Warna-warni karang tumbuh menjulang di dasar laut seperti tajuk-tajuk pohon hutan yang rimbun. Berbagai jenis ikan warna-warni melayang-layang di atas hamparan terumbu karang, indah sekali. Namun kalau lagi apes bisa-bisa tersengat karang api, kena racun sirip ikan lepu, diserang barakuda atau hiu ganas. Berikut ini pengalaman wartawan Intisari, A. Hery Suyono, selama dua minggu menyelam bersama para relawan yang melakukan survai kelautan pada Operasi Wallacea.

“Ini penyelaman paling sulit,” kata Rory McAvely, pimpinan Operasi Wallacea periode Oktober – November 1996, sehabis menyelam di perairan utara P. Hoga. Pada kedalaman antara 10 m dan 15 m, arus kuat mengempas dari arah depan. Delapan penyelam yang ikut berpartisipasi dalam survai kelautan dibuat tidak berdaya. Belum sempat berbalik arah, muncul arus dari atas mendorong paksa ke dasar laut. Mak peng, gendang telinga serasa ditampar karena tekanan di dalam air berubah mendadak. Saat datang lagi arus kuat dari arah samping kanan dan kiri, kami yang menyelam berpasang-pasangan kocar-kacir. Target menyelam sedalam 25 m di bawah permukaan laut gagal.

“Jangan berkecil hati, dengan pengalaman ini kamu akan mampu menyelam lebih baik di tempat lain. Arus sangat kuat membuat kita sulit mengendalikan arah,” ujar Rory membesarkan hati saya. Arus di perairan Kepulauan Wakatobi (Pulau Wangi-wangi, P. Kaledupa, P. Tomia, P. Binongko), Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara, memang cukup ganas. Gugusan 13 pulau dan 7 atol itu dulu lebih dikenal sebagai Kepulauan Tukangbesi, di sisi barat Laut Banda.

Terpilihnya kawasan Wakatobi sebagai lokasi survai kelautan karena terumbu karangnya beragam jenis dan masih asli. Selain bisa menjadi lokasi penyelaman kelas dunia, sebagian besar kehidupan bawah laut di kawasan ini bersifat endemis. Ikan paus, hiu, lumba-lumba, ikan pari, berbagai jenis ikan dan hewan lain serta tumbuhan hidup berdampingan dengan beraneka jenis karang.

“Sekitar 35% dari jumlah spesies ikan di dunia berada di kawasan Wallacea, meliputi perairan sekitar Sulawesi, Maluku, Nusa Tenggara sampai Timor Timur. Berbagai jenis ikan berbiak di sana, sebelum menyebar ke mana-mana,” kata Michael Ferris, dari Dinas Perikanan Australia Barat berkedudukan di Perth, yang ambil bagian dalam Operasi Wallacea.

Operasi Wallacea diambil dari nama Alfred Russel Wallace, ilmuwan Inggris yang pertama kali mengumumkan bahwa hewan yang hidup di Sulawesi, Halmahera, dan Sunda Kecil amat berbeda dengan binatang yang hidup di Kalimantan, Bali, dan Irian, meski secara geografis berdekatan. Operasi ini merupakan proyek kerja sama antara Yayasan Pengembangan Wallacea (Jakarta), Departemen Kehutanan (Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (Puslitbang Biologi dan Oseanologi) dan Ecosurveys Ltd. (Inggris).

Proyek nirlaba ini diprakarasai Hongkong Bank melalui program Care-for-Nature sebagai upaya perlindungan dan pelestarian alam. Sesungguhnya merupakan survai ekologi, meliputi survai burung di P. Buton dan survai terumbu karang di perairan Wakatobi, yang berlangsung selama tiga tahun (1995 – 1997). Ahli burung dan ahli biologi kelautan, dibantu tenaga sukarela dari seluruh dunia mengumpulkan data berbagai macam hewan dan tumbuhan yang teracam kepunahan. Survai kelautan mengumpulkan data mengenai status dan persebaran terumbu karang dan ikan di perairan Kepulauan Wakatobi. Data yang terkumpul akan digunakan oleh pemerintah Indonesia untuk prasarana pembentukan cagar alam hewan liar dan terumbu karang di Sulawesi Tenggara.

Kursus kilat menyelam
Sejak Juni 1995 sampai awal November 1996, sekitar 150 penyelam relawan dari 19 negara berpartisipasi dalam Operasi Wallacea. Kebanyakan dari Eropa, lalu Selandia Baru, Australia, AS, Kanada, dan Asia (Malaysia, Singapura). Dari Indonesia sedikit yang berminat menjadi penyelam relawan. Sejauh ini baru tercatat tiga orang.

