You are currently browsing the daily archive for Januari 11, 2008.
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Wan Usman
Universitas Terbuka
Air sebagai sumberdaya alam dapat berupa persediaan dan sekaligus sebagai aliran. Air tanah misalnya merupakan persediaan, yang biasanya memerlukan aliran dan pengisian kembali oleh air hujan. Salah satu sifat penting air ialah stokastik, artinya ia diatur oleh proses fisik yang berdistribusi kemungkinan (ranttom). Sumberdaya air bervariasi secara luas dari daerah ke daerah. Pemasokan air tergantung pada topografi dan kondisi meteorologi, karena mereka mempengaruhi peresapan dan penguapan air. Oleh karena sifat stokastik air ini, maka pengambilan keputusan dalam mengembangkan sumberdaya air, didasarkan atas distribusi kemungkinan. Proyek pengembangan air, bermaksud untuk memodifikasikan atau mentransformasikan distribusi kemungkinan aliran air ini ke dalam pohyang lebih bermanfaat bagi kebutuhan manusia.
Ekonomi sumberdaya air, adalah suatu studi tentang proses bagaimana manusia mengambil keputusan, sehingga sumberdaya air yang langka dapat dimanfaatkan secara optimal. Persediaan dan biaya-biaya untuk mengeksploitasi sumberdaya air akan mempengaruhi ekonomi makro suatu negara. Keseimbangan perdagangan misalnya, ikut dipengaruhi oleh sumber daya air terutama untuk ekspor hasil-hasil pertanian.
Suatu pertanyaan dapat diajukan, apakah ekonomi sumberdaya alam (khususnya air) termasuk di dalam “ekonomi positif” yakni ilmu ekonomi yang menjelaskan bagaimana sesuatu itu terjadi how thing actually happen. Atau apakah ia termasuk ilmu “ekonomi normatif” yakni bagaimana sesuatu itu seharusnya terjadi to design how thing should be. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Ismed Sawir
(Universitas Terbuka)
Introduction
Acid deposition was first found by “the father of acid rain” Robert Angus Smith, an English chemist, in 1872. He used the term “acid rain” to describe what he found; carbonate of ammonia in the fields, sulphate of ammonia in the suburbs, and sulphuric acid in town air (Howells, 1990).
It was later recognised that the acidity occurring either on water or on land was not always related with rain. Its deposition is also created by gravity and wind which is called dry deposition. Based on these facts, authors such as Mybeck et.al. (1989), Hendrey (1985), Fernandez (1985), North et al. (1985), Forster (1985), and Mason (1991), then used the term “acid deposition”. However, some authors such as Howells (1990), Elsworth (1984), Wellburn (1988), and Schindler (1988) still used the term acid rain. This paper uses the term of acid deposition.
Acid deposition, a form of several kinds of air pollution, induces serious damages to the environment as a whole. Forest decline and crops damages (Elsom 1992) are two examples of its effects to the environment. It may create more serious problems than other pollution such as solid and liquid waste because its spread occurs in the atmosphere. It may create environmental damages not only locally and regionally but also globally. Acid deposition also influences freshwater and its ecosystem.
This paper discusses the causes of acid deposition and their sources, deposition processes, its effects on freshwater and water ecosystem, and measures that may be applied to limit either its causes or effects. It also discusses the possibility of the case of acid deposition in Indonesia.
The Causes of Acid Deposition and Their Sources
Causes of Acid Deposition Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
R.Z. Leirissa
(Universitas Indonesia)
Teori Set of Sets
Untuk memahami integrasi antara jalur-jalur perdagangan interkontinental melalui laut (Samudra Hindia) dan melalui darat (Asia Tengah) kita memerlukan wawasan sejarah yang tidak konvensional. Salah satu dasar pemikiran ke arah pandangan sejarah seperti itu adalah teori set of sets yang berasal dari George Cantor, seorang ahli matematika. Teori matematika itu dikembangkan menjadi teori sejarah oleh Braudel untuk Eropa (Braudel, 1988) dan Chaudhuri untuk Asia (Chaudhuri, 1990). Cantor beranggapan, bahwa kemampuan otak manusia untuk memikirkan “banyak” sebagai “satu” dan membagi “satu” menjadi “banyak” adalah dasar dari teori set. Kemampuan itu dimungkinkan karena secara naluriah manusia mengenal suatu prinsip untuk membeda-bedakan berbagai elemen dalam suatu set (diferensiasi), dan prinsip yang memungkinkan elemen-elemen itu diklasifikasikan dalam satu set (integrasi), serta suatu prinsip mengenai urutan (Chaudhuri, 1990).
Dengan demikian, berdasarkan teori set of sets itu, sejarah Asia antara abad ke-7 hingga ke-18 dapat ditafsirkan sebagai:
“Suatu proses sejarah yang berlangsung lebih dari satu melenium di mana laut, lahan subur, gunung-gunung dan gurun-gurun merupakan elemen-elemen dasar dalam suatu kawasan tempat terjadi interaksi antara para pelaut, para nomad, dan para petani. Pemikiran seperti itu memungkinkan adanya suatu prinsip di mana setiap elemen dari berbagai set seperti Samudra Hindia, orang-orang Arab, orang-orang India, orang-orang Cina dan lain sebagainya dipadukan dalam pola sejarah yang sama”. (Chaudhuri, 1990: 28).
