karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

PROSES BUDIDAYA BANDENG

Bandeng konsumsi pada dasarnya dihasilkan melalui tiga tahap budidaya yakni pembenihan, pendederan dan pembesaran. Gambar 4.1 menyajikan tahap kegiatan budidaya bandeng dan produk yang dihasilkan.

Gambar 4.1 Tahapan Budidaya Bandeng Konsumsi

Keterangan: Bidang persegi : proses
Bidang oval : output
Bandeng konsumsi dihasilkan dari tambak pembesaran. Bibit tambak pembesaran adalah glondongan yang dihasilkan dari tambak pendederan. Tambak pendederan memelihara nener yang dihasilkan oleh pembenihan.

Teknologi pemeliharaan bandeng dapat dilakukan secara tradisional, semi intensif dan intensif. Sementara pola pemeliharaannya bisa monokultur dan polikultur. Terkait dengan tahap budidaya, teknologi yang digunakan dan pola pemeliharaannya maka terdapat berbagai variasi budidaya yang dapat dipilih, Tabel 4.1 menyajikan variasi budidaya bandeng.

Tabel 4.1.
Berbagai Variasi Budidaya Bandeng

Tahap Pemeliharaan

Pola  Pemeliharaan

Tradisional

Semi Intensif

Intensif

Mono

Poli

Mono

Poli

Mono

Poli

Pembenihan

Ya

Ya

ya

Tidak

Ya

Tidak

Pendederan

Ya

Tidak

ya

Tidak

Ya

Tidak

Pembesaran

Ya

Ya

ya

Ya

Ya

Tidak

Pendederan dan
Pembesaran

 Ya

 Ya

 Ya

 Tidak

Tidak

Tidak

Sumber : Data primer

Pola pemeliharaan tradisional umumnya dilakukan secara monokultur dan polikultur untuk berbagai tahap pemeliharaan. Pola pemeliharaan secara intensif dan semi intensif pada umumnya dilakukan secara monokultur, tetapi dijumpai juga pengelolaan secara polikultur. Pola polikultur semi intensif umumnya tidak dilakukan dengan sesama ikan melainkan dengan hewan lain misalnya ayam. Berdasarkan kondisi optimal maka studi ini selanjutnya memfokuskan pada pola pemeliharaan intensif sebagai pola yang seharusnya dijalankan untuk mendapatkan hasil optimal. Uraian pada bab ini sebagian besar bersumber dari pustaka yang berhasil dihimpun.

TAMBAK BANDENG

a. Fisik Tambak

Bentuk tambak berbeda untuk setiap daerah dan setiap tahap budidaya yang dipilih. Di Jawa Timur bentuk fisik tambak relatif lebih rumit dibanding Jawa Barat. Gambar 4.2 adalah bentuk fisik tambak Jawa Timur untuk pengelolaan intensif yang dimulai dari pendederan. Petak pendederan digunakan untuk membesarkan nener sampai nener mencapai ukuran glondongan. Petak pembuyaran digunakan untuk memelihara glondongan dan petak pembesaran untuk memelihara bandeng sampai usia konsumsi. Petak peneneran juga berfungsi sebagai petak untuk melakukan panen. Petak pembagi air adalah petak yang pertama menerima air dari saluran irigasi selanjutnya air dibagikan ke petak lainnya. Saluaran air adalah irigasi (sungai) tempat tambak mengambil dan membuang air. Pada pinggiran tambak umumnya dibuat semacam selokan (lantai tambak lebih dalam dari lainnya) yang disebut caren. Caren berfungsi sebagai tempat bandeng berteduh ketika cuaca panas dan penampung lumpur.

Gambar 4.2 Tambak Model Jawa Timur

Jika budidaya hanya usaha pembesaran atau pendederan maka petak tambak hanya dua yakni petak pembagi air yang sekaligus berfungsi sebagai areal pemanenan dan tambak pemeliharaan. Demikian juga untuk tambak yang dikelola secara tradisional, walaupun budidaya dimulai dari menebar nener namun tidak dilakukan pemisahan untuk berbagai umur bandeng.

