karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Sampai saat ini belum terdapat lembaga yang menyediakan data kuantitatif yang dapat menggambarkan permintaan udang galah. Namun, secara kualitatif diperoleh informasi bahwa untuk pasar lokal permintaan datang dari perseorangan, restoran dan hotel di Jakarta, Cilegon, Medan, Semarang, Surabaya, Batam, Yogyakarta dan terutama Bali. Peminat udang galah di Bali terutama adalah turis asing dan komoditas ini populer sebagai baby atau mini lobster. Permintaan udang galah konsumsi di Bali tergolong cukup tinggi (tahun 2001 mencapai 700 kg per hari) sementara produksinya hanya antara 100-200 kg per hari, sehingga perlu didatangkan dari Yogyakarta dan Jawa Barat.
Untuk memperkirakan angka permintaan ekspor didekati dengan menggunakan data ekspor udang tahun 1991-2000 sebagaimana disajikan pada Tabel 3. Pendekatan ini dilakukan mengingat adanya pemikiran untuk menawarkan udang galah sebagai alternatif pengganti udang windu karena pembudidayaan udang galah yang relatif mudah dengan harga jual relatif tinggi namun lebih murah dibanding udang windu. Dari tabel tersebut terlihat bahwa volume dan nilai ekspor udang tahun 1991-2000 masing-masing meningkat rata-rata sebesar 1,97%% dan 2,67% per tahun.
Untuk DIY, permintaan udang galah berasal dari rumah makan dan pasar swalayan. Pemintaan udang galah berfluktuasi. Peningkatan permintaan terjadi pada bulan Desember-Januari, bulan Juni-Juli, bulan penyelenggaraan wisuda sarjana dan bulan hajatan, sedangkan penurunan terjadi pada bulan Suro (kalender Jawa) dan pada saat pendaftaran sekolah.
Tabel 3 : Ekspor Udang Tahun 1991-2000
|
Tahun |
Volume (ton) |
Nilai (1000 US $) |
|
1991 |
95.626 |
769.982 |
|
1992 |
100.455 |
764.850 |
|
1993 |
98.569 |
876.703 |
|
1994 |
99.523 |
1.007.380 |
|
1995 |
94.551 |
1.037.006 |
|
1996 |
100.230 |
1.017.892 |
|
1997 |
93.043 |
1.011.136 |
|
1998 |
142.689 |
1.011.467 |
|
1999 |
109.650 |
888.982 |
|
2000 |
116.188 |
1.002.123 |
Sebagaimana diungkapkan di atas, data statistik terutama data nasional yang terkait dengan udang galah belum tersedia. Oleh karena itu, informasi mengenai penawaran hanya disajikan untuk produksi di wilayah DIY. Adapun produksi udang galah di DIY pada tahun 2001 adalah sebagaimana terlihat pada Tabel 4.
Tabel 4 : Produksi Udang Galah di DIY Tahun 2001
|
No. |
Kabupaten |
Produksi (Ton) |
|
1. |
Sleman |
15,4 |
|
2. |
Gunung Kidul |
0 |
|
3. |
Bantul |
65,1 |
|
4. |
Kulonprogo |
15,4 |
|
5. |
Yogyakarta |
0 |
|
Total |
95,9 |
|
Dinas Perikanan dan Kelautan Propinsi DIY, 2002
Selain DIY, sentra produksi udang galah adalah Bali. Propinsi lain yang sedang mengembangkan budidaya udang galah adalah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan. Pada akhir tahun 2002, Kabupaten Pangkep Sulawesi Selatan ditetapkan sebagai sentra pengembangan dan pembibitan udang galah dengan lahan usaha sekitar 9.100 hektare. Kabupaten Ciamis dan Sukabumi Jawa Barat juga menawarkan wilayahnya sebagai lahan yang cocok untuk investasi budidaya udang galah.