Hoga, pulau kecil dan indah dengan separuh lebih pantainya berpasir putih, menjadi base camp Operasi Wallacea. Letaknya jauh dari ibu kota Sulawesi Tenggara, Kendari, + 15 jam ditempuh Motor Vessel (MV) Empress, kapal motor pendukung Operasi Wallacea berkecepatan 9 knot. Selama survai para ilmuwan bidang kelautan dan penyelam tinggal di sebuah bangunan panggung berkapasitas 20-an orang.

Ruang terbuka di lantai atas rumah panggung yang dilengkapi tiga buah kursi kayu panjang dan meja panjang dipakai untuk tempat “kursus kilat”. Belasan penyelam asing dengan serius mendengarkan pengarahan dan penjelasan dari para ilmuwan bidang kelautan dari Inggris, Jerman, dan Australia, dibantu ahli kelautan dari LIPI. Briefing dan training diberikan selama empat hari, meliputi pengenalan atau indentifikasi jenis biota laut (karang, spesies ikan, tumbuhan dasar laut, dsb.), juga tentang metode survai. Adakalanya disertai dengan presentasi visual lewat gambar slide. Juga diajari menaksir ukuran ikan di dalam air. Maklum mereka umumnya bukan berlatar belakang ilmu kelautan.

Meski sudah mahir menyelam, para relawan juga memperoleh latihan menyelam untuk disetarakan dengan standar PADI (Profesional Association Diving Instructors) di bawah bimbingan instruktur selam yang rata-rata berpredikat master dengan ribuan jam selam.

Dengan bekal kursus kilat itu, para penyelam dianggap siap mencebur ke laut untuk melakukan pendataan di dasar laut, meski masih didampingi satu dua ahli kelautan. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, yang secara bergantian menyelam di perairan sekitar P. Hoga dan di perairan terpecil tapi masih di kawasan Kepulauan Wakatobi.

Kegiatan penyelaman untuk survai dilakukan dua kali sehari, pukul 10.00 dan 14.00 Wita. Adakalanya juga menyelam pada malam hari di sekitar P. Hoga. Pada giliran menyelam di perairan sekitar pulau paling ujung selatan (+ 8 jam naik KM Empress dari Hoga), misal P. Cawo Cawo dan P. Moromaho, mereka mesti tinggal di atas KM Empress selama tiga hari tiga malam. Untuk mendukung survai terumbu karang yang letaknya terpencil, kapal motor berukuran 75 kaki ini dilengkapi alat penentu posisi yang mengandalkan satelit (GSP – Global Positioning System).

Tiap kali terjun ke dasar laut, selain mengenakan perlengkapan selam standar mereka dibekali peralatan untuk survai, seperti pita, “papan tulis” plastik berukuran 20 x 30 cm untuk mencatat data.

Penyelaman untuk pengumpulan data biota laut dilakukan pada kedalaman 5 m, 12 m, dan 18 m. Setiap kali survai dibutuhkan waktu sekitar 50 menit. Masing-masing pasangan penyelam langsung terjun pada kedalaman 18 m dan mulai melakukan pendataan selama 10 menit. Kemudian mereka bergerak ke kedalaman 12 m untuk mendata selama 2 x 10 menit, masing-masing mencakup bidang pengamatan sekitar 2 m ke atas dan 2 m ke bawah. Dua kali 10 menit terakhir, mereka melakukan pendataan pada kedalaman 5 m, sebelum kemudian muncul ke permukaan laut. Selain terumbu karang, jenis dan ukuran ikan, serta biota laut lain, mereka juga mengukur suhu dan salinitas air laut.

Masuk belantara laut
Menyelam ke dasar laut seolah-olah memasuki hutan belantara bawah laut. Berbagai jenis karang keras maupun lunak yang hidup berkoloni ataupun soliter membentuk seperti tajuk pepohonan. Dasar laut yang rata, landai, dan yang berupa cekungan membentuk ngarai-ngarai dengan dinding terjal bergua-gua.

Karang keras sebenarnya terbentuk oleh binatang-binatang kecil dan berumah sekeras batu karena tersusun dari lapisan kapur (kalsium karbonat). Berbeda dengan karang lunak yang lembek dengan nematosit untuk melumpuhkan mangsa. Dari bentuknya, ada karang bercabang-cabang, karang padat, karang kerak, karang meja, karang daun yang berlembar-lembar, dan karang jamur, dengan bermacam-macam ikan berseliweran di atasnya.

