You are currently browsing the daily archive for Januari 13, 2008.


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

16 Desember 2005

Perikanan LautData Statistik Perikanan Tangkap Indonesia (2000) menunjukkan bahwa produksi perikanan Indonesia meningkat rata-rata sebesar 3,39% dari tahun 1999-2000, dengan peningkatan dari 3.682.444 ton pada tahun 1999 dan 3.807.191 ton pada tahun 2000.

  Sementara itu berdasarkan catatan DKP, potensi sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,26 juta ton per tahun, terdiri dari jenis ikan pelagis besar 1,05 juta ton; pelagis kecil 3,24 juta ton; demersal 1,79 juta ton; udang 0,08 juta ton; cumi-cumi 0,03 juta ton; dan ikan karang 0,08 juta ton.

Berdasarkan data Direktorat Jendral Perikanan Tangkap (2002), produksi Indonesia tahun 2000 untuk ikan kerapu mencapai 48.422 MT, udang barong/lobster sebesar 3.596 MT, rajungan sebesar 14.053 MT dan kepiting bakau sebesar 8.774 MT.

Data-data di atas menunjukkan bahwa potensi perikanan Indonesia cukup besar sebagai salah satu negara produsen ikan konsumsi laut dunia. Menurut catatan FAO, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia dalam menghasilkan ikan (FAO, 2002). Sementara dalam jajaran eksportir, Indonesia menduduki jajaran ke-10 setelah Thailand, Norwegia, AS, China, Denmark, Kanada, Taiwan, Cile dan Rusia. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

04 Mei 2006

© WWF-Indonesia, 2006

Aroma lezat makanan laut menyebar ke seluruh penjuru areal makan Lippo Karawaci, Tangerang, saat Bule Ciputra, Master Chinese Chef dari Imperial Aryaduta Hotel and Country Club menunjukkankan kepiawaiannya dalam mengolah berbagai jenis mahluk laut menjadi makanan lezat yang sehat, pada Sabtu siang, 29 April 2006.

© WWF-Indonesia, 2006

Acara masak memasak kali ini jelas istimewa, karena tujuannya bukan hanya sekedar untuk memuaskan mulut dan perut pengunjung saja, tetapi juga untuk memberikan informasi dan mengajak konsumen memahami bahwa saat ini produk hidangan laut Indonesia sedang terancam keberadaannya.

“Ya ini kan untuk masa depan anak cucu kita juga, kalau terumbu karang yang jadi rumah ikan rusak, ya nanti tidak ada ikan dan teman-temannya lagi, artinya kita juga tidak bisa lagi menikmati makanan laut,”jelas Bule, tentang kesediaannya bergabung dengan kegiatan Kampanye”Laut Sehat, Seafood Sehat” yang dilakukan WWF-Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Unilever Indonesia Peduli untuk mempromosikan perikanan yang bertanggungjawab.

“Padahal makanan laut sudah sangat terkenal sebagai makanan yang sehat dan lezat, sehingga penting sekali menjaga lingkungan laut kalau kita mau selalu sehat juga,”tambahnya. Walau pun keikutsertaannya dalam mendukung kegiatan lingkungan masih terbilang baru, Bule berharap melalui kelezatan makanan yang diraciknya, dapat menggugah kepedulian konsumen terhadap masalah semakin berkurangnya cadangan ikan di Indonesia.

find out the rest of this entry..>>

© WWF-Indonesia, 2006

karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

21 Juni 2006

Pada akhir Februari, 617 ikan Napoleon kembali bebas berenang di wilayah Bunaken dan Pulau Gangga, Sulawesi Utara.  Kelompok ikan Napoleon ini dua kali lolos dari maut, dari meja makan konsumen Hongkong dan cairan formalin yang mematikan di pengadilan Manado.

mengantar ikan kembali ke habitatnya© WWF-Indonesia, 2006

ikan-ikan napoleon kembali berenang bebas dihabitatnya © WWF-Indonesia/

1 Februari 2006, merupakan saat yang bersejarah dalam kasus penyitaan ikan Napoleon di Manado.  Untuk pertama kali, 268 ekor Napoleon ikan sitaan kembali dilepas ke laut lepas di kawasan TN Bunaken, yaitu disekitar Pulau Nain, Pulau Bunaken dan pesisir utara Manado.  Lokasi pelepasan dinilai lebih aman dan jauh dari jangkauan para penangkap ikan illegal.“WWF Indonesia berterimakasih dan memberikan penghargaan setinggi-tingginya bagi Direktorat Polair Polda Sulut dan Balai Taman Nasional Bunaken yang berperan aktif dalam penyelesaian kasus Napoleon sitaan ini,”ungkap Angelique Batuna, Pimpinan Proyek Bunaken, WWF-Indonesia pada saat pelepasan.  Pemda Sulut melalui Lexy, dari Dinas Perikanan menyatakan komitmen terhadap upaya pelestarian sumber daya laut dan mendukung upaya konservasi yang dilakukan Balai TN Bunaken dan LSM,”Kami akan menindak tegas pelaku dan siapa pun yang terlibat”, tegasnya.

