karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Pemilihan Pola Usaha

Dalam lima tahun terakhir minat masyarakat untuk membudidayakan udang galah semakin meningkat. Diperkirakan dengan diperkenalkannya bibit udang galah jenis unggul GI Macro oleh Menteri Kelautan dan Perikanan pada tahun 2001 menjadi pendorong meningkatnya minat ini. Kegiatan budidayanya mencakup tiga komponen yang saling berkaitan, yaitu dimulai dari (1) Pembenihan yang menghasilkan benih (larva); (2) Pendederan pasca larva (PL) atau pentokolan yang menghasilkan udang tokolan atau benur; dan (3) Pembesaran yang menghasilkan udang konsumsi. Masing-masing kegiatan tersebut dapat merupakan usaha terpisah atau usaha gabungan, tergantung pada kemampuan pengusaha dalam hal teknologi dan manajemen budidaya, modal yang dimiliki dan luas lahan usaha.

Dalam pola pembiayaan ini dipilih usaha gabungan dari dua komponen yaitu pendederan dan pembesaran dengan pola usaha monokultur dan menggunakan teknologi semi intensif. Alasan memilih pola usaha ini adalah teknologi budidayanya sederhana, mudah dan cepat dikuasai oleh masyarakat dan produk udang galah berbagai ukuran langsung terserap pasar dengan harga yang memadai. Budidaya pendederan dan pembesaran juga tidak memerlukan modal besar sehingga dapat dilakukan terutama dalam skala usaha mikro.

Sistem pemeliharaan kedua kegiatan ini dilakukan secara outdoor dengan menggunakan kolam tanah. Dari berbagai informasi yang diperoleh, belum ditemukan suatu skala luas tanah optimum dalam budidaya pendederan dan pembesaran udang galah. Oleh karena itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan di DIY, ditetapkan luas tanah yang diperlukan untuk pola usaha ini adalah 11.000 m2. Lahan tersebut digunakan untuk kolam seluas 8.500m2 dan sisanya 2.500m2 digunakan untuk pematang dan daratan tempat kegiatan lainnya. Dari luas kolam tersebut, 2.200 m2 digunakan sebagai kolam pendederan dan 6.300 m2 sebagai kolam pembesaran.

Produk dari kegiatan pendederan adalah udang tokolan, sedangkan produk kegiatan pembesaran adalah udang konsumsi. Hasil panen pendederan sebagian dijual dan sebagian lainnya dipelihara sebagai kegiatan lanjutan sampai menghasilkan udang konsumsi. Jumlah udang tokolan yang dijual tergantung dari jumlah udang tokolan yang diperlukan untuk kegiatan pembesaran. Jika panen udang tokolan dalam kegiatan pendederan bertepatan waktunya dengan tebar udang tokolan pada kegiatan pembesaran maka hanya sebagian udang tokolan yang dijual sedangkan sisanya dipakai sendiri.

Asumsi dan Jadwal Kegiatan

Analisis keuangan suatu proyek investasi terdiri dari proyeksi penerimaan dan pengeluaran selama periode kegiatan proyek guna memperoleh gambaran secara finansial mengenai: (a) Pendapatan dan biaya proyek; (b) Kemampuan keuangan proyek membayar lunas kredit; dan (c) Kelayakan proyek. Untuk itu biasanya dalam analisis aspek keuangan proyek digunakan asumsi-asumsi yang didasarkan kepada penelitian dan pengamatan terhadap kegiatan serupa di lapangan serta masukan dari berbagai referensi terkait guna menentukan besarnya parameter yang akan dipakai. Beberapa asumsi dan parameter analisis keuangan disajikan pada Tabel 7.

Periode proyek diasumsikan selama 8 semester atau 4 tahun. Adapun siklus usaha untuk pendederan adalah 3 bulan dan untuk pembesaran adalah 4 bulan terhitung mulai dari persiapan kolam, tebar benih, pemeliharaan sampai dengan panen. Setelah panen diperlukan waktu 2 – 3 minggu guna mempersiapkan kembali kolam yang telah dipanen untuk penebaran benih berikutnya. Padat penebaran benur untuk pendederan adalah 40 ekor per m2 dengan survival rate 50%, sedangkan padat penebaran tokolan untuk pembesaran adalah 6 ekor per m2 dengan survival rate 75,6%.

