Oleh Prof. Dr. H. BACHRULHAJAT KOSWARA

“Pendirian Jurusan Perikanan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran dalam tahun 1965 (40 tahun yang lalu), pada dasarnya merupakan perwujudan keinginan rakyat dan pemerintah, khususnya Pemerintah Daerah Jawa Barat, untuk lebih mengembangkan subsektor perikanan melalui pengadaan tenaga ahli di bidang perikanan. Ahli-ahli yang dihasilkan tersebut diharapkan dapat menjadi katalisator dan dinamisator pembangunan, khususnya dalam subsektor perikanan, baik untuk daerah Jawa Barat maupun luar Jawa Barat”

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Ir. H. Gunawan Satari (pendiri Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Unpad) dan Gubernur Jawa Barat (pada saat itu H. Mashudi) pada saat menjelaskan kepada kami (para mahasiswa saat itu) tentang latar belakang pendirian Jurusan Perikanan di Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran.

Dikaitkan dengan keadaan sekarang dan masa yang akan datang, ungkapan pada 40 tahun yang lalu tersebut, tampaknya masih relevan mengingat potensi sumberdaya perairan yang merupakan modal penting dalam pembangunan sektor perikanan cukup besar, ditambah lagi dengan besarnya potensi sumberdaya manusia di Indonesia.

Seperti diketahui perairan laut Indonesia yang luasnya 5,8 juta km2, memiliki potensi sumberdaya perikanan yang cukup besar, baik kuantitas maupun diversitas. Potensi lestari (maximum sustainable yield) sumberdaya ikan laut Indonesia diperkirakan sebesar 6,26 juta ton per tahun, yang terdiri atas potensi di perairan wilayah Indonesia 4,40 juta ton per tahun dan di perairan ZEEI (Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia) 1,86 juta ton per tahun. Jika jumlah tangkapan yang diperbolehkan (Total allowable catch) sebesar 5,01 juta ton per tahun atau sekira 80% dari potensi lestari, maka seluruh potensi perikanan tangkap tersebut diperkirakan memiliki nilai ekonomi sebesar AS$ 15,1 miliar.

Demikian pula, potensi perikanan air tawar yang terdiri atas perairan umum (danau, waduk, sungai dan rawa) seluas 141.820 ha dengan produksi 356.020 ton per tahun memiliki nilai ekonomi sebesar AS$ 6,19 miliar per tahun. Potensi perikanan darat lainnya seperti budidaya payau (tambak) seluas 866.550 ha baru dimanfaatkan 344.759 ha. Jika potensi ini digarap secara optimal dengan mengusahakan 500.000 ha saja dengan target produksi 2 ton udang windu (tiger prawn) per hektare, maka setiap tahunnya bisa dihasilkan 1 juta ton. Jika harga udang per kilogramnya AS$ 10, maka nilai yang diperoleh dari perikanan tambak udang ini mencapai AS$ 10 miliar. Dengan demikian, nilai ekonomi dari potensi perikanan laut dan darat diperkirakan mencapai AS$ 32 miliar. Belum termasuk nilai ekonomi dari potensi bioteknolologi kelautan seperti industri bahan baku untuk makanan, industri bahan pakan alami, benih ikan dan udang, yang diperkirakan mencapai AS$ 40 miliar.

Dari gambaran potensi tersebut, terlihat bahwa peluang pengembangan usaha perikanan dan kelautan Indonesia masih memiliki prospek yang cukup baik. Namun demikian, di lain pihak kualitas sumberdaya manusia yang bekerja di sektor perikanan dan kelautan masih sangat rendah. Berdasarkan tingkat pendidikannya, struktur tenaga kerja di sektor perikanan dan kelautan mayoritas tidak tamat SD, 79,5% tidak lulus SD, 19,6% hanya tamat SD, 1,9% berpendidikan SLTP, 1,4% berpendidikan SLTA, dan hanya 0,03% berpendidikan D3 atau S1.

Kondisi demikian tentunya membawa implikasi terhadap rendahnya produktivitas nelayan Indonesia. Produktivitas yang rendah ini menyebabkan rendahnya pendapatan, dan pendapatan yang rendah menyebabkan kemiskinan nelayan. Menurut Prof. Dr. Rokhmin Dahuri (mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI), komponen-komponen tersebut membentuk sebuah lingkaran kemiskinan atau The Vicios Cycle of Poverty. Untuk mengatasi permasalahan ini, telah dilancarkan program pemberdayaan masyarakat pesisir khususnya nelayan di antaranya melalui program peningkatan SDM atau pendidikan.