Sebelumnya, pengadilan Manado menyelesaikan kasus ikan sitaan dengan caranya sendiri dengan tidak melibatkan pihak lain. Biasanya Pengadilan Menado mengembalikan ikan hasil sitaan ke pemiliknya atau mengawetkan ikan dengan formalin untuk disimpan sebagai barang bukti. Pelepasan kembali dapat mengembalikan keseimbangan ikan napoleon di habitatnya.   Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

04 April 2007
© WWF-Indonesia, 2007

Lamalera, Nusa Tenggara Timur (22/03/07) – Masyarakat, berikut pengetahuan dan nilai-nilai tradisional mereka merupakan partner yang penting dalam konservasi. WWF percaya bahwa bekerja dengan masyarakat itu penting dalam perlindungan terhadap lingkungan, termasuk keanekaragaman biologi di Indonesia yang kaya.Pada tanggal 21 Maret, WWF-Indonesia bekerja-sama dengan Komunitas National Geographic, akan meluncurkan Photovoices Indonesia – sebuah program foto-buku harian yang partisipatif yang akan membagikan kamera kepada 50 orang warga Lamalera, sebuah desa yang indah di pinggiran laut Solor-Lembata-Alor di Nusa Tenggara Timur agar mereka bisa mendokumentasikan nilai-nilai mereka tentang alam dan budayanya.

© WWF-Indonesia, 2007

Acara Pembukaan Photovoives di Lewoleba, Lembata akan dihadiri oleh para tetua adat dan aparat pemerintah, termasuk Bupati, Drs. Anderias Duli Manuk. Yang juga akan hadir adalah Dr. Lida Pet-Soede, Direktur Program Laut WWF-Indonesia, John Echave, Editor Senior, Majalah National Geographic dan Ann McBride Norton, Direktur Photovoices.” “Pemahaman akan tradisi dan kepercayaan masyarakat penting untuk membantu kita mengembangkan strategi-strategi pembangunan berkelanjutan untuk melindungi sumber-sumber daya alam, ” kata Dr. Pet-Soede. “Dalam mengimplementasikan program-program konservasinya, WWF selalu membangun kerja-sama yang kuat dengan warga setempat dan Photovoices memberikan kita sarana baru yang kreatif untuk mendengar suara warga setempat dan untuk mempromosikan konservasi dan sumber-sumber daya yang berkelanjutan demi kesejahteraan masyarakat, “tambahnya. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

asd ©WWF-Indonesia

Laut adalah salah satu ekosistem yang paling kaya dan paling komplek di dunia. Bukan hanya jutaan spesies hewan secara langsung mau pun tidak langsung menggantungkan hidupnya pada laut, tetapi juga jutaan manusia.

Masyarakat pesisir di Indonesia memperoleh makanannya dari laut. Laut adalah sumber kehidupan dan sumber nutrisi utama untuk masyarakat pesisir. Lebih jauh lagi, permintaan akan seafood sangat tinggi, baik di pasar local mau pun pasar internasional.

Hal ini menimbulkan ancaman dari manusia untuk ekosistem. Praktek penangkapan ikan tidak ramah lingkungan, penggunaan sianida dan bom, menyebabkan kerusakan ekosistem laut. Ekosistem laut yang rusak menimbulkan biaya social yang tinggi di Indonesia, yaitu dengan meningkatnya masalah-masalah kesehatan dan kemiskinan.