Pematang adalah bagian penting dari tambak yang berfungsi sebagai benteng ketika terjadi badai pasang, dan menjadi jalan untuk pengangkutan sarana produksi maupun hasil tambak. Dengan demikian yang terpenting dari pematang adalah kekuatan tambak, pada umumnya pematang utama dibangun dengan lebar antara 2 sampai 2,5 meter dengan ketinggian 0,5m diatas air pasang tertinggi. Sementara itu pematang antara bisa dibuat lebih sempit, umumnya 0,5 sampai 1,5 m dengan ketinggian sekitar 0,25m. Saluran air dibuat sedemikian rupa sehingga aliran air menjadi lancar.

Untuk membuat dan melengkapi tambak diperlukan beberapa bahan dan peralatan. Bambu dan pipa paralon adalah bahan yang diperlukan untuk membuat saluran air dari petak satu ke petak lainnya. Sementara di tambak juga terdapat peralatan yang diperlukan untuk kelancaran usaha antara lain, jaring hapa, seser/serok, ember plastik, tong fiber glass, keranjang, plastik lembaran, cangkul, arit, timbangan, linggis dan pompa air. Pada tambak pendederan diperlukan pula tabung gas untuk pengemasan saat panen. Perlengkapan tambak yang lainnya adalah rumah pandega/penjaga.

Foto 5 Tambak Pendederan Lengkap dengan Rumah Pandeganya

b. Syarat Lahan dan Air Tambak

Untuk mendapatkan hasil optimal maka air dan tanah yang digunakan untuk tambak harus memenuhi beberapa syarat. Tabel 4.2 menyajikan mutu air dan tanah optimal untuk pemeliharaan nener. Syarat teknis lahan dan air untuk pembesaran tidak berbeda dengan peneneran.

Tabel 4.2.
Mutu Air Optimal Bagi Pemeliharaan Nener di Petak Pendederan

Peubah

Ambang bawah

Kisaran atas

Optimum

Oksigen terlarut (mg/l)

Amoniak (mg/l)

Asam belerang (mg/l)

Bahan Organik total (mg/l)

pH

Temperatur(0C)

Salinitas (ppt)

Transparansi (cm)

2,0

0,0

0,000

10,0

7,5

26,0

20,0

30

-

0,1

0,001

30,0

9,0

32,0

35,0

50,0

Sekitar jenuh

0

0

15,0 – 20,0

8,0-8,3

29-30

29-32

35,0-40

Sumber : Ahmad dkk, 2002

c. Pengelolaan Tambak

Agar tambak berfungsi optimal maka tambak harus memenuhi syarat lingkungan biologi (Tabel 4.2), salah satu cara agar tambak dapat memenuhi syarat lingkungan biologi adalah melakukan pengelolaan tambak. Pengelolaan tambak meliputi pengolahan lahan dan pemberian unsur tambahan serta pengaturan pengairan.

(1). Pengolahan lahan
Tujuan pengolahan lahan tambak adalah: (a). Menghilangkan lumpur yang berlebihan terutama di daerah caren yang merupakan arena mengendapnya lumpur. (b). Menghilangkan bahan organik yang merugikan. (c). Menutup lubang-lubang yang biasanya ada disisi tambak yang bisa menjadi jalan masuk binatang pemangsa dan menjadi jalan keluar bagi bandeng. (d). Memacu pertumbuhan bahan makanan alami bandeng, untuk itu yang dilakukan adalah pengeringan tambak dan pembalikan lahan.

Pengolahan lahan dilakukan setiap habis panen (menjelang masa tebar berikutnya). Pengeringan yang dilakukan tergantung kepada kondisi lahan. Jika lahan dalam kondisi buruk pengeringan bisa dilakukan sampai tanah dasar menjadi pecah-pecah. Jika kondisi lahan normal maka pengeringan dilakukan sampai tanah terbenam 1 cm jika diinjak. Setelah pengeringan dilakukan pembalikan tanah melalui proses brojul (bahasa jawa).