Tujuan program ini adalah menghasilkan sumberdaya manusia perikanan yang bermoral, profesional dan berjiwa bahari. Untuk mencapai tujuan tersebut, kegiatan-kegiatan yang telah dan sedang dilakukan oleh pemerintah, dalam hal ini Departemen Kelautan dan Perikanan adalah, (1) Mengembangkan pendidikan tinggi perikanan yang setara dengan negara lain; (2) Mengembangkan pendidikan kejuruan perikanan sesuai dengan kebutuhan pembangunan perikanan; (3) Mengembangkan pelatihan dan penyuluhan untuk meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia perikanan; (4) Mengembangkan dan memberdayakan masyarakat nelayan/pembudidaya ikan dan perikanan industri.

Sejalan dengan program pemerintah di bidang peningkatan kualitas sumberdaya manusia (SDM) perikanan melalui program pendidikan, maka Jurusan Perikanan sebagai satu-satunya lembaga pendidikan tinggi perikanan di Universitas Padjadjaran, sejak berdiri sampai sekarang konsisten untuk dapat menghasilkan lulusan (SDM) perikanan yang berkualitas tinggi, baik untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di sektor perikanan maupun SDM perikanan yang mampu menghadapi persaingan global. Sumbangan Jurusan Perikanan Fakultas Pertanian Unpad sejak berdiri (1965) sampai sekarang (2005) baru mampu melepas 544 orang sarjana perikanan, suatu sumbangsih yang relatif kecil dibandingkan dengan kuantitas kebutuhan pembangunan.

Tempat bekerja mereka tersebar di berbagai instansi pemerintah baik PNS maupun Swasta. Mereka yang bekerja sebagai PNS, 28% di Depertemen Kelautan dan Perikanan baik pusat maupun daerah, 6% di perguruan tinggi, dan 16% di departemen lain dan non-departemen. Ada juga di antara mereka yang bekerja di lembaga keuangan/perbankan yaitu 12%, dan swasta 27%. Alumni yang bergerak di bidang swasta sangat bervariasi, antara lain sebagai konsultan, sebagai pengusaha perikanan baik di dalam maupun luar negeri. Sementara alumni yang bekerja sebagai pegawai negeri di Depertemen Kelautan dan Perikanan ada yang telah memegang jabatan direktur dan kepala dinas provinsi.

Meskipun berstatus jurusan dengan segala keterbatasannya, lembaga pendidikan tinggi perikanan di Unpad ini, selama 40 tahun telah mampu berkembang pesat, misalnya dalam pengadaan dan pengembangan staf. Saat ini, yaitu pada saat jurusan berubah status menjadi Fakultas Perikanan, jumlah dosen (staf pengajar) yang dimiliki adalah sebanyak 46 orang, terdiri atas 7 orang guru besar (profesor), 11 orang doktor/Ph.D (S3), 28 orang magister sains/master of science (S2), dan tujuh orang sarjana (S1).

Sesuai dengan rencana pengembangan staf (staff development), pada tahun 2006/2007 jumlah guru besar diharapkan menjadi 11 orang, doktor 15 orang, magister 27 orang, dan sarjana (S1) hanya tinggal 4 orang lagi. Untuk membantu kelancaran akademik, Jurusan Perikanan saat ini memiliki staf administratif 2 orang, dan laboran sebanyak 3 orang. Sementara tenaga administratif yang bertugas menyelenggarakan pendidikan sistem kredit semester, selama ini dilakukan oleh tenaga administratif fakultas.

Ilmu kelautan

Penyelenggaraan pendidikan dalam status jurusan dengan fasilitas yang relatif terbatas, semakin terasa tidak memungkinkan untuk bergerak lebih berkembang, sehingga apa yang dihasilkan selama 40 tahun ini merupakan hasil maksimal berdasarkan sarana dan kemudahan yang tersedia. Meskipun demikian, jurusan perikanan masih mampu mengembangkan diri yang ditunjukkan dengan kuantitas dan kualitas dosen sebagaimana diungkapkan di atas.