Dari pengalaman kerja bertahun-tahun, kami mengarahkan kerja kami memasuki aspek yang lebih kritis yaitu pembangunan berkelanjutan. Upaya mencari solusi jangka panjang untuk masalah-masalah yang dihadapi manusia dan alam, menggarisbawahi kerja WWF dan menjadi alasan WWF bekerja bersama pihak-pihak lain. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

Di Pasifik, populasi penyu belimbing menurun drastis. Di era 80an pertahun, terdapat sekitar 90.000 ekor betina yang bertelur, tetapi sekarang hanya tinggal 2.000 ekor saja. Para ilmuwan dan pakar konservasi semakin menyadari bahwa populasi penyu laut dapat bertahan hidup akan sangat tergantung pada menurunnya ancaman dari pengambilan langsung dan penangkapan tidak sengaja di laut, serta melakukan perlindungan yang lebih kuat dari sekedar melindungi habitat bertelurnya.

ex-fire ©WWF-Indonesia/Dewi Satriani

Penangkapan tidak sengaja – Tangkapan Sampingan-, merupakan ancaman besar terhadap penyu laut. Setiap tahun, sekitar 200.000 loggerheads dan 50.000 penyu belimbing ditangkap oleh kapal penangkap tuna, ikan todak, dan sejenisnya komersial. Saat ini Tangkapan Sampingan tidak dilihat sebagai satu ancaman besar oleh para ahli, betapa pentingnya issu ini terhadap penurunan populasi yang serius seperti penyu belimbing di Pasifik bagian barat.

Berawal dari kerja penelitian mengikuti penyu belimbing betina yang dipasang peneng melalui satelit, yang bertujuan untuk mempelajari pergerakan pasca bertelur dan mengumpulkan informasi tentang pola distribusi kapal tuna dengan jaring long-line di bagian tengah dan barat lautan Pasifik, menemukan hampir tak terelakkan bahwa penyu belimbing akan bertemu baik dengan perahu penangkap berskala kecil di kawasan dekat pantai atau pun dengan perahu berjaring long-line di perairan terbuka pada saat migrasi regularnya. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

08 Nopember 2007

Bleached hard coral a

Oleh Marthen Welly/The Nature Conservancy

 

Akhir-akhir ini pembicaraan mengenai pemanasan global (global warming) yang mengakibatkan perubahan iklim (climate change) kian ramai dibicarakan dan menjadi pusat perhatian dunia. Terlebih lagi, pada bulan Desember yang akan datang, perhelatan tingkat dunia mengenai perubahan iklim akan diadakan di Bali dibawah koordinasi Perserikatan Bangsa-Bangsa. Pertemuan akbar yang disebut United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) akan dihadiri kurang lebih perwakilan pemerintahan 120 negara dan sekitar 10.000 peserta.

 

Pada intinya agenda utama UNFCCC adalah mempersiapkan bumi kita ini agar dapat mengurangi pemanasan global dan mengatasi dampaknya. Beberapa isu utama yang akan dibahas adalah kerusakan hutan, perdagangan karbon, dan penerapan protokol Kyoto. Sejauh ini hutan dipercaya sebagai paru-paru dunia yang dapat mengikat emisi karbon yang dilepaskan ke udara oleh pabrik-pabrik industri, kendaraan bermotor, kebakaran hutan, asap rokok dan banyak lagi sumber-sumber emisi karbon lainnya, sehingga dapat mengurangi dampak pemanasan global.

 

Indonesia sebagai negara yang memiliki hutan cukup luas di dunia, sangat memainkan peran penting untuk bisa menjaga paru-paru dunia. Namun sesungguhnya Indonesia yang 2/3 wilayahnya adalah lautan, juga memiliki fungsi dan peran cukup besar dalam mengikat emisi karbon, bahkan dua kali lipat dari kapasitas hutan. Emisi karbon yang sampai ke laut, diserap oleh phytoplankton yang jumlahnya sangat banyak dilautan, dan kemudian ditenggelamkan ke dasar laut atau diubah menjadi sumber energi ketika phytoplankton tersebut dimakan oleh ikan dan biota laut lainnya. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

By Fen Montaigne Photographs by Randy Olson and Brian Skerry

fish

The extent to which giant bluefin fleets flout regulations became evident during a visit to the Italian island of Lampedusa, south of Sicily. To give the tuna a reprieve during peak spawning season, EU and ICCAT rules prohibit spotter aircraft from flying in June. The regulation is often ignored.

