hormon dapat mengakibatkan hasil yang paradoxial menjadi betina, terutama bila pemakaian dosis yang berlebihan atau waktu pemberian yang terlalu lama (Rinchard et al., 1999 dan Papoulias et al., 2000).

      Nila Jantan Supermale adalah istilah yang diberikan kepada induk nila jantan yang memiliki kromosom homogamet YY.  Sistem kromosom ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah homogamet XX untuk betina dan heterogamet XY untuk jantan (Mair et al. 1991; Trombka and Avtalion 1993).  Beberapa peneliti memprakarsai untuk membuat kreasi unik membuat individu jantan yang homogamet YY.  Kreasi ini mengacu kepada hipotesis bahwa individu betina yang berkromosom XX disilangkan dengan individu jantan yang berkromosom YY akan menghasilkan keturunan yang mempunyai kromosom XY.  Diantaranya Yang et al. 1980; Varadaraj and Pandian 1989 melakukan uji coba pada ikan Mujaer (O. mossambicus), sedangkan Mair 1988; Baroiller and Jalabert 1989; Scott et al. 1989 melakukan uji coba pada Ikan Nila (O. niloticus).  Mair et al. (1997) merekomendasikan untuk menerapkan teknologi YY supermale dalam usaha budidaya ikan nila secara komersial.

      Benih keturunan jantan YY dapat disebut sebagai benih nila jantan genetic = NJG (Genetic Male Tilapia = “GMT”) berbeda dari benih jantan hasil sex reversal ( Sex-reversed Male Tilapia=SMT).   Menurut Mair et al. (1997), hasil evaluasi secara menyeluruh dalam suatu uji coba sekala lapang pada lahan usaha budidaya menunjukan bahwa benih GMT telah lebih menguntungkan secara significan meningkatkan produksi lebih dari 58% dibandingkan usaha budidaya ynag menggunakan benih nila campuran.  Produksi benih nila GMT juga secara konsinten lebih tinggi dari pada produksi benih nila hasil sex reversal, karena keistimewaan lain dari nila GMT ini adalah ukuran panen yang lebih seragam, sintasan yang tinggi, dan FCR paling baik (Mair et al., 1997).  Keunggulan comparatif penting pada penerapan teknologi YY-supermale dalam system produksi benih monosex jantan adalah merupakan technology yang berbasis ramah lingkungan environmentally friendly tilapia monosex production (Mair et al., 1997).

      Penerapan teknologi YY-supermale di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar merupakan implementasi kerja sama antara Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya, Institut Pertanian Bogor dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).  Pelaksanaan penerapan teknologi di BBPBAT dimulai sejak penyerahan populasi ikan betina hasil feminisasi dari oleh Prof. Komar Sumantadinata dan Dr Ratu Siti Aliah sebagai bahan untuk menghasilkan populasi induk betina XY.  Selanjutnya di BBPBAT mulai dilakukan Progeny test I pada tahun 2002 untuk memverifikasi Induk Betina berkromosom XY dan sekaligus membuat populasi betina dan jantan yang mengandung individu berkromosom YY.

    1. Tujuan

      Penerapan teknologi YY-Supermale untuk menghasil teknik produksi induk nila yang yang bermutu yang dapat memproduksi benih tunggal kelamin jantan

  1. BAHAN DAN METODA
    1. Bahan dan Alat

      Bahan-bahan yang digunakan terdiri dari:  Induk nila betina hasil feminisasi I, pakan induk, pakan benih, pakan larva, hormone 17 β Estradiol, Alkohol, aceto-carmine.  Sedangkan alat-alat yang digunakan terdiri dari hapa dan waring ukuran (2x1x1) m3; ukuran (2x2x1) m3; ukuran (4x2x1) m3; dan ukuran (5x4x1) m3, akuarium, Aerator Hi-Blow, Water heater, tagging, mikroskop, disecting set, dan timbangan, dan alat-alat perikanan.

    1. Metoda

      Metodologi yang digunakan mencakup feminisasi, progeny test, dan pemijahan, dan gonad-squash. Progeny test atau uji keturunan adalah teknik verifikasi berdasarkan keturunan hasil pemijahan ikan uji. Progeny test I bertujuan untuk memverifikasi induk betina XY hasil feminiasi.  Progeny test II bertujuan utnuk memverifikasi induk jantan YY hasil turunan dari betina XY.  Progeny test III bertujuan untuk memverifikasi induk betina YY turunan betina XY yang difeminisasi.  Pada prosedur progeny test, individu induk diidentifikasi berdasarkan nisbah kelamin turunannya. Progeny test I menghasilkan induk betina XY, progeny test II induk jantan YY dan progeny test III menghasilkan induk betina YY.

