karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

ASPEK SOSIAL EKONOMI

1. UMUM
Diantara faktor yang berhubungan dengan aspek sosial ekonomi adalah suplai bibit, status lokasi, perijinan, sarana transportasi, tenaga kerja, alat dan bahan, pasar dan harga serta dukungan pemerintah.>

2. SUMBER BIBIT
Bibit ikan kerapu adalah faktor yang menentukan kelangsungan usaha ini, sehingga sumber dan suplai bibit ikan kerapu harus jelas untuk kebutuhan dan keberlangsungan proyek.>

3. STATUS LOKASI DAN IJIN
Lokasi yang dipilih untuk budidaya ikan kerapu statusnya harus jelas, sehingga tidak berbenturan dengan kepentingan masyarakat pada umunya, instansi lain atau lembaga lain di kemudian hari.

Peruntukan lokasi harus jelas dan pasti, sesuai dengan rencana induk pembangunan daerah setempat. Peruntukan areal yang jelas ini sangat penting untuk menghindari terjadinya kerugian yang tidak terduga sewaktu-waktu.

4. TRANSPORTASI
Lokasi yang dipilih harus dapat dijangkau, agar pengadaan bibit ikan kerapu, peralatan dan pemasaran hasil produksi dapat berjalan lancar.

Sarana transportasi harus memadai, hal ini penting untuk menekan pengeluaran biaya yang sangat besar serta waktu pengangkutan bibit ikan kerapu dan hasil produksi dari ikan dan ke lokasi harus seefisien mungkin.

5. TENAGA KERJA
Tenaga kerja dalam budidaya ikan kerapu ini merupakan faktor yang sangat penting sejajar dengan faktor-faktor penting lainnya. Bahkan tenaga kerjalah yang paling menentukan, terutama dalam skala usaha yang besar. Sedangkan untuk usaha dalam skala kecil, biasanya semua pekerjaan dikerjakan secara kelompok.

Dalam usaha skala besar, diperlukan dua bentuk tenaga kerja, yaitu tenaga kerja untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan biasa yang tidak membutuhkan keahlian. Sedangkan tenaga kerja khusus atau (ahli) untuk pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan keahlian, seperti survey lokasi, tata cara dan lain-lain yang menyangkut dalam hal teknik budidaya.

Tenaga kerja biasanya hendaknya direkrut atau didahulukan tenaga kerja lokasi, karena selain mereka tidak membutuhkan biaya transportasi menuju ke lokasi usaha, juga dengan memanfaatkan tenaga kerja lokal, berarti usaha yang kita lakukan membawa lapangan kerja bagi penduduk di sekitar lokasi usaha.

Sedangkan tenaga kerja ahli akan disediakan perusahaan inti atau koperasi. Bagi tenaga kerja biasa yang belum profesional masih diperlukan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan mereka.

6. ALAT DAN BAHAN
Tersedianya alat dan bahan di sekitar lokasi menunjang kelancaran dan usaha menekan biaya, sedangkan bila bahan dan alat didatangkan dari tempat lain dengan menggunakan sarana transportasi tersebut.

7. KEAMANAN
Dalam usaha ini harus diperhatikan dari gangguan pencurian atau penjarahan, termasuk keselamatan dan kesehatan kerja.

8. DUKUNGAN PEMERINTAH
Dukungan pemerintah dalam usaha ini sangat diperlukan terutama dalam hal perijinan yang berkaitan dengan usaha budidaya ikan kerapu.

9. DAMPAK

a. Aspek Sosial

Dengan terjalinnya kerjasama antara nelayan setempat dan Perusahaan Inti ini, akan memberikan keuntungan bagi berbagai pihak. Usaha di atas akan membantu pemerintah dalam menyediakan lapangan kerja baru bagi pencari kerja yang selama ini belum memperoleh tempat (terutama pada armada kapal penangkap ikan sebagai anak buah kapal/ABK, dan penjaga unit-unit karamba), sekaligus untuk mendukung Program Proyek Padat Karya yang dicanangkan Pemerintah.