Jalur Darat Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
(Studi pada Masyarakat Nelayan Tradisional di Desa Bandaran, Pamekasan)
Karjadi Mintaroem & Mohammad Imam Farisi
(Universitas Terbuka)
Pendahuluan
Boeke mungkin bukan orang pertama yang secara utuh mengadakan kajian tentang dimensi sosial-budaya dalam aktivitas perekonomian masyarakat desa tradisional—ia menyebut sebagai “masyarakat prakapitalis”—namun, Boekelah—setidak-tidaknya bagi penulis— yang menyadarkan kepada kita bahwa betapa dalam berbagai kajian tentang ekonomi, kedudukan, peran dan arti desa tradisional hampir-hampir terabaikan, dan senantiasa ditempatkan sebagai “obyek”, bukan sebagai “subyek”. Di sisi lain, walaupun dalam tahun-tahun yang lampau, studi-studi sosiologis dan antropologis telah banyak mencurahkan perhatian pada kehidupan sosial-ekonomi masyarakat nusantara, namun hanya sedikit sekali yang memfokuskan kajiannya pada pola-pola dan praktik-praktik ekonomi yang dikelola dan dipimpin oleh “penduduk pribumi” dengan bentuk-bentuk relasi dan jaringan ekonomi yang bersifat “internal”. Pada umumnya, tekanan kajian mereka banyak diletakkan pada peranan orang-orang Eropa daripada pendudukpribumi sendiri, sebagaimana studi yang pernah dilakukan oleh Geertz (1963), dan Burger (1980).
Dalam konteks ini, kita perlu memberikan penghargaan yang tinggi terhadap karya-karya klasik dari Van Leur (1967) dan Schrieke (1955-1957), karena kedua orang inilah yang mempelopori kajian-kajian sosial-ekonomi dengan mencoba menempat- kan arti penting orang-orang Asia (Indonesia) dalam aktivitas dan jaringan ekonomi (perdagangan) dunia. Hanya sayangnya, studi-studi tersebut dilakukan pada masa-masa pra-kolonial dan kolonial. Studi-studi terpenting mengenai relasi dan jaringan ekonomi (perdagangan) “setempat dan regional” pada dasarnya telah dimulai oleh Dewey dalam karyanya “Peasant Marketing in Java” (1962) dan Geertz melalui karyanya “Peddlers and Princes” (1963). Kedua karya ilmiah tersebut mencoba menghubungkan aktivitas-aktivitas para pedagang dan para wiraswastawan dengan keadaan ekonomi umum di dalam sebuah masyarakat yang sedang berubah dan secara luas menguraikan keterkaitannya dengan konteks sosial-budaya dari peristiwa ekonomi yang bersangkutan.
Sangat kurangnya studi-studi tentang aspek-aspek sosial-budaya dalam aktivitas perekonomian dalam masyarakat desa tradisional ini pun terjadi pada masyarakat Madura, terutama di kalangan masyarakat desa tradisional di daerah-daerah pesisir. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Wawan Ruswanto
(Universitas Terbuka)
Setiap komunitas terdiri atas elemen pembentuknya yang saling berhubungan satu sama lain dan membentuk satu kesatuan utuh yang terikat melalui suatu jaringan sosial. Jaringan sosial pada suatu masyarakat menunjukkan berbagai tipe hubungan sosial yang terikat atas dasar identitas kekerabatan, ras, etnik, pertemanan, ketetanggaan, ataupun atas dasar kepentingan tertentu. Menurut Boissevain (1978), jaringan sosial masyarakat adalah struktur sosial masyarakat itu sendiri. Jaringan sosial adalah pola hubungan sosial di antara individu, pihak, kelompok atau organisasi. Jaringan sosial memperlihatkan suatu hubungan sosial yang sedang terjadi sehingga lebih menunjukkan proses daripada bentuk (Bee, 1974). Menurut Warner (dalam Scott, 1991) hubungan sosial yang terjadi bersifat mantap/permanen, memperlihatkan kohesi dan integrasi bagi bertahannya suatu komunitas, serta menunjukkan hubungan timbal balik. Dengan demikian, suatu komunitas pada dasarnya merupakan kumpulan hubungan yang membentuk jaringan sebagai tempat interaksi antara satu pihak dengan pihak lainnya. Menurut Mitchell, (dalam Scott, 1991) kekuatan jaringan dipengaruhi oleh resiprositas, intensitas, dan durabilitas hubungan antarpihak.