Dalam pola ini, tebar benih untuk kegiatan pendederan dan pembesaran dijadwalkan dilakukan secara bersamaan pada bulan pertama. Penebaran benih dilakukan sekaligus pada kolam seluas 2.200 m2, sedangkan kegiatan pembesaran dilakukan dalam 3 tahapan selama 3 bulan berturut-turut pada kolam seluas 2.100 m2 untuk tiap tahap. Hasil panen pada kegiatan pembenihan berupa tokolan dijual seluruhnya, kecuali jika hasil panennya bersamaan dengan kegiatan tebar tokolan dalam kolam pembesaran karena sebagian tokolan akan dipelihara dalam kolam pembesaran.

Tabel 7 : Asumsi dan Parameter untuk Analisis Keuangan

No

Asumsi

Satuan

Jumlah

Keterangan

1

Periode proyek

Semester

8

Per semester 6 bulan 

2

Pola usaha

     
 

a.    Jenis usaha

   

Pendederan & pembesaran

 

b.    Luas tanah

M2

11.000

 
 

c.    Luas kolam total

M2

8.500

 
 

·    Pembenihan

M2

2.200

 
 

·    Pembesaran

M2

6.300

 

3

Siklus usaha

     
 

·   Pembenihan

Bulan

3

Tebar s/d panen 

 

·   Pembesaran

Bulan

4

Tebar s/d panen

4

Survival rate

     
 

·    Pembenihan

%

50

Larva s/d  tokolan

 

·    Pembesaran

%

75,6

Tokolan s/d udang konsumsi

5

Padat penebaran

     
 

·    Pembenihan

Ekor/m2

40

 
 

·    Pembesaran

Ekor/m2

6

 

6

Harga udang

     
 

a.    Benur

Rp/ekor

37,5

 Di tingkat pembudidaya

 

b.    Tokolan

Rp/ekor

200

 Di tingkat pembudidaya

 

c.    Udang konsumsi

     
 

·   Ukuran

Jumlah/kg

30

Medium

 

·   Harga

Rp/kg

35.000

 Di tingkat pembudidaya

7

Pupuk

     
 

a.    Penggunaan awal

     
 

·   - Kapur

Kg/m2

0,01

 
 

·   - Urea

Kg/m2

0,05

 
 

·   - TSP

Kg/m2

0,01

 
 

b.   Penggunaan ulangan TSP

Kg/m2

0,03

 
Sumber : Lampiran 4,
Catatan : Harga berlaku pada bulan Mei 2003 di wilayah DIY

Berdasarkan asumsi-asumsi tersebut, kegiatan tebar benur dan panen tokolan dilakukan masing-masing 2 kali setiap semester. Sedangkan tebar tokolan dan panen udang konsumsi pada semester 1 dilakukan 5 kali dan pada semester 2 dilakukan 4 kali, kecuali pada tahun 1 semester 1 tebar tokolan dalam kolam pembesaran dilakukan 5 kali, tetapi panen hanya dilakukan 3 kali. Dengan asumsi demikian maka sejak semester 2 sampai dengan semester 8, panen udang dapat berlangsung setiap bulan sehingga dapat menjamin kesinambungan arus kas penerimaan proyek. Untuk jelasnya jadwal kegiatan tebar dan panen dalam kegiatan pendederan dan pembesaran udang galah dapat dilihat pada Lampiran 6.

Sebelum penebaran benur, kolam harus disiapkan terlebih dahulu dengan diberi kapur, pupuk urea dan TSP, sedangkan untuk pemupukan ulangan hanya diberi TSP. Untuk menjamin kualitas benih yang unggul maka benur sebaiknya dibeli dari UPUG/BBUG. Selama pemeliharaan diberikan pakan buatan (pelet) yang dibeli dari kios pakan ikan. Penggunaan pakan disajikan dalam Tabel 8.

Parameter yang digunakan dalam asumsi diatas didasarkan pada hasil pengamatan dan informasi di lapangan, kecuali untuk penggunaan jumlah pakan digunakan parameter hasil penelitian Pusat Riset Perikanan Budidaya. Adapun jenis pakan dan harganya didasarkan pada informasi lapangan yang diperoleh dari pembudidaya.