b. Aspek Ekonomi

Melalui pemanfaatan areal laut untuk lokasi kajapung, peningkatan kemakmuran nelayan dan anggota koperasi primer di pedesaan akan menjadi kenyataan.

c. Aspek Profesionalisme

Dengan kerjasama antara nelayan setempat dengan perusahaan inti ini, maka pembentukan saluran distribusi penjualan ikan kerapu akan menjadi lancar dengan menggabungkan fasilitas yang telah ada dan memperbaiki pola berpikir dan manajemen, terpadu maka posisi Gerakan Koperasi sebagai Lembaga Ekonomi Masyarakat dapat ditingkatkan dan menjadi nyata.

d. Aspek Pendidikan

Adanya budidaya ikan kerapu dan penangkapan ikan kerapu, diharapkan akan memberi motivasi masyarakat desa untuk mendorong tumbuhnya suasana yang kondusif dan menyenangkan bagi warga desa dengan cara meningkatkan ketersedian jasa pelayanan pendidikan, kesehatan dan fasilitas infrastruktur lain yang diperlukan masyarakat desa.

Dengan direalisasikannya proyek ini diharapkan akan memberikan manfaat sebagai berikut :

  1. Meningkatkan pendapatan bagi para anggota Koperasi, karena adanya lapangan kerja atau tambahan modal kerja bagi mereka dengan meningkatkannya produktivitas.
  2. Usaha yang dikelola dengan baik oleh kelompok dengan itikad menjunjung kebersamaan dalam meningkatkan usaha anggota koperasi maka program pengentasan kemiskinan akan tercapai.
  3. Peningkatan usaha anggota koperasi jelas akan meningkatkan pula peluang bagi tenaga kerja di wilayah proyek dan sekitarnya.
  4. Dapat meningkatkan pendapatan asli daerah setempat dengan retibusi/pajak daerah.
  5. Meningkatkan kegiatan perekonomian di pedesaan ini, akan turut mengurangi kemiskinan, pengangguran, ketertinggalan, kesenjangan dan perbedaan tingkat partisipasi dalam pembangunan antara desa dengan kota, antara sektor tradisional dan modern.
  6. Pemanfaatan lahan tidur untuk menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat di sekitar proyek guna mensejahterakan.
  7. Mengimplementasikan Pola Kemitraan Terpadu (PKT) yang dikoordinir oleh Koperasi Primer dengan perusahaan inti.
ASPEK DAMPAK LINGKUNGAN

Pembukaan kawasan untuk proyek budidaya kajapung dengan luas lahan yang sangat besar, termasuk pembangunan pabrik perusahaan Inti, langsung maupun tak langsung akan menimbulkan dampak positif maupun negatif terhadap komponen ekosistem maupun sosial ekonomi.

Secara teknis dampak dari proyek budidaya kajapang yang sangat besar, akan berpengaruh terhadap lalu lintas kapal/pelayaran umum, dan kepentingan masyarakat pada umumnya. Oleh sebab itu, dalam PKT ini unit karamba yang dikembangkan maksimum sebanyak 10 unit, maka sebaiknya dibangun lagi di lokasi lainnya yang masih cukup dekat dari lokasi pertama.

Pengembangan proyek kajapung dengan model ini, dampak lingkungan secara ekologis dapat diminimalisasikan, begitu pula dampak teknis lainnya.

Dengan demikian, penelitian untuk analisis dampak lingkungan dalam proyek ini anggarannya dapat diperkecil.