I flew one June morning with Eduardo Domaniewicz, an Argentine-American pilot who has spotted tuna for French and Italian purse seiners since 2003. Riding shotgun was Domaniewicz’s spotter, Alfonso Consiglio. They were combing the waters between Lampedusa and Tunisia, and they were not alone: Three other spotter aircraft were prowling illegally, relaying tuna sightings to some of the 20 purse seiners in the water below. (After two hours, high winds and choppy seas, which make it difficult both to see and net the bluefin, forced the planes to return to Lampedusa and Malta.) Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net


By Fen Montaignefish Photographs by Randy Olson and Brian Skerry

The story of giant bluefin tuna began with unfathomable abundance, as they surged through the Straits of Gibraltar each spring, fanning out across the Mediterranean to spawn. Over millennia, fishermen devised a method of extending nets from shore to intercept the fish and funnel them into chambers, where they were slaughtered. By the mid-1800s, a hundred tuna traps—known as tonnara in Italy and almadraba in Spain—harvested up to 15,000 metric tons of bluefin annually. The fishery was sustainable, supporting thousands of workers and their families.

Today, all but a dozen or so of the trap fisheries have closed, primarily for lack of fish but also because of coastal development and pollution. One of the few that remains is the renowned tonnara, founded by Arabs in the ninth century, on the island of Favignana off Sicily. In 1864, Favignana’s fishermen took a record 14,020 bluefin, averaging 425 pounds (190 kilograms). Last year, so few fish were caught—about 100, averaging 65 pounds (30 kilograms)—that Favignana held only one mattanza, which occurs when the tuna are channeled into a netted chamber and lifted to the surface by fishermen who kill them with gaffs. One sign of the Favignana tonnara’s diminishment is that it is run by a Rome marketing executive, Chiara Zarlocco, whose plan for the future is to dress the fishermen in historic costumes as they reenact the mattanza. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net


By Fen Montaigne Photographs by Randy Olson and Brian Skerry

“Cruel” may seem a harsh indictment of the age-old profession of fishing—and certainly does not apply to all who practice the trade—but how else to portray the world’s shark fishermen, who kill tens of millions of sharks a year, large numbers finned alive for shark-fin soup and allowed to sink to the bottom to die? How else to characterize the incalculable number of fish and other sea creatures scooped up in nets, allowed to suffocate, and dumped overboard as useless bycatch? Or the longline fisheries, whose miles and miles of baited hooks attract—and drown—creatures such as the loggerhead turtle and wandering albatross?

Do we countenance such loss because fish live in a world we cannot see? Would it be different if, as one conservationist fantasized, the fish wailed as we lifted them out of the water in nets? If the giant bluefin lived on land, its size, speed, and epic migrations would ensure its legendary status, with tourists flocking to photograph it in national parks. But because it lives in the sea, its majesty—comparable to that of a lion—lies largely beyond comprehension.

One of the ironies—and tragedies—of the Mediterranean bluefin hunt is that the very act of procreation now puts the fish at the mercy of the fleets. In the spring and summer, as the water warms, schools of bluefin rise to the surface to spawn. Slashing through the sea, planing on their sides and exposing their massive silver-colored flanks, the large females each expel tens of millions of eggs, and the males emit clouds of milt. From the air, on a calm day, this turmoil of reproduction—the flashing of fish, the disturbed sea, the slick of spawn and sperm—can be seen from miles away by spotter planes, which call in the fleet. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net


fish

Global Fisheries Crisis @ National Geographic Magazine

By Fen Montaigne Photographs by Randy Olson and Brian Skerry
The Mediterranean may lose its wild bluefin tuna. High-tech harvesting and wasteful management have brought world fish stocks to dangerous lows. This story explores the fish crisis—as well as the hope for a new relationship between man and the sea.

No more magnificent fish swims the world’s oceans than the giant bluefin tuna, which can grow to 12 feet (4 meters) in length, weigh 1,500 pounds (680 kilograms), and live for 30 years. Despite its size, it is an exquisitely hydrodynamic creation, able to streak through water at 25 miles (40 kilometers) an hour and dive deeper than half a mile (0.8 kilometers). Unlike most other fish, it has a warm-blooded circulatory system that enables it to roam from the Arctic to the tropics. Once, giant bluefin migrated by the millions throughout the Atlantic Basin and the Mediterranean Sea, their flesh so important to the people of the ancient world that they painted the tuna’s likeness on cave walls and minted its image on coins.

The giant, or Atlantic, bluefin possesses another extraordinary attribute, one that may prove to be its undoing: Its buttery belly meat, liberally layered with fat, is considered the finest sushi in the world. Over the past decade, a high-tech armada, often guided by spotter planes, has pursued giant bluefin from one end of the Mediterranean to the other, annually netting tens of thousands of the fish, many of them illegally. The bluefin are fattened offshore in sea cages before being shot and butchered for the sushi and steak markets in Japan, America, and Europe. So many giant bluefin have been hauled out of the Mediterranean that the population is in danger of collapse. Meanwhile, European and North African officials have done little to stop the slaughter. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

29 Maret 2007

WWF-Indonesia bekerjasama dengan National Geographic Indonesia dan The Nature Conservancy mempersembahkan buklet suplemen majalah NGI edisi April 2007 dengan judul “Krisis Kelautan Indonesia”.