Tabel 8 : Penggunaan Pakan untuk Benur dan Tokolan Rata-rata Per Ekor

No

Kegiatan

Umur (Bulan)

Rata-rata Pakan
(Kg/Ekor)

Jenis Pakan

1

Pendederan

1 s/d 2

0,009

Seri SGH 1

2

Pembesaran

1

0,021

Seri SGH 2

   

2

0,029

Seri SGH 3

   

3

0,035

Seri SGH 4

Sumber : Lampiran 9

Komponen dan Struktur Biaya Investasi dan Biaya Operasional

a. Biaya investasi

Biaya investasi merupakan biaya tetap (fixed cost) yang terdiri dari beberapa komponen seperti biaya perizinan, sewa tanah, konstruksi kolam, peralatan perikanan dan peralatan lainnya. Biaya perizinan hanya dibutuhkan jika luas usaha budidaya air tawar (air tenang) minimal 2 ha1 (Surat Keputusan Menteri Pertanian No. 815/KPTS/lk.120/11/90) Dalam proyek ini luas lahan usaha hanya 1,1 ha sehingga tidak memerlukan biaya perizinan. Biaya investasi dalam proyek ini meliputi sewa tanah yang harus dikeluarkan setiap tahun, konstruksi kolam dan saluran air pada pra (awal) proyek (tahun 0), pembelian peralatan perikanan yang meliputi jaring hapa, seser, tong fiber glass, keranjang dan lembaran plastik serta peralatan lainnya seperti timbangan dan lain-lain.

Jumlah biaya investasi seluruhnya pada tahun 0 proyek mencapai Rp.5.762.000. Selama periode proyek biaya re-investasi diperlukan untuk komponen biaya yang umur ekonomisnya kurang dari 4 tahun, seperti sewa tanah (setiap tahun) dan alat-alat perikanan (kecuali tong fiber glass) antara 1 dan 2 tahun, sedangkan peralatan lainnya tidak memerlukan biaya reinvestasi. Untuk jelasnya biaya investasi awal proyek disajikan dalam Tabel 9.

Tabel 9 : Biaya Investasi Pendederan dan Pembesaran Udang Galah

No

Jenis Biaya

Nilai (Rp)

Penyusutan
(Rp)

1

Perijinan

0

0

2

Sewa tanah

2.640.000

2.640.000

3

Konstruksi kolam

2.435.000

487.000

4

Alat perikanan

507.000

262.000

5

Peralatan lainnya

180.000

38.250

Jumlah biaya investasi

5.762.000

3.427.250

Sumber : Lampiran 10

b. Biaya operasional

Biaya operasional merupakan biaya tidak tetap (variable cost) yang besarnya tergantung jumlah dan luas penebaran benih pada setiap kegiatan. Komponen biaya operasional terdiri dari pembelian benur udang untuk pendederan dan udang tokolan untuk pembesaran, biaya pembelian kapur, pupuk urea dan TSP, biaya pakan buatan (4 jenis sesuai dengan umur udang yang dipelihara), biaya tenaga kerja tetap dan tenaga kerja tidak tetap (harian). Pada Tabel 10. disajikan biaya operasional proyek.

Tabel 10 : Biaya Operasional Pendederan dan Pembesaran Udang Galah (Rupiah)

No

Jenis Biaya

Semester 1
Tahun 1

Semester 1
Tahun 2-4

Semester 2
Tahun 1 – 4

1

Benih

14.160.000

14.160.000

14.160.000

2

Pupuk

2.056.200

2.056.200

1.766.400

3

Pakan

21.612.993

23.139.291

25.015.834

4

Tenaga kerja

4.725.000

4.935.000

4.830.000

Jumlah

42.554.193

44.290.491

45.772.234

Sumber : Lampiran 11

Dari Tabel 10 terlihat, total biaya operasional yang diperlukan adalah Rp.42.554.193 pada semester 1 tahun ke 1, Rp.44.290.491 pada semester 1 tahun ke 2 sampai dengan tahun ke 4, dan Rp.45.772.234 pada semester 2 tahun ke 1 sampai dengan tahun ke 4. Perbedaan biaya per semester terjadi karena adanya perbedaan luas lahan dan jumlah udang yang ditebar. Dari jumlah biaya operasional, komponen biaya pakan mencapai 50,78% – 54,65% dan sisanya adalah komponen biaya lainnya.

Kebutuhan Dana Untuk Investasi dan Modal Kerja

Dana yang diperlukan dalam budidaya pendederan dan pembesaran udang galah terdiri dari dana investasi dan modal kerja yang bersumber dari dana sendiri dan dana kredit sebagaimana disajikan pada Tabel 11.