(2). Perbaikan dan pengontrolan pH
Tujuan pengontrolan pH adalah untuk menormalkan asam bebas dalam air, menjadi penyangga dan menghindari terjadinya guncangan pH air/tanah yang mencolok, memberi dukungan kegiatan bakteri pengurai bahan organik dan mengendapkan koloid yang mengapung dalam air sehingga kejernihan air terjaga.

Perbaikan pH dilakukan dengan dua cara yakni melalui pengeringan dan pemberian kapur. Dengan pengeringan pH yang turun pada saat pemeliharaan dapat ditingkatkan kembali. Pemberian kapur dilakukan saat pengeringan yakni saat pembalikan lahan. Prosesnya, sebelum lahan dibalik (dibrojul) taburkan kapur kemudian dilakukan pembalikan lahan, dengan cara ini maka kapur akan tersebar merata. Untuk lahan yang berpasir maka 3 ton kapur untuk setiap ha lahan adalah optimal, tetapi jika lahan semakin liat maka kapur yang diperlukan semakin banyak.

(3). Pemupukan
Tujuan pemupukan adalah menumbuhkan makanan alami bandeng yakni klekap (lab-lab), lumut dan fitoplankton dan menjaga kecerahan air. Jika yang diharapkan tumbuh adalah klekap maka yang diperlukan adalah pupuk kandang dengan dosis 350 kg/ha. Untuk lumut diperlukan pupuk compund (NPK) dengan dosis 20 gram per m3 air. Untuk pedoman praktis pemberian dilakukan 2 minggu sekali dengan dosis 2 kg urea dan 15 kg TSP untuk setiap ha tambak. Untuk fitoplankton flagellata dan fitoplankton diatoma pemberian pupuk diberikan dengan perbandingan N dan P tertentu. Sebagai bahan makanan alami, fitoplankton diatoma lebih disukai oleh bandeng.

(4). Oksigen terlarut dan suhu air
Oksigen terlarut sangat penting untuk orgasnisme air, jika oksigen terlalu banyak maka akan ada gelembung di lamela bandeng sedangkan jika terlalu sedikit maka bandeng akan mati lemas. Oksigen paling rendah terjadi pada waktu pagi yakni sesaat setelah matahari terbit. Sementara oksigen tertinggi terjadi sekitar jam 14.00-17.00. Untuk menjaga oksigen dalam kondisi optimal perlu dilakukan pengadukan air sekitar jam 13.00-15.00 dan pada malam hari. Pengadukan dan penambahan oksigen bisa dilakukan dengan menggunakan aerator.

Oksigen dan suhu air saling berhubungan, pada saat suhu naik maka oksigen turun. Pada suhu 120C bandeng akan mati kedinginan. Untuk menjaga agar suhu dan oksigen dalam keadaan optimal dilakukan pembuatan caren, sehingga saat suhu tinggi bandeng bisa bersembunyi dalam caren yang relatif lebih dalam dengan suhu yang lebih rendah dan oksigen tercukupi.

(5). Amonia dan asam belerang
Dua zat ini terbentuk dari sisa pakan, kotoran ikan maupun plankton dan bahan organik tersuspensi. Kedua zat ini bersifat meracuni bandeng. Makin tinggi suhu kemungkinan makin besar kandungan kedua zat ini. Oleh karena itu penjagaan suhu air sangatlah penting. Cara lain untuk menghilangkan kedua zat ini adalah dengan melakukan pengadukan dan pembuatan caren, pergantian air dan pengeringan lahan.

(6). Salinitas
Salinitas adalah tingkat keasinan atau ketawaran air, walaupun bandeng termasuk hewan air yang relatif bandel tetapi jika budidaya dilakukan secara intensif maka tingkat salinitas harus diperhatikan. Pada salinitas optimal energi yang digunakan untuk mengatur keseimbangan kepekatan cairan tubuh dan air tambak cukup rendah sehingga sebagian besar energi asal pakan dapat digunakan untuk pertumbuhan.