      Progeny test I dilakukan dengan mengawinkan satu persatu induk betina hasil feminisasi dengan jantan normal, kemudian keturunannya dipelihara sampai dewasa kelamin. Berdasarkan identifikasi kelamin secara visual, maka nisbah kelamin ditentukan pada masing-masing populasi.  Bila jumlah jantan 75% maka induk populasi anakan tersebut merupakan individu betina XY. Pada saat proses progeny test I, anakan setiap individu induk yang dipijahkan dibagi menjadi dua sub populasi. Satu sub populasi di-feminisasi untuk membuat populasi betina YY, sedangkan satu sub populasi lagi dipelihara secara normal untuk verifikasi dan bahan populasi induk jantan YY .

      Progeny test II dilakukan dengan mengawinkan satu persatu individu induk jantan turunan induk betina XY dengan betina normal.  Anakannya dipelihara sampai usia dua sampai tiga bulan atau kira-kira ukuran 12 cm untuk diperiksa kelaminnya dengan cara menngidentifikasi gonadnya menggunakan mikroskop dan pewarnaan aceto-carmine atau Gonad squash (Guerrero.  1974).  Verifikasi induk jantan YY ditentukan oleh hasil identifikasi gonad keturunannya, yakni bila turunannya terdiri dari 90% jantan maka induk jantan tersebut dikaragorikan sebagai induk jantan YY. Progeny test III dilakukan hanya pada keturunan induk induk betina hasil feminisasi turunan betina XY yang sudaranya sudah dikategorikan sebagai induk jantan YY, caranya dengan mengawinkan secara masal dengan induk jantan normal, kemudian turunan dari masing-masing induk betina dipelihara secara terpisah, terakhir dibesarkan selama dua sampai tiga bulan sampai ukuran benih mencapai 12 cm untuk diperiksa kelaminnya dengan cara mengidentifikasi gonadnya sebagaimana pada progeny test II.  Apabila hasil identifikasi gonad, jumlah jantan lebih dari 90% maka induk betina tersebut digolongkan sebagai individu betina YY.

      Tata cara progeny test mencakup:

  •  Proses Pematangan Gonad dan Pemijahan
    1. Proses Pendederan
    2. Proses Pemeriksaan gonad

      Dua minggu sebelum pemijahan dilakukan pematangan gonad terlebih dahulu terhadap induk betina dan jantan pada bak yang terpisah.  Pematangan induk jantan dilaksanakan di dalam bak bulat berdiameter 3 m dengan kedalaman air sekitar 0,75 – 1,0 m dan induk betina di bak persegi empat ukuran 0,5 x 3,0 m2.  Perkawinan dilaksanakan secara berpasangan dilakukan dalam bak tembok ukuran 1 x 2 m2 dalam ruangan tertutup.    Selama proses pematangan diberi pakan sebanyak 3% per hari berupa pellet, dengan frekuensi pemberian 2 – 3 kali per hari.  

      Pada saat akan dilakukan pemijahan, induk betina yang telah diseleksi dan diperkirakan telah matang gonad dimasukkan kedalam bak pemijahan, sebanyak 3 ekor per bak, seminggu kemudian satu ekor induk jantan dan diamati apakah menyerang dan melukai induk-induk betina atau tidak, bila menyerang maka induk jantan tersebut diangkat kembali untuk dikembalikan ke bak pematangan kemudian digantikan dengan jantan yang lain.  Bila tidak ada lagi penyerangan maka pasangan induk tersebut dibiarkan untuk melakukan proses pememijahan secara alami.   Selama proses pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari sekali bersamaan dengan pemberian pakan tiga kali per hari.  Induk betina yang memijah memperlihatkan tanda-tanda yang khas yang bisa diamati.  Ikan nila termasuk ikan yang mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya dalam mulut.  Induk betina yang telah memijah di dalam mulutnya terdapat telur sehingga keadaannya selalu mengatup, dan bagian bawah mulutnya membesar.  Disamping itu warna tubuh induk betina yang sedang mengerami telur mudah dibedakan dengan yang lainya, bisanya warna tubuhnya memudar, dan garis-garis strip vertikal sepanjang tubuh berwarna hitam sangat konras dengan warna-dasar tubuhnya yang pucat keabu-abuan.  Proses pengeraman telur sekitar 3 – 5 hari sampai menjadi larva bisa berenang aktif.