Jaringan sosial pada komunitas nelayan dapat dibedakan atas tiga bentuk, yaitu jaringan vertikal (hirarkis), jaringan horizontal (pertemanan), dan jaringan diagonal (kakak-adik) (Wolf, 1966; Scott, 1972. Hubungan vertikal (hirarkis) adalah hubungan dua pihak yang berlangsung secara tidak seimbang karena satu pihak mempunyai dominasi yang lebih kuat dibanding pihak lain, atau terjadi hubungan patron-klien. Hubungan diagonal adalah hubungan dua pihak di mana salah satu pihak memiliki dominasi sedikit lebih tinggi dibanding pihak lainnya. Hubungan horizontal adalah hubungan dua pihak di mana masing-masing pihak menempatkan diri secara sejajar satu sama lainnya. Pada kenyataannya dalam suatu komunitas, termasuk komunitas nelayan1, ke tiga bentuk jaringan ini saling tumpang tindih dan bervariasi, serta bentuk yang satu tidak dapat secara tegas dipisahkan dari bentuk lainnya (Rudiatin, 1997. Jaringan sosial ini merupakan salah satu bentuk strategi nelayan dalam menghadapi lingkungan pekerjaannya yang tidak menentu (Rudiatin; Kusnadi, 2000). Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Agus Susanto
Susi Sulistiana
Economic activities in marine based coastal areas, aim at improving community welfare. This article discusses the existence and development of marine- based economic activities in Penjaringan District, North Jakarta. Using a rapid appraisal approach and deep interviews, data on economic activities were gathered. The results show that there are four marine-based coastal economic activities in Penjaringan district, namely fishing, green mussel cultivation, fish processing industry, and horticulture. Fishing was operated in Kepulauan Seribu, Pulau Bawean, Gresik, Pulau Bangka Belitung, and South China Ocean. Fish processing industry includes dried fish. The four economic activities are financially feasible to be more developed. However, concerning health and ecology aspects, green mussel cultivation is not reccommended since the mussel contains poisonous heavy metal contaminant.
Key words: coastal economy, fishing industry, marine-based, mussel cultivation.
Secara geografis, wilayah Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara merupakan salah satu wilayah daratan di Jakarta Utara yang berbatasan langsung dengan laut. Kondisi fisik tersebut tentunya memberikan keunggulan komparatif yang tidak dimiliki oleh Kecamatan lain yang tidak mempunyai wilayah pesisir. Dengan kondisi geografis seperti itu, maka Kecamatan Penjaringan yang mempunyai wilayah pesisir cukup luas adalah potensial untuk pengembangan perikanan tangkap maupun budidaya demi kesejahteraan penduduknya.
Potensi wilayah pesisir Kecamatan Penjaringan merupakan kawasan yang cukup luas dan membentang dari Barat ke Timur, yang meliputi 4 Kelurahan dari 5 Kelurahan yang ada dalam kecamatan tersebut (Anonim, 2002). Namun demikian sampai saat ini, dari 4 Kelurahan tersebut yang telah dikembangkan secara intensif, relatif baru wilayah pesisir yang berada di kawasan Timur yang meliputi Kelurahan Pluit, dan Kelurahan Penjaringan. Sedangkan wilayah pesisir yang lain yang meliputi Kelurahan Kapuk Muara dan Kamal Muara relatif belum berkembang dan bahkan masih tergolong wilayah miskin di Jakarta Utara. Kondisi tersebut ditandai dengan kondisi masyarakatnya yang jauh dari kondisi layak secara ekonomis. Padahal kalau dilihat dari sisi potensi sumberdaya alam dan sosial yang ada di wilayah tersebut tidak kalah dengan wilayah yang telah berkembang. Baca entri selengkapnya »
karir anda mentok, karena pendidikan tak mendukung ? lanjutkan kuliah di |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN -terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141;7313350 : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
Tajerin
Structural transformation in non fisheries sectors could increase the conversion of brackish land for non fisheries. This article discusses factors affecting conversion of brackish land in East Java province from macro perspective using spatial approach. The 2001 census data were used and analyzed using Box-Cox non- linier regression model. Result showed that from spatial (areas) approach. Factors affected the conversion of brackish land in East Java include development of city areas that significantly influenced proportion of fisheries sector employment on total of employment, rate of urbanization and rate of population growth. The results show that economic growth tend to centralize along certain areas and sectors outside fisheries sectors. Special policy provided incentives is needed to retain the brackish farmer in hitterland to retain in fisheries sector.
Key words: brackish land, conversion, spatial
Perkembangan suatu wilayah akan sangat terkait dengan perubahan yang terjadi pada komponen utama dari suatu wilayah. Perubahan salah satu komponen dari wilayah akan mempengaruhi komponen lainnya, dan perubahan itu dapat menunjukkan adanya suatu proses pertumbuhan, stagnasi atau kemunduran wilayah. Pemahaman terhadap perubahan di suatu wilayah akan berarti sama halnya dengan pemahaman mengenai faktor yang mempengaruhi perubahan suatu wilayah sebagai suatu proses yang melibatkan suatu interaksi yang kompleks antara aktivitas-aktivitas yang ada di suatu wilayah (Winoto, 1995). Hal lain yang perlu dilihat dalam menilai perubahan suatu wilayah adalah transformasi struktural yang terjadi di wilayah tersebut, baik yang berkaitan dengan transformasi ekonomi, ketenagakerjaan, demografi, sosial dan budaya masyarakat (Winoto, 1996). Baca entri selengkapnya »


















Komentar Terakhir