Keberadaan Jurusan Perikanan di Unpad tidak diragukan lagi, mengingat peran aktifnya dalam pembangunan sektor perikanan baik sebagai katalisator maupun dinamisator sudah mulai diperhitungkan. Misalnya, peran serta aktif yang telah ditunjukan oleh alumni Jurusan Perikanan dalam pengembangan akuakultur di projek Saguling dan Cirata, projek udang nasional, projek transmigrasi, dan banyak lagi.

Dengan telah berubahnya status Jurusan Perikanan menjadi Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan pada 7 Juli 2005 ini, keberadaan lembaga pendidikan tinggi perikanan di Universitas Padjadjaran ini semakin dituntut untuk lebih produktif lagi mengingat laju pembangunan sektor perikanan yang semakin ditingkatkan lagi. Hal ini diindikasikan dengan telah dibentuknya departemen baru, yaitu Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP). Demikian pula dalam rangka revitalisasi berbagai kegiatan ekonomi serta dalam rangka membangkitkan sumber-sumber ekonomi baru, maka sektor perikanan dan kelautan merupakan salah satu sektor yang memegang peranan cukup penting.

Pembukaan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan di Universitas Padjadjaran ini, telah mendapat persetujuan Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Departemen Pendidikan Nasional sesuai suratnya No. 2015/DT/2005 tanggal 27 Juni 2005 dan SK Rektor Universitas Padjadjaran No. 1197/J06/Kep/KP/2005 tanggal 7 Juli 2005.

Pada tahun akademik 2005/2006 ini, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran hanya akan membuka satu program studi, yaitu Program Studi Perikanan dan Ilmu Kelautan. Lulusan S1 yang diharapkan adalah seorang sarjana perikanan yang generalis, yang selain memahami bidang perikanan dan ilmu kelautan, juga memiliki kemampuan dalam bidang yang menjadi tugas akhirnya. Dalam tugas akhir, para mahasiswa diwajibkan memilih salah satu minat dari 5 (lima) minat yang ditawarkan, yaitu: (1) Minat Manajemen Sumberdaya dan Lingkungan Perairan (MSLP); (2) Minat Teknologi dan Manajemen Akuakultur (TMA); (3) Minat Teknologi dan Manajemen Perikanan Tangkap (TMPT); (4) Minat Teknologi Hasil Industri Perikanan (THIP); dan (5) Minat Sosial Ekonomi Perikanan (Sosek).

Untuk memberi kesempatan kepada peminat yang ingin masuk Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unpad, selain kelas reguler yang sudah berjalan selama ini, juga akan dibuka klas paralel dan kerjasama serta kelas ekstensi. Proses pembelajaran program pendidikan sarjana menggunakan pendekatan pembelajaran berbasis kompetensi yang mendorong mahasiswa belajar aktif secara mandiri sebagai bekal belajar sepanjang hayat. Proses pendidikan sarjana perikanan dan ilmu kelautan ditempuh selama minimal 8 semester sampai dengan 14 semester.

Program pascasarjana

Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universistas Padjadjaran mulai tahun akademik 2005/2006, juga membuka Program Pascasarjana (S2 dan S3) dengan 2 (dua) Bidang Kajian Utama (BKU), yaitu, (1) BKU Manajemen Sumberdaya dan Lingkungan Perairan; dan (2) BKU Teknologi dan Manajemen Budidaya Perairan. Tujuan program ini adalah mendidik serta memberikan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang perikanan sehingga lulusannya menguasai secara komprehensif dan mempunyai kemampuan analitis di bidang manajemen sumberdaya dan teknologi budidaya perairan. Adapun sasarannya adalah tersedianya tenaga akademik profesional yang mampu menganalisis permasalahan dan pengembangan ilmu, teknologi dan manajemen sumberdaya dan budidaya perairan. Secara akademik, program ini dikelola oleh Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, sedangkan secara administratif dikelola oleh Program Pascasarjana Universitas Padjadjaran.

Pendidikan Magister Manajemen Sumberdaya dan Lingkungan Perairan maupun Magister Perikanan Budidaya Perairan dapat ditempuh melalui program semester (2 tahun) dengan beban studi 40-42 SKS, yaitu berupa kuliah dan penyusunan tesis (by course & thesis). Melalui program kerjasama khusus, dimungkinkan pendidikan melalui program trimester (1 tahun 6 bulan) dengan sistem kuliah wajib, topik khusus dan penyusunan tesis (by thesis). PR-Sabtu, 23 Juli 2005

Penulis Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran.

About these ads