      Proses pemanenan larva dilakukan sebelum masing-masing induk betina melepaskan larva dari proses pengeramannya, pada hari ketiga atau keempat.  Dari tiga ekor cukup diambil satu induk betina yang memijah, kemudian larvanya dikeluarkan dari dalam mulut untuk selanjutnya dipelihara sementara di dalam aquarium sampai bisa berenang secara aktif (swiming up fry).  Masing-masing induk jantan yang telah memijah dan menghasilkan larva lebih dari 100 ekor diberi tanda dengan memberi Tagging (Gambar 3) kemudian dimasukkan kedalam bak pemeliharaan yang terkontrol berupa bak tembok bulat berdiameter 3 m dan tinggi air 0,75 – 1,0 m (Gambar 2).  Sedangkan larva yang telah dapat berenang aktif dimasukkan ke dalam hapa ukuran 2 x 2 m2 yang dipasang di kolam untuk proses pendederan  sampai berukuran 8 – 12 cm guna pemeriksaan gonad (Gambar  1).

      Berbeda dengan pemijahan pada progeny test II, pada progeny test III pemijahan dilakukan secara masal dengan perbandingan induk 1 jantan : 3 betina. Sebagaimana halnya pada progeny test II, sebelum pemijahan atau perkawinan dimulai dua minggu sebelumnya masing-masing induk dimatangan-gonadkan terlebih dahulu secara terpisah dari induk betina dan jantan di dalam bak.  Pematangan induk betina dilakukan di dalam bak persegi empat berdimensi 1 x 5 x 1,5 m3 dengan kedalaman air sekitar 1,0 – 1,3 m dengan salah satu dinding berupa kaca. Sedangkan pematangan induk jantan di dalam hapa di kolam.  Perkawinan dilaksanakan secara massal dilakukan dalam bak tempat pematangan induk betina.    Selama proses pematangan diberi pakan sebanyak 3% per hari berupa pellet, dengan frekuensi pemberian 2 – 3 kali per hari.  

      Pada saat akan dilakukan pemijahan, induk jantan yang telah diseleksi dan diperkirakan telah matang gonad dimasukkan kedalam bak pemijahan, sebanyak 3 ekor per bak dan dibiarkan untuk melakukan proses pemijahan secara alami.   Selama proses pemijahan dilakukan pengontrolan setiap hari sekali bersamaan dengan pemberian pakan tiga kali per hari.  Induk betina yang memijah memperlihatkan tanda-tanda yang khas yang bisa diamati.  Ikan nila termasuk ikan yang mengerami telur dan mengasuh anak-anaknya dalam mulut.  Induk betina yang telah memijah di dalam mulutnya terdapat telur sehingga keadaannya mudah dikenali.  Disamping itu dari warna tubuh induk betina yang sedang mengerami telur mudah dibedakan dengan yang lainya, bisanya warna tubuhnya memudar, dan garis-garis strip vertikal sepanjang tubuh berwarna hitam sangat konras dengan warna-dasar tubuhnya yang pucat keabu-abuan, hal ini hanya dapat diamati bila media airnya jernih.  Proses pengeraman telur sekitar 3 – 5 hari sampai menjadi larva bisa berenang aktif.

      Proses pemanenan larva dilakukan sebelum masing-masing induk betina melepaskan larva dari proses pengeramannya, pada hari ketiga atau keempat.  Dari induk betina yang memijah, kemudian larvanya dikeluarkan dari dalam mulut untuk selanjutnya dipelihara sementara di dalam aquarium sampai bisa berenang secara aktif (swiming up fry).  Sedangkan induk betina yang telah memijah dan menghasilkan larva lebih dari 100 ekor diberi tagging (Gambar 3 dan 4) kemudian dimasukkan kedalam bak pemeliharaan yang terkontrol berupa bak persegi berdimensi sama dengan bak pemijahan.   Sedangkan larva yang telah dapat berenang aktif dimasukkan ke dalam hapa ukuran 2 x 2 m2 yang dipasang di kolam untuk proses pendederan  sampai berukuran 8 – 12 cm guna pemeriksaan gonad (Gambar  1).

    Feminisasi tahap II

      Feminisasi tahap II pada proses progeny test I ditujukan untuk membuat populasi betina YY.  Larva berukuran 0,9 – 13 mm berasal dari hasil pemijahan masing-masing induk betina hasil feminisasi pertama secara individual.  Hormone 17 β Estradiol sebanyak 100 mg pakan dilarutkan dengan 10 ml alkohol 90%, lalu diencerkan dengan 300 ml alkohol 70%.  Setelah diaduk rata selanjutnya dicampurkan kepada 1,0 kg pellet tepung menggunakan sprayer sambil diaduk-aduk supaya tercampur merata.  Pakan yang telah bercampur larutan hormon diangin-anginkan hingga bau alkohol tidak menyengat, sebelum dimasukan kedalam kantong plastik berwarna gelap.  Pakan berhormon dalam plastik disimpan dalam lemari pendingin untuk jangka waktu paling lama satu bulan.  Selanjutnya pakan berhormon diberikan kepada larva yang dipelihara dalam aquarium selama 30 hari dengan kepadatan 100 ekor larva per aquarium.  Jumlah pakan yang diberikan sebanyak 50% bobot biomasa dengan frekuensi pemberian 5 kali per hari.  Benih hasil pemeliharan didalam akuarium selanjutnya dibesarkan di dalam hapa dan bak  tembok sampai ukuran matang kelamin.