Buklet setebal 24 halaman ini berisi tiga artikel mengenai perikanan tuna dan kawasan perlindungan laut di Indonesia, disusun bersama-sama oleh WWF [Indar Wati Aminuddin, Lida Pet-Soede, Imam Musthofa Z, Jose A. Ingles, Dewi Satriani], TNC [Tri Soekirman, DGR Wiadnya] dan NGI [Bayu Dwi Mardana Kusuma].

“Rawai Nan Sepi” bercerita tentang kondisi perikanan tuna Indonesia yang mengalami penurunan stok/cadangan ikan, khususnya untuk jenis tuna sirip biru dan tuna mata besar. Diperburuk dengan pengelolaan yang lemah dan ketinggalan Indonesia dalam menjadi anggota organisasi pengelola perikanan regional, sehingga Indonesia tidak mampu menembus pasar dunia.

“Memburu Tuna di Timur Nusantara” merupakan catatan harian seorang observer perikanan yang mengikuti pelayaran sebuah kapal rawai (longline) untuk berburu tuna. Observer tersebut adalah pengawas yang sebetulnya bertugas membantu awak kapal untuk melepaskan penyu yang secara tidak sengaja menjadi tangkapan sampingan (bycatch) dalam perikanan tuna rawai. Namun catatannya mencerminkan wajah lesu perikanan tuna karena sulitnya menemukan ikan di lautan kita. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

28 Mei 2007

Sabtu, 19 Mei 2007 telah ditemukan Ikan Raja Laut, jenis ikan purba yang dikenal dengan sebutan coelacanth (Coelecanth latemeria), dekat Pantai Malalayang, Manado, Sulawesi Utara. Penemuan ikan coelecanth di perairan Sulawesi Utara ini, merupakan penemuan kedua kalinya, setelah penemuan pertama terjadi pada 1998 di Pantai Manado Tua. Ikan, dengan panjang sekitar 130 cm, lebar 46 cm dengan bobot sekitar 50 kg, yang dianggap sudah punah 65 juta tahun silam ini ditemukan hidup-hidup oleh Yustinus Lahama dan anaknya Delfi Lahama, nelayan dari Kelurahan Bahu Kecamatan Malalayang.

Yustinus dan anaknya pada hari itu, pergi kelaut untuk memancing ikan untuk dikonsumsi sendiri. Setelah sekitar 5 menit menenggelamkan umpan ikan malalugis dikedalaman kira-kira 70 meter, mereka merasa kail tersangkut sesuatu yang besar. Setelah diangkat, mereka melihat ikan besar berwarna gelap berbintik-bintik putih tersangkut pada mata kail. Diceritakan oleh Yustinus “Saat tersangkut, ikan tersebut tampak tidak melakukan perlawanan, tetapi setelah diangkat dan ditaruh dalam perahu ikan itu berontak hingga merusak beberapa barang dalam perahu”.

© WWF-Indonesia

Yustinus awalnya tidak mengetahui jenis ikan apa yang baru saja ia peroleh, bahkan ia sempat akan memotong dan mengkonsumsi ikan tersebut. Secara kebetulan Darwin Papendeng karyawan Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi datang dan berhasil mencegah ikan itu dipotong. Darwin Papendeng mengenali ikan coelacanth itu, dengan segera ia menghubungi Dinas Perikanan Propinsi, Dinas Pariwisata dan media massa di Sulawesi Utara untuk mengabarkan penemuan coelacanth. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

30 Juli 2007

Kawasan Konservasi Laut Berau, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur bukan hanya memikat hati S.M Nugroho, Oktafiano Canaka, Jean dan Debbie Hanna. Pada 18 – 23 Juni 2007, para penyelam ini berlatih menggunakan protokol pemeriksaan kesehatan terumbu karang yang digunakan oleh Program Bersama Kelautan WWF-Indonesia – The Nature Conservancy (TNC) di perairan kepulauan Derawan.