Tabel 11 : Kebutuhan Dana untuk Investasi dan Modal Kerja

No

Rincian Dana Proyek

Total Biaya (Rp)

1

Dana investasi yang bersumber dari

 
 

a. Kredit

3.745.300

 

a.      b. Dana sendiri

2.016.700

 

Jumlah Dana investasi

5.762.000

2

Dana modal kerja yang bersumber dari

 
 

a. Kredit 

13.553.137

 

b. Dana sendiri

7.297.843

 

Jumlah Dana modal kerja

20.850.980

3

Total Dana proyek yang bersumber dari

 
 

a. Kredit

17,298.437

 

b. Dana sendiri

9,314.543

 

Jumlah Dana proyek

26,612.980

Sumber : Lampiran 12

Dana untuk biaya investasi yang diperlukan adalah sebesar seluruh biaya investasi pada tahun 0 proyek, yaitu Rp.5.762.000. Sumber dana pembiayaan investasi diasumsikan 65% dari kredit perbankan, yaitu Rp.3.745.300 dan 35% dari dana sendiri, yaitu Rp.2.016.700. Dana modal kerja untuk biaya operasional yang diperlukan pada tahun 0 proyek adalah sebesar Rp.20.850.980 , diasumsikan 65% atau Rp.13.553.137 bersumber dari kredit perbankan dan 35% atau Rp.7.297.843 dari dana sendiri. Dana yang diperlukan sebagai modal kerja dihitung atas dasar biaya operasional selama 1-3 bulan kegiatan proyek, yaitu sebelum panen pertama udang tokolan pada bulan 3 dan panen udang konsumsi pada bulan 4.

Sumber kredit adalah dari perbankan dan jenis kredit adalah kredit komersial dimana ketentuan dan persyaratan kredit disesuaikan dengan kondisi yang berlaku di masing-masing bank. Oleh karena belum ada bank yang membiayai budidaya udang galah, maka untuk keperluan perhitungan angsuran kredit investasi dan kredit modal kerja digunakan asumsi sebagai berikut :

  • Jangka waktu pinjaman 2 tahun, tanpa masa tenggang (grace period)
  • Suku bunga 22% menurun
  • Angsuran pokok dan bunga per triwulan

Berdasarkan asumsi tersebut, pembayaran angsuran pokok dan bunga kredit adalah seperti pada Tabel 12.

Tabel 12 : Angsuran Pokok dan Bunga Kredit

Tahun

Periode

Angsuran
Pokok

Angsuran
Bunga

Total
Angsuran

Saldo
Akhir

1. Kredit investasi Rp.3.745.300

 

Tahun 1

Semester 1

936.325

386.234

1.322.559

2.808.975

   

Semester 2

936.325

283.238

1.219.563

1.872.650

 

Tahun 2

Semester 1

936.325

180.243

1.116.568

936.325

   

Semester 2

936.325

77.247

1.013.572

0

 2. Kredit modal kerja  Rp.13.553.137

 

Tahun 1

Semester 1

3 .388.284

1.397.667

4.785.951

10.164.853

   

Semester 2

3 .388.284

1.024.956

4.413.240

6.776.568

 

Tahun 2

Semester 1

3 .388.284

652.245

4.040.529

3.388.284

   

Semester 2

3 .388.284

279.533

3.667.818

0

Sumber : Lampiran 13

Produksi dan Pendapatan

Hasil produksi dari kegiatan pendederan dan pembesaran masing-masing adalah udang tokolan dan udang konsumsi. Proyeksi pendapatan bersih usaha ini menunjukkan defisit pada tahun 0 proyek sebesar Rp.26.612.980 namun pada tahun-tahun berikutnya pendapatan bersih setiap semester sudah surplus. Pendapatan bersih per semester rata-rata Rp.11.879.402 atau per bulan Rp.1.979.900 (lihat Lampiran 15). Hasil proyeksi produksi dan pendapatan kotor setiap semester disajikan dalam Tabel 13.

Proyeksi Laba Rugi dan Break Even Point

Hasil proyeksi laba rugi menunjukkan bahwa pada tahun pertama semester 1 proyek mengalami kerugian sebesar Rp.6.190.354 namun pada tahun-tahun berikutnya setiap semester laba rugi proyek selalu positif (lihat Lampiran 16). Laba proyek selama 8 semester adalah Rp.68.761.939 atau rata-rata tiap semester adalah Rp.8.595.242 dengan profit margin 14,08%.