    1. Pemasangan Tagging

      Penandaan ikan yang telah dipijahkan dilakukan dengan pemasangan Visual Tag (Gambar 3) dengan cara ditempelkan pada bagian belakang sirip punggung menggunakan tali nylon yang ditusukkan kedalam otot 3 sisik ke arah bawah. Sedangkan induk ikan yang telah teridentifikasi sebagai individu YY ditandai dengan Microchip Implant Tag (Gambar 4) yang ditanam kedalam otot ikan pada sisik ketiga di bawah sirip punggung bagian depan. 

  1. Perbanyakan induk YY

      Perbanyakan induk YY ditujukan untuk melipatgandakan populasi induk jantan YY dan induk betina YY.  Cara yang dilakukan adalah dengan mengawinkan induk jantan YY dengan induk betina YY hasil verifikasi.  Agar tidak terjadi kawin sekerabat, maka induk jantan YY berbeda kerabat dengan induk betina YY.

      Proses perbanyakan meliputi pematangan induk YY, pemijahan, feminisasi, pendederan, dan pembesaran.  Proses pematangan dan pemijahan dilakukan dalam bak tembok bulat (Gambar 2).  Induk jantan YY dan betina YY yang dipergunakan berasal dari kerabat yang berbeda untuk menghindari pengaruh inbreeding.  Panen pemijahan berlangsung selama 15 hari dengan cara pemungutan telur yang sedang dierami oleh betina.  Penetasan dilakukan didalam media air yang suhunya dipertahankan pada 28oC dalam aquarium ukuran (40x30x30) cm3 selama 3-4 hari.   Populasi larva yang telah menetas dibagi menjadi dua sub populasi.  Satu sub populasi dipelihara terpisah dalam aquarium sistem resirkulasi dengan perlakuan feminisasi untuk memperbanyak induk betina YY.  Sedangkan sub populasi lainnya dipelihara secara normal dalam akuarium ukuran yang sama tetapi bukan pada sistem resirkulasi.  Pemeliharaan larva dalam akuarium sampai ukuran 3 – 5 cm, setelah itu dipindahkan kedalam hapa dan bak tembok untuk proses pendederan dan pembesaran sampai ukuran dewasa.  Hasil pendederan ikan pada kedua sub populasi disortir berdasarkan ukuran dan dipelihara secara terpisah sampai ukuran dewasa > 100 gram.

    1. Uji produksi massal

      Produksi masal ditujukan untuk menghasilkan calon induk jantan YY dalam jumlah besar untuk tujuan distribusi.  Produksi masal membutuhkan induk betina YY dan jantan YY dalam jumlah banyak yang bukan satu keturunan.  Proses produksi masal mliputi, pematangan induk, pemijahan, dan pendederan.  Pematangan dilakukan di dalam hapa di kolam, pemijahan dilakukan di kolam tanah, pendederan I dilakukan di aquarium, pendederan II dan III dilakukan di hapa waring.

    1. Waktu dan tempat

      Progeni test I dilakukan mulai bulan Desember 2002 sampai Agustus 2003, progeny test II dilakukan pada bulan September 2003 sampai Agustus 2004 dan Progeny Test III September 2004 sampai Agustus 2005.  Perbanyakan mulai dilakukan sejak bulan Sepetember 2005 sampai Desember 2006.  Dan uji coba produksi masal dilakukan pada bulan Juli sampai Desember 2006.  Kegiatan Feminisasi tahap I dilaksanakan di IPB, sedangkan kegiatan Progeni test I sampai III, Feminisasi tahap II dan III, perbanyakan dan ujicoba produksi masal dilaksanakan di Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi.

  1. HASIL DAN PEMBAHASAN
    1. Progeny Test I

      Pada ulan Juni 2002 diterima calon induk ikan nila hasil feminisasi dari Prof. Komar Sumantadinata sebanyak 59 ekor, kemudian dipelihara di BBPBAT Sukabumi sampai ukuran induk.  Pada awal bulan Desember ukurannya sudah menjadi induk tetapi jumlahnya berkurang menjadi 47 ekor.

      Hasil pemijahan pada progeny test I hanya 41 ekor yang memijah dan menghasilkan keturunan.  Anakan pada setiap individu induk yang dipijahkan dibagi menjadi dua sub populasi satu sub populasi sebanyak 100-600 ekor larva di-feminisasi untuk membuat populasi betina YY, sedangkan satu sub populasi lagi masing-masing sebanyak 87-800 ekor larva dipelihara secara normal didalam hapa sebagai bahan untuk membuat populasi jantan YY .

