karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

PROFIL USAHA

Usaha pembenihan dan pendederan ikan di Kabupaten Banyumas telah berkembang sejak lama dan dilakukan oleh masyarakat setempat secara turun menurun sehingga umumnya sudah menguasai keterampilan dan pengetahuan budidayanya. Alasan lain yang membuat masyarakat setempat memelihara ikan gurami adalah karena mudah dipelihara dan dipasarkan, harga cukup tinggi, serta penggunaan lahan untuk budidaya ikan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi terutama bila dibandingkan dengan menanam padi. Namun demikian masyarakat juga mengenal budidaya ikan gurami yang dibudidayakan bersama dengan pertanian padi yang disebut mina padi. Dari segi kondisi lingkungan, berkembangnya usaha budidaya ikan gurami ini juga didukung oleh tersedianya kuantitas dan kualitas air yang mencukupi dan pemenuhan aspek-aspek teknis yang sesuai untuk pengembangan usaha pembenihan dan pendederan ikan gurami.

Pembinaan terhadap pembudidaya ikan dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Perikanan (Disnakan), dimana Disnakan mempunyai Balai Benih Ikan (BBI) sebagai unit pelaksana teknis yang tersebar di beberapa tempat. Adapun fasilitas yang diberikan oleh Disnakan kepada para pembudidaya ikan adalah berupa :

  1. Penyuluhan mengenai teknis dan administasi usaha yang dilaksanakan pada pertemuan rutin kelompok tani
  2. Penyediaan benih unggul ikan gurami, yang disediakan oleh BBI dan petani UPR (Unit Pembenihan Rakyat)
  3. Pelatihan mengenai teknis budidaya ikan gurami.

Sebagian besar pembudidayaan ikan (80%) masih menggunakan teknologi semi intensif dan tradisional, dan hanya sekitar 20% saja yang menggunakan teknologi intensif. Penggunaan teknologi ini erat kaitannya dengan terbatasnya dana/modal yang dimiliki oleh pembudidaya. Pakan ikan yang digunakan di Kabupaten Banyumas adalah pakan organik berupa daun-daunan (umumnya) menggunakan daun sente sedang untuk antibiotik digunakan daun lembesan. Penggunaan daun-daunan sebagai makanan dan antibiotik di percayai membuat mutu ikan produksi daerah Banyumas dikenal lebih baik dibandingkan dengan daerah produsen lainnya yang menggunakan pakan palet, hal tersebut tercermin dari rasa daging yang lebih enak, ketahanan ikan terhadap penyakit dan tidak berbau lumpur. Kualitas ikan ini didukung oleh kualitas air yang sesuai untuk penggunaan daun-daunan saja untuk pakan diakui mengakibatkan pertumbuhan benih ikan sampai ukuran konsumsi lebih lambat dibandingkan penggunaan pelet. Untuk mengatasi hal ini di beberapa petani, telah pula menggunakan pakan kombinasi antara daun-daunan dan pelet. Penggunaan pakan kombinasi antara pelet dan daun-daunan juga dilaksanakan dalam budidaya pembesaran ikan gurami di Bogor.


BOX 1. PROFIL PERIKANAN KABUPATEN BANYUMAS
Di wilayah Kabupaten Banyumas pengembangan usaha budidaya ikan gurami di bagi atas tiga wilayah yaitu :

  1. Usaha pembenihan di Banyumas Utara : mencakup antara lain Kec. Kedungbanteng, Ratu Raden, Karang Lewas, Cilongok, Ajibarang dan Sumbang
  2. Usaha pendederan di Banyumas tengah : Mencakup antara lain Kec. Sokoraja, Purwokerto Selatan, Kalibangor, dan Patikraja.
  3. Usaha pembesaran di Banyumas Selatan : mencakup antara lain Kec. Tambak, Sumpiuh, Kenrajen, Kebasen, Rawalo, Jatilawang dan Wangon.

Sektor perikanan di Kabupaten Banyumas mendapat perhatian yang cukup tinggi dari Pemerintah Daerah setempat, terlihat dari tersedianya (empat) BBI yang ada di wilayah Kabupaten yaitu di Sidaboa, Singosari, Kandak, dan Tambak. Dalam hal ini, tugas pokok BBI adalah memproduksi benih dan induk, dan memberikan bimbingan teknis pembenihan kepada para pengusaha pembenihan.

Data luas kolam pembenihan, pendederan dan pembesaran, ikan di Kabupaten Banyumas beserta dapat produktivitas sebagaimana pada Tabel 1.