Dengan mempertimbangkan biaya tetap, biaya variabel dan hasil penjualan udang galah, dari hasil analisis diperoleh rata-rata BEP pola usaha ini adalah sebesar Rp.23.029.278 atau setara dengan 658 kg udang galah konsumsi. Apabila diperhitungkan sebagai harga per volume produk maka BEP untuk udang galah dengan pola usaha ini adalah sebesar Rp 33.209 per kg.

Tabel 13 : Produksi dan Pendapatan Kotor Per Semester

Tahun

Uraian

Satuan

Semester 1

Semester 2

1. Udang tokolan

Th 1 – 4

a. Luas kolam per panen

M2

2.200

2.200

 

b. Frekuensi panen

Kali

2

2

 

c. Produksi per panen

Ekor

44.000

44.000

 

d. Total produksi

Ekor

88.000

88.000

 

·   Dibesarkan di kolam tokolan

Ekor

25.200

12.600

 

·   Di jual

Ekor

62.800

75.400

 

e. Pendapatan kotor

Rp

12.560.000

15.080.000

2. Udang konsumsi

Thn 1

a. Luas kolam per panen

M2

2.100

2.100

 

b. Frekuensi panen

Kali

3

4

 

c. Produksi per panen

Ekor

9.526

9.526

 

d. Total produksi

Ekor

28.577

38.102

   

Kg

953

127

 

e. Pendapatan kotor

Rp

33.339.600

44.452.800

 Thn 2 – 4

a. Frekuensi panen

Kali

5

4

 

b. Total produksi

Ekor

47.628

38.102

   

Kg

1.588

127

 

c. Pendapatan kotor

Rp

55.566.000

44.452.800

Proyeksi Arus Kas dan Kelayakan Proyek

Analisis arus kas pola usaha ini dapat dilihat pada Lampiran 17. Berdasarkan analisis arus kas dilakukan perhitungan net Benefit/Cost ratio (Net B/C ratio), Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR) dan Pay Back Period (PBP).

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa usaha pendederan dan pembesaran udang galah menguntungkan karena pada suku bunga 22% per tahun net B/C ratio = 2,71 dan NPV = Rp.45.634.954. Dengan nilai IRR = 99,37% artinya proyek ini secara finansial layak dilaksanakan sampai pada tingkat suku bunga 99% (lihat Tabel 14).

Tabel 14 : Kelayakan Budidaya Pendederan dan Pembesaran Udang Galah

No

Kriteria Kelayakan

Nilai

1

Net B/C ratio pada DF 22%

2,71

2

NPV pada DF 22% (Rp)

45.634.954

3

IRR (%)

99,37

4

PBP

8 bulan

Sumber : Lampiran 17

Dari tabel diatas terlihat PBP proyek adalah 8 bulan artinya seluruh biaya investasi sudah dapat dikembalikan dalam masa tersebut dan hasil penjualan pada semester selanjutnya merupakan pendapatan bersih dari investasi proyek.

Analisis Sensitivitas Kelayakan Proyek

Dalam analisis kelayakan suatu proyek, penerimaan dan biaya-biaya didasarkan kepada asumsi dan proyeksi yang sudah tentu memiliki ketidakpastian yang cukup tinggi, sehingga perlu dilakukan analisis sensitivitas. Analisis sensitivitas dimaksudkan untuk menguji (test) seberapa jauh proyek yang dilaksanakan sensitif terhadap perubahan dari harga-harga input dan output, kesalahan dalam pembangunan fisik dan keperluan sarana operasional ataupun kelemahan estimasi hasil produksi. Dalam pola pembiayaan ini, analisis sensitivitas menggunakan 3 skenario, yaitu :

(1). Skenario I

Penerimaan proyek mengalami penurunan sedangkan biaya investasi dan biaya operasional dianggap tetap (konstan). Penurunan penerimaan dapat terjadi apabila harga tokolan atau udang galah konsumsi menurun atau asumsi jumlah produksi udang galah tidak tercapai.