      Hasil benih pembesaran pada progeny test I digunakan untuk verifikasi masing-masing induk betina hasil feminisasi pertama.  Berdasarkan hasil identifikasi kelamin secara visual pada turunan hasil progeny test tersebut diperoleh nisbah kelamin.  Nisbah kelamin jantan yang mencapai atau mendekati 70% hanya diperoleh pada turunan 5 ekor induk dari total induk yang diprogeny sebanyak 41 ekor.

      Proses progeny test I ini membutuhkan waktu yang lama, karen harus memelihara dari ukuran larva sampai ukuran matang kelamin, yaitu ukuran > 50 gram per ekor.  Ikan jantan turunan 5 induk XY tersebut selanjutnya dipelihara sampai matang gonad dan disiapkan untuk diverifikasi pada tahap progeny test II untuk mengidentifikasi jnatan YY.

    1. Progeny test II

      Pada proses pemijahan progeny test II jumlah induk jantan yang diduga mengandung individu Jantan YY sebanyak 52 ekor yang meliputi 39 ekor dari populasi induk dengan kode 2.14; dan 4 ekor dari populasi induk dengan kode 2.13; serta 14 ekor populasi dengan kode 2.6.  Jumlah populasi larva yang telah dihasilkan dari masing-masing populasi induk 2.14 sebesar 35.889 ekor dengan rataan hasil larva sekitar 816 ekor per individu induk jantan, dari populasi 2.13 sebesar 838 ekor dengan rataan sebesar 210 ekor per individu induk jantan, dan dari populasi 2.6 sebesar 12.108 ekor dengan rataan 865 ekor per individu induk jantan.

      Adapun jumlah induk betina yang digunakan berasal dari satu populasi induk betina normal yang terdiri dari 160 ekor.  Namun demikian jumlah induk betina yang mati pada waktu pemijahan mencapai lebih dari 50% ekor.

      Pada proses pendederan ini telah dihasilkan dua populasi benih keturunan dari individu masing-masing populasi yang dipelihara didalam hapa di kolam.  Populasi benih pertama yang telah dipanen untuk diperiksa gonadnya sebanyak 10.276 ekor dari penebaran larva sebanyak 24.949

      Populasi benih pertama ini sebagian besar berasal dari turunan 38 ekor individu jantan populasi induk dengan kode 2.14; dari turunan 14 ekor individu jantan populasi induk dengan kode 2.6; dan dari turunan 4 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.13. Sisanya berupa ppuasi benih kedua masih dalam proses pemeliharaan didalam hapa menunggu proses pemeriksaan gonad yang diperkirakan sebanyak 5000 ekor dari penebaran larva sebanyak 12000 ekor.  Populasi benih kedua masing-masing berasal dari turunan 13 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.14 dan dari turunan 2 ekor individu jantan dari populasi induk dengan kode 2.6.

    1. Progeny test III

      Pada proses pemijahan progeny test III jumlah induk betina yang diduga mengandung individu YY sebanyak dua populasi, yaitu dari populasi 2.6 dan populasi 2.13.  Masing-masing terdiri dari 12 ekor dan 13 ekor yang di progeny test.

      Jumlah larva yang telah dihasilkan dari masing-masing populasi populasi 2.6 sebesar 8.359 ekor dengan rataan hasil larva sekitar 816 ekor per individu induk jantan, dari populasi 2.13 sebesar 17.237 ekor.

      Pada proses pendederan untuk progeny test III dihasilkan dua populasi benih yang dipelihara didalam hapa di kolam.  Populasi benih pertama yang telah dipanen untuk diperiksa gonadnya sebanyak 2.876 ekor dari penebaran larva sebanyak 6.208

      Populasi benih pertama ini hanya berasal dari turunan 9 ekor individu betina populasi 2.6. Sisanya berupa 16 populasi benih kedua, masih dalam proses pemeliharaan didalam hapa menunggu proses pemeriksaan gonad yang diperkirakan sebanyak 9000 ekor dari penebaran larva sebanyak 19.388 ekor.  Populasi benih kedua masing-masing berasal dari turunan 3 ekor individu betina dari populasi induk dengan kode 2.6 dan dari turunan 14 ekor individu betina dari populasi induk dengan kode 2.13.

    1. Pemeriksaan gonad progeny test II

      Berdasarkan hasil pemeriksaan gonad terhadap benih keturunan populasi benih keturunan 52 individu jantan dari kelompok populasi 2.14; 2.13; dan 2.6, pada progeny test II telah menghasilkan 14 individu jantan YY yang masing-masing terdiri dari 12 ekor berasal dari populasi induk jantan 2.14 dan 2 ekor berasal dari dari populasi induk jantan 2.6.