Di bawah sana ada kehidupan siang dan malam. Karang “siang” nampak indah pada siang hari. Umpamanya, Goneophora sp., jenis karang keras dengan tentakel (tangan) yang pada siang hari menjulur dan aktif menangkap plankton-plankton untuk dimangsa. Saat malam tiba, tentakel-tentakel itu disembunyikan di balik mangkuknya. Sementara ada karang yang bila disorot lampu di malam hari kelihatan biru menyala. Karang lunak Nepthya sp. lebih aktif pada malam hari. Millepora sp., jenis karang yang seakan-akan menyala pada bagian ujungnya.

Anemon yang memiliki zat beracun berkawan mesra dengan ikan anemon (Amphiprion sp.). Ikan-ikan kuning oranye dengan strip putih vertikal suka berenang di antara tentakel anemon. Di dasar laut berpasir nampak binatang merayap berbentuk bintang merah dan biru. Bintang laut biru (Linckia laevigata) juga bisa ditemui di perairan dangkal dan kelihatan jelas bila air surut. Hampir tidak dikenali, sejenis ikan mirip ikan sapu-sapu besar (Orectolobidae) ngumpet di bawah karang. Cacing laut dan macam-macam udang warna-warni merayap pelan di celah-celah dasar karang.

Sementara itu ikan kupu-kupu yang warna-warni indah menari-nari di sela-sela karang. Ikan jenis ini kebanyakan hidup di terumbu karang, dan beberapa mampu beradaptasi di perairan yang hangat dan dalam. Paling banyak terkonsentrasi di terumbu karang di perairan Indonesia. Misalnya, Chaetodon burgessi yang bergaris-garis hitam, C. ocellicandus dengan totol di bagian ekornya, dan C. melannotus dengan bagian punggung hitam.

Tingginya kadar garam dan bertambahnya kedalaman menjadikan air nampak keruh dan gelap. Di cekungan dasar laut yang lebih dalam, serombongan ikan besar kecil yang melintas di depan mata cuma kelihatan samar-samar. Kecuali jenis ikan emperor (Lethrinus microdon) karena bersisik putih mengkilap keperak-perakan.

Alga tak terhitung jenisnya; yang warna hijau, merah, merah kecoklatan. Jenis bunga karang (Porifera) juga warna-warni. Antara lain, Stylotella aurantium seperti rumah tawon, Acanthella klethra persis rumah rayap yang berwarna kuning.

Di balik keindahan sosok makhluk laut tidak sedikit yang beracun, adakalanya mengakibatkan luka fisik, bahkan mematikan. Karang api, contohnya, bisa melepuhkan kulit kalau tersentuh. Ikan aneh-aneh pun bisa jadi beracun. Ikan lepu yang menyaru di bawah karang keras, umpamanya, akan mengeluarkan racun yang berbahaya bila siripnya yang berumbai-rumbai tersentuh. Ikan jenis ini banyak hidup di perairan tropis Indo-Pasifik dari Afrika Selatan sampai Pasifik Barat, termasuk juga Asia Tenggara. Mereka hidup pada kedalaman 1 – 50 m. Biasanya di gua atau dekat kepala karang. Ada yang berlurik zebra, ada juga yang berwarna gelap.

Ular laut belang putih hitam (Laticauda sp.) melayang gemulai di dalam air kemudian buru-buru masuk di lubang karang. Ular ini sensitif selagi musim kawin dan menyerang bila diganggu. Kekuatan bisanya melebihi king cobra. Hiu kepala martil tergolong jenis ikan ganas. Dari 250 – 300 jenis hiu, terdapat 10 – 15 jenis tipe menyerang. Dengan sensor getar di dekat moncong hidungnya, ikan hiu mampu mengendus bau darah dari jarak berkilo-kilo meter. Ikan barakuda yang menyukai benda-benda mengkilap tanpa basa-basi akan langsung menyergap, berbeda dengan ikan hiu yang mengitari calon mangsanya sebelum menyerang. Beruntung kami tidak sempat ketemu ikan-ikan galak itu.

Rusak oleh bom napoleon
Perairan Wakatobi menjadi surganya berbagai jenis binatang dan tumbuhan laut. “Jenis ikan dan karangnya lebih bervariasi dibandingkan dengan tempat lain di Indonesia. Hanya saja arus di perairan Wakatobi lebih kuat dan berbahaya. Taman Laut Bunaken bagus, tapi di Hoga lebih beragam. Sponge, karang lunak, dan tumbuhan bawah laut lainnya kelihatan seperti hutan belantara,” komentar Don Hasman, fotografer senior dari Jakarta yang berpengalaman lebih dari seratus kali menyelam, antara lain di Bunaken, Kepulauan Seribu, Aceh, Banda, Great Barrier Reef di Queensland, Australia Timur, serta Laut Tengah di Turki, ketika mengikuti survai kelautan Operasi Wallacea.