(2). Skenario II

Biaya operasional mengalami kenaikan sedangkan biaya investasi dan penerimaan proyek dianggap tetap (konstan). Kenaikan biaya operasional dapat terjadi apabila harga alat dan sarana produksi meningkat. Dalam hal ini mengingat komponen biaya terbesar budidaya adalah pada pakan, maka diperkirakan peningkatan biaya produksi akan sensitif pada kenaikan harga pakan.

(3). Skenario III

Skenario ini merupakan gabungan dari skenario I dan II yaitu diasumsikan penerimaan proyek mengalami penurunan dan pada saat yang bersamaan biaya operasional juga mengalami kenaikan, sementara biaya investasi dianggap tetap.
Hasil analisis sensitivitas disajikan dalam Tabel 15, Tabel 16 dan Tabel 17

Tabel 15 : Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario I

No

Kriteria Kelayakan

Penerimaan Turun

14%

15%

1

Net B/C ratio pada DF 22%

1,05

0,94

2

NPV pada DF 22% (Rp)

1.397.835

-1.761.959

3

IRR (%)

24,39

19,21

4

PBP

2 thn 4 bln

2 thn 7 bln


Tabel 16 : Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario II

No

Kriteria Kelayakan

Biaya Operasional Naik

19%

20%

1

Net B/C ratio pada DF 22%

1,03

0,96

2

NPV pada DF 22% (Rp)

1.067.812

-1.277.827

3

IRR (%)

23,78

20,09

4

PBP

2 thn 5 bln

2 thn 6 bln

Sumber : Lampiran 20 sampai dengan Lampiran 21
Tabel 17 : Hasil Analisis Sensitivitas Proyek Skenario III

No

Kriteria Kelayakan

Pendapatan turun dan
Biaya Operasional Naik

19%

20%

1

Net B/C ratio pada DF 22%

1,05

0,87

2

NPV pada DF 22% (Rp)

1.591.488

-3.913.945

3

IRR (%)

24.67

15,49

4

PBP

2 thn 4 bln

3 thn 0 bln

Sumber : Lampiran 22 dan Lampiran 23


Dari tabel-tabel diatas tampak bahwa pada skenario I dengan asumsi terjadi penurunan penerimaan, pada saat penerimaan turun 14% proyek ini masih menguntungkan karena pada suku bunga 22%, Net B/C ratio lebih besar dari satu dan NPV positif. IRR masih mencapai 24,39% artinya proyek ini tetap layak dilaksanakan sampai pada tingkat suku bunga 24%. Namun dengan asumsi penerimaan turun 15%, proyek ini sudah tidak layak dilaksanakan karena pada suku bunga 22%, Net B/C ratio lebih kecil dari satu dan NPV negatif serta IRR lebih kecil dari suku bunga bank.

Pada skenario II dengan asumsi terjadi kenaikan biaya operasional, pada saat kenaikan biaya mencapai 19% proyek ini masih menguntungkan karena pada suku bunga 22% Net B/C ratio lebih besar dari satu dan NPV positif. IRR proyek ini mencapai 23,78% artinya proyek ini tetap layak dilaksanakan sampai pada tingkat suku bunga 23%. Namun dengan asumsi biaya operasional naik 20%, proyek ini sudah tidak layak dilaksanakan karena pada suku bunga 22%, Net B/C ratio lebih kecil dari satu dan NPV negatif serta IRR lebih kecil dari suku bunga bank.

Pada skenario III dengan asumsi terjadi penurunan penerimaan dan kenaikan biaya operasional, pada saat penurunan penerimaan dan kenaikan biaya mencapai 8%, proyek masih menguntungkan karena pada suku bunga 22% Net B/C ratio lebih besar dari satu dan NPV positif. IRR proyek ini mencapai 24,67% artinya proyek ini tetap layak dilaksanakan sampai pada tingkat suku bunga 24%. Namun dengan asumsi penurunan penerimaan dan kenaikan biaya operasional sebesar 9%, proyek ini sudah tidak layak dilaksanakan karena pada suku bunga 22%, Net B/C ratio lebih kecil dari satu dan NPV negatif serta IRR lebih kecil dari suku bunga bank.

Hasil analisis aspek keuangan diatas menunjukkan bahwa usaha pendederan dan pembesaran udang galah dapat memberikan pendapatan yang memadai bagi pembudidaya sehingga proyek ini layak untuk dilaksanakan. Bagi bank, usaha ini juga prospektif untuk dibiayai.

@

 

Taken from :bi.go.id

About these ads