      Pemeriksaan gonad menghasilkan data berupa nisbah kelamin jantan dan betina.  Nisbah kelamin turunan Jantan YY berkisar antara 90 – 100% atau dengan rataan sebesar 97,09% ± 3,58.  Sedangkan nisbah kelamin jantan normal yang berkromosom XY berkisar antara 40 – 88% dengan rataan 66,08 ± 15,38.  Walaupun secara genetis benih keturunan jantan YY terdiri dari 100% jantan, tetapi karena terjadi pembiasan genetik, maka menurut Sumantadinata 2004 (kompri), benih turunan induk jantan YY mempunyai proporsi jantan antara 90 – 100%.

      Nisbah kelamin yang bias dari 100% jantan sebagaimana yang diperkirakan oleh hipotesa, dan hanya menghasilkan monosek jantan 97,09% ± 3,58.  Penomena yang sama juga juga sesuai dengan hasil penelitian Mair et al. (1991a) yang mendapatkan hanya satu betina dalam turunan salah satu dari empat jantan YY yang diuji progeny.  Tetapi Scott et al. (1989), tidak medapatkan betina samasekali dari 285 ekor turunan dari satu ekor individu jantan YY yang disilangkan dengan 10 ekor betina.  Hal yang sama juga diperoleh Varadaraj and Pandian (1989) dalam hasil penelitiannya yang tidak menemukan individu betina diantara keturunan betina ‘YY’ females ikan Mujaer O. mossambicus.  Pengamatan dalam uji progeny populasi jantan dengan jumlah indidu yang banyak dapat menghasilkan keturunan jantan hasil progeny test lebih dari 95% (Mair et al. 1997). Sebenarnya tidak ada kecendrungan yang jelas dalam kejadian penyimpangan sex ratios yang ditunjukkan oleh adanya segregasi atau pemisahan dari satu autosomal sex yang memodifikasi locus, ini sebagai sebuah dalil saja untuk ikan nila (Hussain et al. 1994) dan Mair et al. 1991b telah membuktikan pada jenis O. aureus.

    1. Pemeriksaan Gonad pada progeny test III

      Berdasarkan hasil pemeriksaan gonad terhadap benih keturunan populasi benih keturunan 8 individu betina dari kelompok populasi 2.6, pada progeny test III baru menghasilkan 1 ekor individu betina YY dan 2 ekor individu betina XY yang semuanya berasal dari populasi induk betina 2.6.

      Pemeriksaan gonad menghasilkan data berupa nisbah kelamin jantan dan betina.  Nisbah kelamin turunan betina YY sebesar 98%.  Sedangkan nisbah kelamin betina yang berkromosom XY sebesar 71% dan 87%.  Seperti halnya pada hasil turunan jantan YY, pembiasan nisbah kelamin dari 100% jantan sebagaimana hipotesa disebabkan karena oleh adanya segregasi atau pemisahan dari satu autosomal sex yang memodifikasi locus sebagaimana halnya telah dialami oleh penelitian sebelumnya.

      Individu XY yang diperoleh dapat digunakan untuk menghasilkan kembali individu YY dengan cara disilangkan kembali dengan Jantan YY yang telah dihasilkan.  Berdasarkan hypotesa hasil persilangan tersebut akan menghasilkan 100% benih jantan yang terdiri dari 25% jantan yang berkromosom XY dan 75% jantan berkromosom YY.  Melalui satu tahap progeny test akan diperoleh individu jantan YY.

    1. Perbanyakan induk YY

      Keterbatasan jumlah individu YY yang dihasilkan baik induk jantan maupun betina mememrlukan tahap perbanyakan sebelum melakukan produksi massal.  Perbanyakan telah dilakukan dengan memijahkan induk jantan hasil progeny test II dengan induk betina YY hasil progeny test III.  Sejak bulan Oktober 2005 sampai Mei 2006 telah dilakukan 6 kali pemijahan.  Hasil pemijahan I dan II telah dihasilkan induk jantan YY sebanyak 490 dan 768 ekor, masing-masing berukuran antara 150 – 200 gram, dan induk betina YY sebanyak 17 dan 110 ekor, masing-masing berukuran 100 – 150 gram.  Pada jantan YY hasil perbanyakan ditemukan individu pseudomale, yaitu individu betina yang alat kelaminnya jantan, masing-masing sebesar 24,36 % dan 28,57%.  Penyimpangan ini mungkin disebabkan karena adanya pengaruh lingkungan pada saat pemeliharaan larva. Kisaran suhu air media pemeliharaan larva yang lebih rendah dari normal, berkisar antara 22 – 23oC, yang mempengaruhi differensiasi sex larva, sehingga terjadi pengarahan kelamin menjadi betina.  Temperatur air media pemeliharaan akan mempengaruhi proses biokimia, seperti aktivitas aromatase dan sistesis estradiol (Crews dan Bergeson,  1994; dan Crews 1996).  Sekresi estradiol pada ikan mas dapat mencapai 20 kali lipat pada kisaran temperatur rendah (Maning dan Kime 1984).  Pada ikan nila peningkatan temperatur dapat menurunkan kandungan estradiol (Kitano et al.  1999).