Pengaturan salinitas bisa dilakukan dengan cara penambahan air tawar dengan bantuan aerator. Melalui pengaturan ini tingkat salinitas bisa dihitung dengan rumus berikut:

Dimana:
S1 adalah salinitas air tawar (ppt)
S2 adalah salinitas air laut (ppt)
S3 adalah salinitas air yang diharapkan (ppt)
M1 adalah massa air tawar (m3)
M2 adalah massa air asin (m3)

(7). Logam berat dan pestisida
Logam berat dan pestisida berasal dari limbah pabrik atau sawah yang telah menggunakan sistim perairan intensif sehingga menghasilkan residu zat kimia. Kandungan logam berat dan pestisida akan menyebabkan kematian bandeng secara masal. Jika bandeng tahan terhadap pencemaran ini dan tidak mati maka akan menyebabkan keracunan bagi mereka yang mengkonsumsi bandeng yang terkontaminasi. Solusi dari masalah ini hanya menjauhkan tambak dari sumber polusi.

(8). Hama dan penyakit
Ada empat golongan hama tambak yakni:

  1. Predator/pemangsa yang terdiri dari ikan buas dan liar, kadal, kepiting dan berang-berang
  2. Kompetitor/ pesaing yang terdiri dari ikan liar dan siput
  3. Hama yakni penggali organisme pelapuk kayu dan kerang-kerang.
  4. Penyakit parasiter, yakni penyakit yang disebabkan oleh virus bakteri dan protozoa. Penyakit ini umumnya menyerang hewan air, tetapi sampai saat ini belum dijumpai kasus penyakit ini dalam tambak budidaya bandeng.

Predator masuk ke dalam tambak melalui saluran air atau lubang yang terdapat pada dinding tambak. Pengeringan tambak adalah cara pengendalian kompetitor dan hama. Untuk hama yang masuk melalui lubang air harus dilakukan penyaringan air pada saat memasukkan air ke dalam tambak. Saringan harus cukup kecil agar supaya tidak hanya binatangnya yang tidak masuk melainkan telurnya pun tidak masuk.

Foto 6. Tambak yang Sedang Dikeringkan

PEMBENIHAN

Benih bandeng disebut nener. Sebagian besar nener sampai saat ini masih diperoleh dengan cara penangkapan secara alamiah, hanya sebagian kecil benih nener yang dihasilkan oleh budidaya (hatchery). Potensi benih nener alami tersebar di seluruh pantai Indonesia dengan konsentrasi di 15 provinsi mulai dari Aceh, Lampung, Kaltim, Kalsel, Jabar, Jatim, Jateng, Bali, NTB, NTT, Sulsel, Sulteng, Sulut, Sulawesi Tenggara dan Maluku. Diperkirakan potensi nener alami mencapai 1,5 miliar ekor setiap tahun, padahal yang dimanfaatkan baru berkisar pada angka 1 milyar ekor setiap tahun.

Nener yang dijual untuk dipelihara umumnya berumur antara 21 hari sampai 28 hari. Secara fisik besar nener dengan umur tersebut adalah seukuran jarum dan tubuhnya transparan dengan panjang sekitar 12 -13 mm. Nener mempunyai tiga titik ditubuhnya yakni dua mata dan satu di perut.

Nener yang ditangkap berasal dari laut dalam. Bandeng dewasa melepaskan telurnya ditengah laut yang berjarak sekitar 9 km dari garis pantai. Telur itu mengambang dan dibawa ombak, dalam perjalanan telur menetas dan terbawa ke pantai atau muara sungai. Nener inilah yang ditangkap, penangkapan nener tidak sulit walaupun nener bergerak lincah sebab umumnya nener berenang dalam kelompok. Di pasar lokal saat ini (tahun 2004) nener berukuran 12-13 mm dihargai Rp 70.000, per rean .