Mengenai potensi luas lahan budidaya udang galah di Indonesia pada saat ini belum ada data yang pasti, namun dilihat dari segi persyaratan teknis budidaya, udang galah dapat dikembangkan pada daerah-daerah pengembangan budidaya perikanan air tawar, daerah persawahan, dan tambak darat.
Harga udang galah ditentukan oleh berbagai faktor, antara lain: a) wilayah produksi dan pemasarannya; b) kondisi udang; c) jumlah udang per kilogram (kg) atau per pound (lb) atau ukuran udang. Harga udang makin mahal apabila ukuran makin besar atau udang dalam kondisi hidup. Di Indonesia udang galah dikelompokkan menjadi beberapa kategori menurut jumlah udang per kg sebagai berikut:
a. Besar:
- Super : 10-15 ekor
- Biasa : 20-25 ekor
b. Medium : 30-40 ekor
c. Kecil : 40-60 ekor
Sedangkan udang galah yang berkondisi baik adalah yang dapat memenuhi kriteria sebagai berikut: a) Berwarna biru gelap (badannya berwarna kehijauan); b) Berkulit keras, bersih tidak ditempeli efibion dan tidak cacat fisik; c) Tidak berbau lumpur; dan d) Kondisi fisik masih segar dan utuh. Pada Foto 2. ditampilkan udang galah yang baik dengan ukuran super.
Foto 2. Udang Ukuran Super.

Foto udang galah ukuran super, dengan berat sampai dengan 100 gr per ekor,
bandingkan besarnya dengan tangan si pembawa.
Sumber: Dr. Fauzan Ali, Puslit Limnologi LIPI, Bogor.
Harga jual udang galah terbentuk di dua tingkat, yaitu :
- Di tingkat pembudidaya yang menjual produk ke pengepul.
- Di tingkat pengepul yang menjual produk yang ditampungnya ke konsumen akhir yaitu pedagang pengecer, hotel, rumah makan, dan pasar swalayan.
Harga jual udang galah ke pengepul lebih rendah daripada harga jual langsung ke konsumen rumah tangga. Pada saat survey, yaitu bulan Mei 2003 di Yogyakarta harga jual udang ukuran medium di tingkat pembudidaya adalah Rp.29.000 sampai dengan Rp.34.000 per kilo. Di Jawa Barat harga udang galah sekitar Rp.35.000 – Rp.37.000 per kg, sedangkan di Bali mencapai Rp.40.000. Di tingkat pedagang pengecer dan pasar swalayan di Jakarta, harga udang galah dapat mencapai Rp.75.000 -Rp.85.000 per kg. Di pasar swalayan tertentu untuk udang ukuran medium harganya bisa mencapai lebih dari Rp. 100.000.
Peluang pasar bagi produk udang galah masih terbuka lebar, terutama untuk ekspor karena adanya permintaan dari beberapa negara yang masih belum dapat terpenuhi oleh produksi dalam negeri. Dengan semakin mahalnya harga udang windu, maka diharapkan makin banyak konsumen yang beralih ke udang galah. Hal ini merupakan peluang pasar yang cukup bagus untuk dimanfaatkan.
Data statistik mengenai perkembangan ekspor udang galah belum tersedia. Untuk itu, sebagaimana halnya dengan informasi permintaan, data yang digunakan untuk menyajikan informasi mengenai ekspor adalah data udang secara umum. Pada Tabel 5 disajikan informasi mengenai 10 besar negara yang menjadi tujuan ekspor dari produk udang Indonesia pada tahun 2000.
Tabel 5. Sepuluh Besar Negara Tujuan Ekspor Udang Indonesia Tahun 2000
|
No. |
Negara |
Volume Ekspor (Ton) |
|
1 |
Jepang |
54.064 |
|
2 |
Amerika Serikat |
16.216 |
|
3 |
Hongkong |
7.164 |
|
4 |
Belanda |
6.900 |
|
5 |
Singapura |
6.572 |
|
6 |
Malaysia |
5.236 |
|
7 |
Inggris |
4.218 |
|
8 |
Taiwan |
2.623 |
|
9 |
RRC |
2.223 |
|
10 |
Belgia & Luxemburg |
2.011 |
Departemen Kelautan & Perikanan,
Statistik Ekspor Hasil Perikanan 2000, Agustus 2002.