      Perbanyakan selanjutnya tahap III sampai VI telah menghasilkan benih ukuran 12 + 1,8 cm sebanyak 700 ekor, ukuran 3,0 + 0,8 cm sebanyak 2000 ekor, dan ukuran 4,0 + 100 ekor, yang masing-masing dipelihara di dalam bak dan hapa.

    1. Uji produksi masal

      Induk jantan YY dan induk betina YY yang berbeda generasi dipijahkan secara alami dengan perbandingan 70 ekor jantan dan 90 ekor betina.  Pemijahan baru dilaksanakan satu kali dan telah menghasilkan benih berukuran 2-3 cm.  Benih tersebut saat ini dipelihara dalam unit resirkulasi dan suhu air dipertahankan pada level 26oC.  Benih yang dihasilkan berasal dari hasil penetasan telur yang dipanen dari induk betina yang sedang mengeram.  Jumlah induk yang memijah mencapai 32% dari total populasi betina yang dipijahkan.

             KESIMPULAN DAN SARAN

    1. Kesimpulan

      Berdasarkan hasil pengamatan menunjukan bahwa:

  • Progeny test I untuk verifikasi terhadap populasi betina hasil feminisasi hanya menghasilkan lima ekor induk betina XY.
  • Progeny test II untuk verifikasi jantan YY baru dilakukan terhadap 52 ekor individu jantan dari dua kelompok populasi jantan turunan betina XY dan menghasilkan 17 induk jantan YY.
  • Progeny test III untuk verifikasi betina YY telah dilakukan terhadap 25 ekor individu induk betina dari dua kelompok populasi betina hasil feminisasi tahap dua turunan betina XY dan menghasilkan 3 ekor induk betina YY.
  • Verifikasi induk YY berdasarkan hasil sex ratio anakan yang masing-masing sebesar 97,09 + 3,58% jantan turunan jantan YY dan 98 % jantan untuk turunan betina YY.melalui pemeriksaan jaringan gonad.
  • Perbanyakan induk YY telah dilaksanakan dengan 6 kali pemijahan dan telah menghasilkan 1158 ekor jantan YY dan 127 ekor betina YY.  Disamping itu ada Pseudomale sebanyak 24,36 % dan 28,57%.
  • Uji coba produksi masal baru dilakukan pada 70 ekor jantan YY dan 90 ekor betina YY hasil perbanyakan dan turunannya masih berupa benih jantan YY ukuran 2-3 cm.
    1. Saran-saran
  • Perlu dilakukan uji coba produksi benih GMT turunan induk jantan YY hasil perbanyakan yang dipasangkan dengan induk betina dari berbagai strain untuk mengetahui efektivitas Induk Jantan YY
  • Produksi jantan YY dapat didistribusikan sebagai induk pada saat ukuran benih.
  • Sebagai pasangan induk jantan YY perlu dibuat metoda untuk memproduksi benih monosek betina.
  1. DAFTAR PUSTAKA
  •  Abucay, J. S. and Mair, G. C.. In press. Methods of identifying males with YY genotype in Oreochromis niloticus L. In: Proceedings of the Second AADCP International Workshop on Genetics in Aquaculture and Fisheries Management, Phuket, Thailand, Nov. 7-11, 1994.
  •  Alvendia-Casauay, A. and Carino, V. S. 1988. Gonadal sex differentiation in Oreochromisniloticus. In: ICLARM Conference Proceedings, 15: The Second International Symposium on Tilapia in Aquaculture. Edited by R. S. V. Pullin, T. Bhukaswan , K.Tonguthai, and J. L. Maclean. Department of Fisheries, Thailand and International Center for Living Aquatic Resources Management, Bangkok, Thailand and Manila, Philippines. pp. 121-124.
    • Baroiller, J-F., and Jalabert, B. 1989. Contribution of research in reproductive physiology to the culture of tilapias. Aquat. Living Resour. 2: 105-116.

    Crews, D. 1996. Temperature-dependent sex determination: the interplay of steroid hormones and temperature. Zool. Sci. 13: 1 – 13.