PENDEDERAN/PENGGLONDONGAN

Pendederan adalah proses budidaya dari nener menjadi glondongan. Pola pemeliharaan tahap pendederan umumnya dilakukan secara intensif atau semi intensif. Hal ini dimaksudkan agar dapat mengatur waktu panen sehingga sesuai dengan siklus permintaan tambak pembesaran. Glondongan dijual dalam berbagai ukuran tergantung permintaan. Variasi output pendederan di wilayah Gresik dapat dilihat pada Tabel 4.3.

Tabel 4.3.
Berbagai Ukuran Glondongan dengan Usia dan Harganya

Istilah setempat

Ukuran (Cm)

Lama pemeliharaan (minggu)

Harga (Rp/rean)

Glondongan

Kasaran

Semi

Semi Super

Balian

2-4

4-6

8-10

10-12

12-14

2

4

6

8

10

200.000

500.000

800.000

1.200.000

dijual kiloan

Sumber : Data primer

Pemeliharaan nener umumnya dilakukan sejak nener ditebar sampai umur 8 minggu. Sebelum nener ditebar sebaiknya tambak ditancapi rumpon yang berfungsi sebagai pelindung nener dari sengatan matahari dan dilakukan aklimatisasi terhadap nener. Aklimatisasi atau penyesuaian terhadap lingkungan merupakan hal yang penting dalam pemindahan dari tahap satu ketahap berikutnya. Hal ini untuk mencegah stress yang menyebabkan kematian. Aklimatisasi dapat dilakukan dengan cara membiarkan kantong plastik mengapung di air tambak, setelah temperatur, keasaman air dan salinitas air hampir sama, kantong plastik bisa dibuka. Umumnya waktu yang diperlukan untuk aklimatisasi adalah setengah hari. Pada saat penebaran nener usahakan agar salinitas berada pada kisaran 10-15 permil. Penebaran nener sebaiknya dilakukan pada pagi hari atau sore hari saat suhu masih rendah.

Selama dalam pendederan 10% air diganti setiap hari dengan waktu pergantian paling baik pada pukul 11.00-15.00. Pemberian makanan untuk pendederan perlu dilakukan jika nener yang ditebar lebih dari 5.000 ekor. Makanan tambahan berupa makanan jadi yang berbentuk tepung dangan cara ditabur. Makanan diberikan setiap 4 jam sekali dengan jatah sesuai umurnya.

Angka kematian untuk pendederan berkisar pada 10% sampai 20%, tergantung pada manajemen tambak. Jika tambak dikelola dengan baik maka tingkat kematian bisa ditekan hingga 5%. Pemanenan nener pada umumnya dilakukan secara aktif dan tidak serentak. Artinya nener dipanen sesuai permintaan pasar. Ketika ada permintaan maka nener di jaring ke petak penampungan, selanjutnya nener dihitung dengan menggunakan piring plastik untuk glondongan dan serok kecil untuk kasaran dan semi. Hasil hitungan langsung dimasukkan dalam plastik pengemas dan diberi oksigen murni dengan isi 250 ekor per plastik. Glondongan yang sudah siap di plastik kemudian diangkut dengan sepeda motor atau mobil untuk jarak dekat menuju tambak pembesaran. Jika tambak pembesaran berjarak jauh misalnya sampai keluar pulau maka pengangkutan dilakukan dengan menggunakan truk tangki yang juga harus dilengkapi dengan oksigen murni.

Foto 7 Ukuran Glondongan dan Glondongan yang Telah Dikemas dalam Plastik

PEMBESARAN

Output budidaya pembesaran adalah bandeng konsumsi atau bandeng untuk umpan. Bandeng umpan umumnya berukuran 1 ons atau 10 ekor per kg, ukuran ini juga bisa dihasilkan dari tambak pendederan yang disebut balian. Untuk konsumsi umumnya bandeng dipanen ketika ukurannya mencapai 2,5 sampai 3 ons atau 3-4 ekor per kg. Bandeng yang dipanen pada ukuran diatas 0,5 kg per ekor biasa disebut bandeng super kualitas prima.