Dalam program ekspor hasil perikanan tahun 2003, Departemen Kelautan dan Perikanan menetapkan target ekspor hasil perikanan sebesar USD 6,78 milyar. Untuk mencapai target nilai ekspor tersebut, produksi perikanan harus mencapai 6,06 juta ton dimana 1,11 juta ton (18,3%) dari perikanan budidaya yaitu hasil perikanan yang tidak diperoleh dari penangkapan. Untuk memenuhi target tersebut, udang galah mempunyai potensi untuk dijadikan komoditi ekspor karena perdagangan udang galah telah meluas di dunia, harganya cukup tinggi dan permintaannya dari tahun ke tahun diperkirakan semakin meningkat. Pada saat ini ekspor udang galah dilakukan melalui pelabuhan Surabaya, Jakarta dan Medan.
Pembudidaya udang galah dapat menjual produksinya melalui dua cara:
a. Dipasarkan sendiri dengan sistem door to door untuk menjaring konsumen rumah tangga dan rumah makan.
b. Dijual ke pengepul untuk kemudian dipasarkan oleh pengepul ke pedagang pengecer, rumah makan dan pasar swalayan.
Dalam rangka pemasaran tersebut, kelompok pembudidaya baik di wilayah survey di DIY maupun di Bogor telah menjalin kerjasama dengan beberapa rangkaian pasar swalayan. Diagram Alir 1. berikut ini menggambarkan rantai pemasaran udang galah, yang masih relatif sederhana.
Diagram Alir 1. Rantai Pemasaran Udang Galah

Catatan : Konsumen akhir meliputi: Hotel, Rumah tangga, Rumah makan dan Pasar swalayan
Masalah yang dihadapi oleh sebagian besar pembudidaya udang galah dalam memasarkan produknya antara lain adalah produk belum standar dalam hal jenis dan ukuran; serta kondisi fisik dari produk belum memenuhi persyaratan mutu. Dengan masih adanya masalah tersebut, pengepul sebagai pembeli produk kadang kecewa dengan hasil panen yang dibeli karena tidak sesuai dengan klasifikasi udang yang diinginkan.
Demikian pula, belum dikuasainya teknologi pasca panen dan kurangnya peralatan pengemasan dan transportasi untuk pengiriman jarak jauh, menyebabkan jangkauan pemasaran hasil produk masih terbatas atau hanya berorientasi lokal. Namun demikian, diperoleh informasi bahwa Puslit Limnologi LIPI Bogor telah berusaha menciptakan alat transportasi darat berupa mobil pick-up berkapasitas 50 kg yang dilengkapi dengan aerator dan mampu digunakan untuk memindahkan udang dalam jangka waktu sampai dengan 12 jam.
Untuk ekspor, masalah yang dihadapi adalah belum terjaminnya kesinambungan pasokan; belum terpenuhinya ukuran udang galah ekspor yaitu udang berukuran super; dan belum terpenuhinya persyaratan mutu sebagai komoditas ekspor, khususnya baku mutu kandungan bakteri, kandungan logam berat dan residu antibiotik.
@
Taken from :bi.go.id


















3 comments
Comments feed for this article
Maret 5, 2009 pada 3:19 pm
muhar
assalamualaikum
saya kerepotan nyari lembaga maupun orang yang mau beli udang
saya punya banyk udang untuk di jual tapi saya jg perlu temen dalam bisnis ini
ttd
muhar oktiandar, S.Pi
Maret 5, 2009 pada 3:22 pm
muhar
oya tar kalau ada yang berminat kabari saya aja
ke email oktian82@yahoo.com
Juni 7, 2009 pada 4:50 am
iman hamdani
harganya berap? Sais berapa? trus dimana lokasinya?