Tabel 1. Luas kolam pengusahaan dan produksi ikan di Kabupaten Banyumas

Jenis Budidaya

2000

2001

2002

Luas (Ha)

Produksi (ekor/kg)

Luas (Ha)

Produksi (ekor/kg)

Luas (Ha)

Produksi (ekor/kg)

Pembenihan

39,80

122.658.860

42,50

130.474.950

42.75

131.146.775

Produktivitas

3.082.559 ekor/ha

3.069.999 ekor/ha

3.067.761 ekor/ha

Pendederan

73,43

52.093.650

70,12

40.410.402

70.81

50.285.720

Produktivitas

709.433 ekor/ha

576.304 ekor/ha

710.150 ekor/ha

Pembesaran

381,42

2.526.322

400,67

2.979.750

402.92

3.001.753

Produktivitas

6.623 kg/ha

7.437 kg/ha

7.450 kg/ha

Sumber: Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Banyumas

Usaha budidaya umumnya dilaksanakan oleh pembudidaya ikan sendiri dengan memperkerjakan beberapa tenaga harian, tergantung luas lahan budidaya. Penggunaan tenaga tetap akan tergantung pada kondisi usaha pada saat itu. Apabila kondisi usaha sedang baik yang dilihat dari harga ikan, maka akan menggunakan tenaga tetap sedangkan jika kondisi usaha sedang menurun maka tenaga tetap tidak digunakan. Kualifikasi tenaga kerja umumnya dapat terbagai atas 2 jenis yaitu tenaga kerja kasar misalnya untuk pemeliharaan kolam, dan tenaga yang lebih terampil untuk pemeliharaan dan pemanenan ikan.

Pemasaran dilakukan sendiri-sendiri oleh para pembudidaya dan umumnya masing-masing telah mempunyai pelanggan. Daerah pemasaran meliputi wilayah lokal dan antar propinsi.

POLA PEMBIAYAAN

Pemberian kredit oleh bank responden di Jawa Tengah ditujukan untuk usaha yang telah berjalan atau untuk perluasan usaha. Kredit diberikan kepada nasabah perorangan. Besarnya plafon kredit untuk pembenihan adalah Rp 25.000.000 per debitur sedangkan untuk pembesaran ikan adalah Rp 50.000.000 per debitur dengan suku bunga 19% menurun dan jangka waktu kredit 3 tahun. Besarnya dana sendiri nasabah yang dipersyaratkan bank adalah 20%. Persyaratan jaminan yang diminta oleh bank dapat berupa sertifikat tanah atau bangunan tempat usaha, tabungan atau deposito atau barang bergerak. Persyaratan lainnya adalah identitas diri dan surat ijin usaha. Lamanya proses permohonan sejak terpenuhinya semua syarat kredit sampai realisasi kredit adalah 2 minggu. Usaha budidaya ikan yang dibiayai adalah yang memiliki lebih dari 1 kolam ikan, karena berdasarkan pengalaman bank dengan memiliki lebih dari 1 kolam ikan debitur dapat membayar cicilan bulanan ke bank, sehingga jumlah kolam dapat mempengaruhi kelancaran pembayaran kredit. Sementara itu, pembiayaan dari bank responden di Bogor dilaksanakan dengan ketentuan plafon Rp. 50.000.000 suku bunga 20% menurun, jangka waktu kredit 2 tahun. Persyaratan jaminan tergantung dari jumlah kredit.

Profesi ganda pembudidaya sebagai pedagang ikan menurut pengalaman bank juga dapat mempengaruhi kelancaran kredit, karena pada saat harga ikan gurami mengalami penurunan debitur tetap dapat memperoleh penghasilan dari usaha jual beli ikan gurami maupun campuran. Bimbingan teknis dari dinas terkait tidak dipersyaratkan oleh bank dalam perjanjian kreditnya namun hal ini berlangsung secara informal. Apabila terdapat masalah pada teknis budidaya, bank akan menjembatani permasalahan tersebut kepada dinas terkait untuk penangannya. Permasalahan yang biasanya dihadapi pembudidaya adalah penyakit pada ikan yang dapat menyebabkan tingginya kematian ikan dan selanjutnya mengakibatkan debitur mengalami kesulitan dalam pembayaran angsuran.

Analisis kredit dilakukan dengan menerapkan prinsip 5C dengan menekankan pada aspek karakter calon debitur. Namun mengingat karakter sulit dinilai, biasanya didasarkan pada aspek jaminan. Di samping itu prospek pemasaran dan sistem pembayaran dalam usaha juga tetap menjadi perhatian penting karena aspek pemasaran diakui merupakan faktor penting yang mempengaruhi kelayakan usaha tersebut.

Selain dari dana bank sendiri sumber dana pembiayaan kepada pembudidaya ikan juga berasal dari Yayasan Dana Swadaya Mandiri (YDSM) yaitu dikenal dengan kredit pundi dan dana bergulir yang berasal dari subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Lembaga Keuangan Mikro (LKM). Besarnya pinjaman yang diberikan per LKM adalah Rp 50.000.000 dengan suku bunga sebesar 16% per tahun dengan alokasi : 4% untuk bank, 2% untuk pembayaran honorarium pendamping, audit dan pembinaan LKM, dan 10% sebagai insentif bagi LKM apabila mempunyai kinerja baik. Periode angsuran adalah triwulan.

@

 

Taken from :bi.go.id

About these ads