Sayang sekali keindahan pemandangan di bawah laut Wakatobi diselingi kerusakan terumbu karang di sana sini akibat ledakan bom para pemburu ikan. Demi keuntungan pribadi, mereka menangkap ikan dengan menggunakan bom rakitan sendiri atau racun sianida yang bisa mengganggu kelangsungan hidup makhluk yang ada di dalamnya.

Ledakan bom di dalam air nyaris terdengar 2 – 4 kali dalam sehari. Perairan menjadi keruh. Banyak ikan mati dan terumbu karang berantakan. Mereka hanya mengenakan kacamata kedap air saat meletakkan bom pada kedalaman 8 – 15 m. “Ledakan bom bisa merusak habitat terumbu karang sampai radius 3 – 4 m. Terumbu karang hancur berpuing-puing,” jelas Sugiyanta, S.Si. yang sejak Juli 1996 oleh LIPI ditugaskan sebagai asisten ahli bidang kelautan pada Operasi Wallacea.

Dari beberapa lokasi yang telah disurvai, dijumpai terumbu karang hancur berantakan akibat ledakan bom yang terjadi sekitar 2 – 3 tahun terakhir. Berdasarkan data sementara dari survai terumbu karang sepanjang 350 km yang sudah diamati dari keseluruhan area sepanjang 600 km, kerusakan terumbu karang di kawasan area Operasi Wallacea mencapai rata-rata 16%. Untuk memulihkan kembali perlu waktu sangat lama, 20 – 30 tahun. Karena pertumbuhan karang amat lamban, 3 – 4 mm per tahun. Itu pun dengan syarat kondisi perairan mesti cukup baik, misalnya bebas pencemaran.

Kegiatan perusakan terumbu karang semacam itu masih tetap berlangsung secara terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Gara-garanya ikan napoleon yang bernilai komersial tinggi. Perusahaan kapal ikan lokal maupun asing menampung hasil tangkapan nelayan di Kepulauan Wakatobi kemudian mengekspornya hidup-hidup atau mati ke Taiwan, Hongkong, dan Singapura. Di sana ikan napoleon, kerapu, dan juga lobster dijual sebagai hidangan lezat restoran Cina dengan harga sangat mahal. Malahan baru-baru ini Restoran Newton Court Seafood di kawasan Cause Bay, Hongkong, membeli ikan kerapu berbobot 230 kg seharga HK$ 80.000. Ikan yang ditangkap dari perairan Indonesia itu dipotong-potong dan dimasak untuk disajikan kepada para pengunjung restoran tersebut (South China Morning Post, 1 Desember 1996).

Mereka juga memburu hiu untuk diambil siripnya. Yang juga dieksploitasi dari perairan Wakatobi adalah tripang, kima (sejenis kerang raksasa), penyu, dan kepiting kenari atau kepiting kelapa (Birgus latro), yang umumnya untuk komsumsi lokal. Tapi belakangan ikan kupu-kupu diburu juga.

“Sebelum diekspor, ikan-ikan tersebut oleh perusahaan kapal ikan di bawa ke Ujungpandang. Berjibun ikan napoleon hidup dan juga ikan komersial lain ditampung dalam tambak besar,” tutur Sugiyanta yang sempat melacak ke sana.

“Dalam dua sampai tiga bulan, satu perusahaan kapal ikan bisa mengumpulkan sekitar 4 ton ikan. Selain membeli ikan hasil tangkapan nelayan, dalam praktiknya mereka juga menangkapi ikan di sekitar perairan Wakatobi dengan menggunakan bius,” kata Antang Hasran, mantan pekerja perusahaan kapal ikan asing.

Tiga petugas PHPA, Mustafa, Made, dan Rewangi, dengan satu unit perahu patroli “Anoa” bermesin 85 PK agak kewalahan menjaga perairan Wakatobi seluas 1.390.000 ha, yang sejak 30 Juli 1996 dinyatakan sebagai Taman Nasional, berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan RI No. 393/Kpts-VI/1996. Akibatnya, kawanan pencuri ikan bermain kucing-kucingan dengan petugas. Repotnya lagi, para pencuri konon dibeking oknum yang mestinya turut menjaga kelestarian kawasan itu.

Akan menjadikan Wakatobi sebagai kawasan wisata selam berkelas dunia, tinggal tunggu waktu!

dari : indomedia.com/intisari/1997/jan

rumah

About these ads