KESIMPULAN
  1. Ikan kerapu meruapakan salah satu komoditi perikanan yang pasaran ekspornya cukup menonjol, sehingga selama sekitar 10 tahun terakhir telah berkembang cukup pesat. Karena besarnya permintaan pasaran internasional, menyebabkan munculnya inisiatif masyarakat untuk mengembangkan usaha ikan kerapu dengan cara budidaya kajapung selain dengan mengusahakan secara tradisional yaitu dengan penangkapan di alam.
  2. Untuk menyederhanakan penguasaan dan penggunaan faktor-faktor produksi dalam budidaya dan pemasaran hasil ikan kerapu serta menjamin keamanan kredit perbankan, maka pola kemitraan yang dikembangkan dengan mekanisme closed system,  akan dapat saling menguntungkan antara pihak-pihak yang bermitra, yaitu koperasi dan anggotanya (nelayan plasma), mitra usaha besar dan perbankan.
  3. Walaupun aspek pemasaran ikan kerapu secara statistik, baik kualitas maupun kuantitasnya yang diperdagangkan di dalam negeri maupun pasar ekspor, belum dapat diketahui secara rinci, namun berdasarkan total permintaan global pasaran dunia tampak bahwa sampai saat ini potential demand masih belum dapat dipenuhi oleh negara-negara produsen (terutama dari ASEAN). Oleh karena itu, pada saat ini budidaya ikan kerapu mempunyai peluang pasar yang masih terbuka. Namun demikian, untuk mengimplementasikannya dalam bentuk usaha berskala besar memerlukan kecermatan atas fenomena pasar ikan kerapu, baik sebagai komoditas ekspor maupun pasaran dalam negeri.
  4. Secara teknis budidaya ikan kerapu dapat dilaksanakan di berbagai daerah di Indonesia, karena didukung oleh sumber daya alam dan iklim yang sesuai dengan tuntutan hidup ikan kerapu. Tetapi untuk memperoleh produktivitas yang tinggi, diperlukan intensifikasi pemeliharaan dan technological engineering terutama dalam penyediaan bibit yang dipijahkan secara teknologis. Oleh sebab itu untuk kepentingan masa depan dan masyarakat nelayan serta pengembangan usaha perikanan pada umumnya, diperlukan adanya partisipasi yang lebih besar lagi dari Lembaga-lembaga penelitian (Pemerintah maupun swasta) untuk mengembangkan penelitian pengadaan bibit budidaya ikan kerapu.
  5. Untuk pengembangan budidaya kajapung ikan kerapu dengan pola kemitraan, diperlukan biaya investasi untuk pengadaan unit kajapung, armada kapal penangkap ikan (bibit dan ikan ukuran komersial), genset, dan peralatan lainnya. Disamping itu juga diperlukan modal kerja untuk pengadaan sarana produksi dan pembiayaan dan tenaga kerja. Untuk sementara jumlah biaya investasi yang diperlukan adalah sebesar RP. 397.691.500 yang terdiri dari pengadaan unit kajapung, armada kapal, genset, dan lain-lain untuk setiap kelompok nelayan (11 orang). Sedangkan modal kerja untuk kelompok unit kajapung adalah sebesar Rp. 566.944.575 sehingga modal keseluruhan adalah sebesar Rp. 964.636.075 atau Rp. 87.694.189 per anggota kelompok.
  6. Sumber dana untuk pengembangan proyek ini, seluruhnya diharapkan berasal dari kredit perbankan (kredit komersial). Bilamana dikembangkan dengan kredit program, maka sebagian kredit untuk setiap anggota, dan sebagian lagi kredit untuk koperasi (terutama untuk kontribusi peralatan, misalnya genset dan sebagainya).
  7. Secara finansial, budidaya ikan kerapu layak untuk diusahakan, yang ditunjukkan oleh parameter-parameter finansial anatara lain :
    1. IRR sebesar 111,74%, jauh lebih besar dari tingkat suku bunga Kredit Komersial, yang berkisar antara 22% – 27% per tahun. Sedangkan dalam analisis ini, bunga yang dipakai adalah sebesar 30%.
    2. NPV sebesar Rp. 1.341.699.098
    3. B/C Ratio  = 1,65
  8. Sedangkan dari hasil telaah analisis sensitivitas, yang memperhitungkan terjadinya penurunan harga jual hingga 10%, ternyata budidaya ikan kerapu masih layak untuk diusahakan, yang ditunjukkan oleh parameter-parameter finansial antara lain :
    1. IRR sebesar 35,69%, lebih besar dari tingkat suku bunga Kredit Komersial, dan bunga perhitungan sebesar 30%.
    2. NPV sebesar Rp. 757.459.669
    3. B/C Ratio = 1,49

@

 

Taken from :bi.go.id

About these ads