Pada pengelolaan secara intensif tingkat produksi yang diinginkan ketika panen dapat dihitung dan diperkirakan dengan mudah, jika diketahui tingkat kematiannya. Berdasarkan pengamatan di lapangan tingkat kematian pada tahap pembesaran adalah 40% untuk glondongan umur 21 hari dan 25% untuk glondongan umur 28 hari. Sementara itu indeks pertumbuhan bandeng adalah 0,0005. Dengan data ini maka tingkat produksi yang diinginkan dapat diperoleh dengan rumus berikut :

Pembesaran dapat berasal dari tambak yang terintegrasi maupun pembesaran yang memang hanya dirancang untuk tambak pembesaran. Jika pembesaran dilakukan dari tambak yang terintegrasi maka yang harus dilakukan hanyalah membuka tutup petak tambak dari petak pembuyaran. Dalam melakukan pembukaan dari pembuyaran maka beberapa hal harus diperhatikan:

  1. Pemindahan dilakukan saat bulan waktu pasang surut paling besar.
  2. Pemindahan sebaiknya dilakukan malam hari dengan menggunakan cahaya untuk menarik bandeng muda ke arah pintu air petakan yang berhubungan langsung dengan petak pembuyaran atau pembesaran.
  3. Mengubah kondisi tambak untuk membuat bandeng muda menjadi aktif dan siap untuk dipindahkan ke petak buyaran atau pembesaran. Caranya ialah dengan menurunkan ketinggian air tambak sehingga temperatur air tambak meningkat.

Jika pembesaran dilakukan tidak terintegrasi maka penebaran ke tambak pembesaran juga harus dilakukan melalui aklimatisasi. Cara aklimatisasi penebaran nener dapat digunakan disini.

Dalam tambak pembesaran, 10% air tambak setiap hari harus diganti, penggantian dilakukan dengan pompa dan pipa air sehingga air yang terbuang dapat diatur dari bawah.

Panen dari tambak pembesaran dapat dilakukan dengan dua cara yakni panen selektif dan panen total. Pada panen selektif dapat digunakan jaring jala, atau penangkap elektrik. Untuk panen total dapat digunakan jaring kantong atau dengan melakukan pengeringan secara bertahap.

Untuk mendapatkan bandeng kualitas baik maka panen sebaiknya dilakukan pada pagi hari dan bandeng dalam keadaan lapar. Bandeng yang dipanen dalam keadaan kenyang akan cepat menjadi busuk. Setelah ditangkap bandeng segera dimatikan dan dicuci bersih. Pengelolaan pasca panen yang baik dilakukan dengan cara berikut:

  1. Pencucian dilakukan tiga tahap, pertama bandeng dicuci secara keseluruhan dengan air dingin yang ditambah klorin konsentrasi 10 ppm. Kedua, untuk mengeluarkan kotoran pada ingsang dan mulut lakukan pencucian dengan hati-hati. Ketiga untuk menghilangkan bau klorin lakukan pencucian ulang dengan air dingin,
  2. Setelah dicuci dengan seksama bandeng dimasukkan ke dalam kotak khusus ukuran 0,5×0,5×0,5 m yang bagian bawahnya diberi lubang. Untuk menghindari gesekan maka dasar dan dinding kotak diberi alas daun pisang/daun jati dan plastik. Caranya letakkan daun dengan ketebalan sekitar 10 cm kemudian tutup plastik. Di atas plastik letakkan es setebal 10 cm. Letakkan bandeng diatasnya 2 lapis selanjutnya es lagi demikian seterusnya. Pada bagian paling atas diberi lapisan es setebal 15 cm kemudian ditutup daun dan plastik, bandeng siap diangkut.
Foto 8 Panen Bandeng Konsumsi

@

 

Taken from :bi.go.id

About these ads