    • Crews, D. and J.M. Bergeron. 1994. Role of reductase and aromatase in sex determination in the red-eared slider (Trachemys scripta), a turtle with temperature-dependent sex determination. J. Endocrinol. 143: 279–289.
  •  Feist, G., C.G. Yeoh, M.S. Fitzpatrick and C.B. Schreck. 1995. The production of functional sex-reversed male rainbow trout with 17α-μετηψλτεστοστερονε ανδ 11b-hydroXYandrostenedione. Aquaculture 131:145–152.
  •  Fitzpatrick, M.S. and C. Schreck. 1999. Masculinization of tilapia by immersion in trenbolone acetate, pp. 10–13. In Pond Dynamics/Aquaculture Collaborative Research Support Program Ninth Work Plan. Pond Dynamics/Aquaculture CRSP, Oregon State University, Corvallis, Oregon.
  •  Gale, W.L., M.S. Fitzpatrick, M. Lucero, W.M. Contreras-Sánchez and C.B. Schreck. 1999. Masculinization of Nile tilapia (Oreochromis niloticus) by immersion in androgens. Aquaculture 178: 349–357.
  •  Guerrero III, R. D. and Shelton, W. L. 1974. An aceto-carmine squash method of sexing juvenile fishes. Prog. Fish Cult. 36: 56.
  •  Hussain, M. G., McAndrew, B. J., Penman, D. J. and Sodsuk, P. 1994. Estimate genecentromere recombination frequencies in gynogenetic diploids of Oreochromis niloticus (L.) using allozymes, skin colour and a putative sex-determination locus (SDL-2). In: Genetics and Evolution of Aquatic Organisms. Edited by A. R. Beaumont. Chapman and Hall, London, UK. pp. 502-508.
  •  Kitano, T., Takamune, K., Kobayashi, T., Nagahama, Y., Abe, S.-I., 1999. Suppression of P450 aromatase gene expression in sex-reversed males produced by rearing genetically female larvae at a high water temperature during a period of sex differentiation in the Japanese flounder (Paralichthys olivaceus). J. Mol. Endocr. 23, 167-176.
  •  Mair, G.C., Abucay, J.S., Skibinski, D.O.F., Abella, T.A., Beardmore, J.A.  1997 Genetic manipulation of sex ratio for the large scale production of all-male tilapia Oreochromis niloticus L. Canadian Journal of Fisheries and Aquatic Sciences, 54(2): 396-404.
  •  Mair, G. C., Abucay, J. S., Beardmore, J. A., and Skibinski, D. O. F. 1995. Growth
  •  performance trials of genetically male tilapia (GMT) derived from ‘YY’ males in Oreochromis niloticus L.: On-station comparisons with mixed sex and sex reversed male populations. Aquaculture 137: 313-322.
  •  Mair, G. C., Scott, A., Penman, D. J., Beardmore, J. A., and Skibinski, D. O .F. 1991. Sex determination in the genus Oreochromis I: Sex reversal, gynogenesis, and triploidy in O. niloticus L. Theor. Appl. Genet. 82: 144-152.
  •  Mair, G. C., Scott, A., Penman, D. J., Skibinski, D. O .F., and Beardmore, J. A.. 1991b. Sex determination in the genus Oreochromis II: Sex reversal, hybridisation, gynogenesis and triploidy in O. aureus Steindachner. Theor. Appl. Genet. 82: 153-160.
  •  Piferrer, F. and E.M. Donaldson. 1989. Gonad differentiation in coho salmon, Oncorhynchus kisutch, after a single treatment with androgen or estrogen at different stages during ontogenesis. Aquaculture 77: 251–262.
  •  Scott, A. G., Penman, D. J., Beardmore, J. A., and Skibinski, D .O .F. 1989. The ‘YY‘supermale in Oreochromis niloticus (L.) and its potential in aquaculture. Aquaculture 78: 237-251.
  •  Trombka, D., and Avtalion, R.R. 1993. Sex determination in tilapia – a review. The Israeli Journal of Aquaculture-Bamidgeh 45: 26-37.
  •  Varadaraj, K., and Pandian, T. J. 1989. First report on production of supermale tilapia by integrating endocrine sex reversal with gynogenetic technique. Curr. Sci. 58: 434-441.
  •  Yang, Y., Zhang, Z., Lin, K., Wei, Y., Huang, E., Gao, A., Xu, Z., Ke, S., and Wei, J. 1980. Use of three line combination for production of genetic all-male tilapia mossambica. Acta Scientica Sinica. 7: 241-246.

Bahan pemaparan pada seminar Indoaqua 2006 di Jakarta, 3-6 Agustus 2006

 Dari : Balai Besar Pengembangan Budidaya Air Tawar Sukabumi 2006

About these ads