Kepulauan Derawan merupakan lokasi peteluran penyu penting di Indonesia© WWF-Indonesia

Bukan Sekedar Menyelam

Dibawah bimbingan Sonny Tasidjawa, peneliti TNC, keempat relawan tim relawan Indonesia Reef 2007 ini dapat mengidentifikasikan jenis dan panjang ikan yang hilir mudik di perairan dan memiliki kaitan erat dengan pertumbuhan atau kerusakan karang. Dicatat lengkap dengan nama ilmiahnya. Mereka juga mengidentifikasi kondisi karang di kawasan tersebut. Baca entri selengkapnya »


karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |

tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain
MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN

022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net

16 Desember 2005

Hasil kajian tentang Aspek Ekologi Taman Nasional Kepulauan Wakatobi (TNKW), diterbitkan atas kerjasama Direktorat Jenderal PHPA Departemen Kehutanan, WWF Indonesia Marine Program, dan The Nature Conservancy – Southeast Asia Center for Marine Protected Areas. Hasil Penelitian ini disajikan dalam bahasa Inggris, tetapi juga disediakan ringkasan dalam bahasa Indonesia.

Penelitian dilakukan pada tanggal 4 –16 Mei 2003 dalam rangka pemetaan pola sebaran dan kondisi terkini dari terumbu karang dan keanekaragaman hayati pendukung lainnya, untuk tujuan sebagai masukan terhadap rencana merevisi zonasi taman nasional dan system pengelolaan secara keseluruhan. Tim peneliti terdiri dari satu kelompok pakar biologi dan ekologi laut yang berpengalaman untuk wilayah Asia Tenggara. Mereka melakukan pemantauan terhadap komunitas laut yang berasosiasi dengan terumbu. Para pakar ini kagum dengan keragaman sumberdaya daya laut yang relatif tinggi, mengingat keragaman habitat yang ditemukan relatif rendah, karena terumbu karang di perairan Wakatobi (Wakatobi = Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia, and Binongko) secara umum dipengaruhi oleh kondisi laut terbuka. Tercatat 396 spesies karang, dimana jumlah ini cukup tinggi bila dibandingkan dengan habitat yang cenderung rendah keragamannya. Kondisi ini merupakan sebuah indikasi yang menggambarkan bahwa Wakatobi terletak di pusat keanekaragaman hayati terumbu karang. Sekitar 942 spesies ditemukan di wilayah Wakatobi, dan diperkirakan kategori keanekaragaman hayati wilayah perairan Wakatobi sama dengan Teluk Milne di Papua Nugini dan Komodo di Indonesia. Hasil penelitian ekologi ini sangat awal dan survei lebih detail untuk wilayah yang lebih luas perlu dilakukan. Akan tetapi hasil survei menyarankan bahwa bagian barat laut Wakatobi merupakan bagian yang penting untuk fokus upaya-upaya konservasi, mengingat wilayah ini diketahui memiliki mayoritas keragaman ikan yang tinggi. Untuk itu, sangat diperlukan penegakan hukum dan implementasi peraturan perikanan yang lebih baik di wilayah Wakatobi, untuk mengatasi terjadi penurunan populasi secara terus-menerus.

@

 

Taken from :WWF.id

RAIH SARJANA NEGERI 3 TAHUN - TANPA SKRIPSI - ABSENSI HADIR KULIAH BEBAS - COCOK BUAT ANDA KARYAWAN SIBUK
http://www.sarjana3tahunlul.us/

since dec27'07, thanks to

  • 3,413,319 visitors
Potensi perikanan di republik ini sungguh sangat berlimpah di perairan darat maupun di lautan, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Karena kebokbrokan mental aparatur negara hasil perikanan laut kita terkuras oleh 'ilegal fishing' -nyaris sama seperti hutan kita yang gundul oleh 'ilegal logging', semuanya hanya dinikmati sekelompok rakus yang tidak memikirkan kemajuan bangsa bersama. Bundel kliping info perikanan ini semoga dapat menghimpun segala informasi untuk menggugah masyarakat luas akan urgensi penyelamatan potensi perikanan nasional khususnya perikanan laut agar tetap lestari bagi kemakmuran anak cucu kita.

a





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile



pranatamangsa

Januari 2008
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
apakah anda memerlukan bea siswa ke PTN ? anda lulusan SLTA 2007,2008 dan rangking 9 besar di kelas ?
beasiswa klik disini

Tulisan Terkini

Flickr Photos

yellow

Vanessa bikini girl -small

tits31rr

Tiff n Dana

suzfishing

suekat_cobia

sr-015

shelly

shelly 039_1

sharkchick

More Photos

www.bukansarjanabi.asia

Halaman

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 104 pengikut lainnya.