You are currently browsing the daily archive for Januari 5, 2008.
Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
70314141 -7313350-jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PENGARANG : Dyan Vidyatmoko, M. Husni Amarulah, dan Dody Irawan
Abstract
To solve problems in Tilapias culture, one alternative solution can be presented by proposing the application of Tilapias GIFT scheme includes all integrated activities in breeding growing and processing in order to develop its sustained activities in Pasuruan, East Java. The purpose of this paper is to discuss whether the investment in this scheme in Pasuruan, East Java is feasible or not in the view of financial aspects. Based on the financial analysis, it can be concluded that the project looks feasible. This can be indicated by cash flow, Net Present Value, Internal Rate of Return and Pay Back Period. From the sensitivity analysis shows the project sensitizes from the changes of production cost and output price.
KATAKUNCI : budidaya, ikan nila GIFT, analisis finansial
Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.2, No.3, (Juni 2000), hal. 75-81 Humas-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
Pada umumnya usaha budidaya ikan nila di Indonesia masih dilakukan secara tradisional di kolam-kolam meskipun budidaya karamba jaring apung (KJA) di waduk dan perairan umum Jawa Barat dan Jawa Tengah. Dala usaha budidaya tradisional skala kecil pada umumnya produksi ditujukan untuk konsumsi keluarga, sedangkan pada skala usaha (bisnis) masih menghadapi berbagai kendala di antaranya adalah penerapan teknik budidaya dan manajemen yang belum baik; kurangnya benih yang berkualitas baik; belum adanya sistem tataniaga yang efisien serta harga masih ditentukan oleh perusahaan besar, dan kurangnya diversifikasi produk. Baca entri selengkapnya »
Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141 -7313350-utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PENGARANG : M. YUSUF SAMAD
Abstract
Conventional method of handling dried ‘teripang’ (dried sandfish) that habitually accepted home-based industries make usually low quality of product. Improve merthod is requaired to get better quality of product. Experiment showed that step and controlled drying process for 20 hours allowed water content to decrease until 30%. Pre-treatment of fresh ‘teripang’ by adding chop (cutting in small pieces) papaya leaf (3-7%) and NaOH (0.05-0.15%) decrease mineral/ash content until 29.8% without changing the appearance and texture of the product. Decreasing the water content allow the protein content to increase about 12.5% and fat content to increase about 4.2% by weight dried matter.
Kata Kunci : Teripang, pengolahan, produk, industri kecil
Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.2, No.3, (Juni 2000), hal. 52-55 Humas-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
Teripang (Timun laut, Echinodermata) adalah salah satu komoditi ekspor sub sektor perikanan yang cukup potensial. Di Indonesia, pemanfaatan teripang sebagai bahan pangan dibanding produk perikanan lainnya tergolong kurang populer karena nilai estetika yang rendah dilihat dari bentuk fisik teripang yang terkesan menjijikkan. Namun demikian teripang sesungguhnya mengandung protein cukup tinggi. Dimancanegara khususnya di Hongkong, Taiwan, Singapura dan Amerika Serikat telah memiliki reknik pengolahan yang lebih maju sehingga teripang telah menjadi salah satu komponen pangan yang sangat digemari. Saat ini Indonesia menjadi salah satu negara pengekpor teripang kering terkemuka selain Filipina dan Kaledonia baru. Pada tahun 1988 ekspor teripang Indonesia mencapai 3.804,1 ton dengan nilai US$ 8.266.700 dalam bentuk daging kering (beche-de-mer), usus asin (konowata) dan gonad kering (konoko). Mutu teripang kering dari Indonesia masih dibawah standar perdagangan sehingga nilai jual produk teripang lebih rendah dari produk negara-negara pesaingnya. Potensi teripang cukup besar karena Indonesia memiliki perairan pantai dengan habitat teripang yang cukup luas. Baca entri selengkapnya »
Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141 -7313350-utkampus : jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PENGARANG : Achmad Hasan, Iguh Widipangestu
Abstract
The result of pilot plant by using photovoltaic under water lamp which has power 20 watt will be sosialization to traditional fisherman, as substitutions of petromaks lamp. research of different color treatment and different light intensity operated on floating bagan and when the moon was dark between 6 pm until 5 am. The result of catching fish which was from this research, generally very influenced by many parameter, such as : water bright grade, water stream, wind, sea wave, power of under water lamp, fish season, and measure instrument which used.
Katakunci : LaCUBA, Tenaga Surya, Warna Cahaya, Intensitas, Hasil Tangkapan
Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.2, No.3, (Juni 2000), hal. 11-18 Humas-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pada mulanya manusia telah melakukan berbagai macam cara untuk dapat memperoleh berbagai jenis ikan yang berhasil ditangkapnya. Salah satu sumber cahaya yang pernah digunakan untuk mengumpulkan ikan adalah obor. Kemudian dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, mulailah manusia menggunakan lampu minyak dan gas karbit, dan yang terakhir dengan menggunakan lampu gas dan lampu listrik. Penangkapan ikan dengan bantuan lampu akan lebih efektif sebelum tengah malam. Hal ini menunjukkan adanya kecenderungan sifat fototaksis yang maksimum bagi ikan. Seperti diketahui bahwa usaha penangkapan ikan di Indonesia dengan menggunakan cahaya lampu sebagai alat bantu penangkapan ikan telah mengalami perkembangan dan dipakai oleh nelayan dalam skala kecil, sedang maupun besar. Baca entri selengkapnya »
Anda sibuk tapi masih ingin meraih sarjana untuk menunjang karir, maka inilah |
| tempat kuliah paling fleksibel SARJANA NEGERI 3 TAHUN – TANPA SKRIPSI ABSENSI HADIR BEBAS – BERKUALITAS – IJAZAH & GELAR DARI DEPDIKNAS MURAH DAPAT DIANGSUR TIAP BULAN – terima pindahan dari PTN/PTS lain |
| MANAJEMEN – AKUNTANSI – ILMU KOMUNIKASI – ILMU PEMERINTAHAN |
022-70314141 -7313350- jl. terusan halimun 37 bandung- utkampus.net
PENGARANG : Achmad Hasan
Abstract
The pilot plant by using of LaCUBA and Lestari light lamp which already tried and socialized on the bangkrak of mini purse seine was one of many alternative to change the petromaks lamp which until now still used by traditional fisherman as a help tool to catch fish. The lamps (Lacuba and Lestari) which used by direct current source from battery (accu) was consideration matter for ship owner and fisherman to increase the product of catching, the lamps has excellent superior there are effective, efficient, and economic if compared with the petromaks lamp.
Katakunci : LaCUBA, Lestari, Petromaks, Perlakuan Cahaya, Hasil Tangkapan
Sumber :
Jurnal Sains dan Teknologi Indonesia Vol.2, No.3, (Juni 2000), hal. 1-10 Humas-BPPT/ANY
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Sub sektor perikanan merupakan salah satu tumpuan harapan yang dapat menjamin kelangsungan hidup manusia baik di masa sekarang maupun di masa yang akan datang. Di di Indonesia pada tahun 1997 telah mencapai 3,59 juta ton. Ini berarti bahwa tingkat pemanfaatan sumber daya ikan laut di Indonesia baru mencapai 58,19 %. Jika tingkat pemanfaatan maksimum dimungkinkan sampai 90 %, maka masih tersedia peluang pengembangan sebesar 31,18 % dari potensi sumber daya yaitu sebesar 1,96 juta ton per tahun. Baca entri selengkapnya »


















Komentar Terakhir