24/11/05 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

INDONESIA merupakan negara kepulauan yang Iuas terbentang dart Papua hingga ke Nanggroe Aceh Darussalam dengan jumlah pulau lebih dari 1.700 buah. Di sepanjang pantai pulau-pulau tersebut, hidup para nelayan mencari nafkah dengan menggunakan berbagai ragam alat tangkap dan alat bantu penangkapan. Salah satu alat bantu penangkapan ikan yang telah dikenal masyarakat nelayan sebagai alat pemikat ikan adalah rumpon. Alai ini tersusun dari beberapa komponen, antara lain rakit, atraktor, tali rumpon, dan jangkar.

Nelayan di Utara Pulau Jawa telah sejak lama mengenal rumpon untuk memikat ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga memudahkan Penangkapan. Berbagai alat tangkap digunakan di sekitar rumpon, antara lain alat tangkap lampara, pukat cincin, dan payang.

Dengan makin majunya teknologi rumpon telah menjadi salah satu alternatif untuk menciptakan daerah penangkapan buatan. Keberadaan rumpon memiliki manfaat yang cukup besar. Sebelum dikenal rumpon, masyarakat menangkap ikan dengan cara berburu mengejar kelompok renang ikan. Kini, dengan makin berkembangnya rumpon maka pada saat musim penangkapan tiba, daerah penangkapan menjadi pasti di suatu tempat. Dengan tertentunya tujuan daerah penangkapan maka nelayan dapat menghemat pemukaan bahan bakar, karena mereka tidak lagi memburu dan mengejar kelompok renang ikan.

Di Propinsi Maluku Utara dan Sulawesi Utara, para nelayan telah mulai mengenal rumpon, digunakan untuk memikat ikan permukaan (pelagic fish), antara lain: ikan selar, ikan layang, ikan kembung. tuna, dan cakalang agar berkumpul sehingga memudahkan nelayan yang menggunakan alat tangkap huhate dan pancing tangan.

Pukat Cincin
Para nelayan Jepang pada perikanan pukat cincin (purse seine) skala industri menggunakan rumpon hanyut di Samudera India dengan memanfaatkan arah dan kekuatan arus selatan katulistiwa untuk memikat ikan tuna dan cakalang. Rumpon mereka ditebarkan di Selatan Kepulauan Maldives. Selang beberapa minggu kemudian rumpon tersebut telah hanyut hingga di sebelah Barat Sumatera.

Bentuk rumpon terbuat dari rangkaian bambu dibalut dan kelilingi jaring usang (jaring bekas). Dalam satu kali penaburan pukat cincin pada satu rumpon dapat tertangkap 100 hingga 150 ton ikan tuna kecil (baby tuna) dan cakalang. Dapat dibayangkan eksploitasi sumber daya ikan tuna dan cakalang yang sangat berlebihan dilakukan nelayan pukat cincin skala industri ini, mengakibatkan perolehan hasil tangkapan perikanan rawai tuna Indonesia merosot tajam. Kita berharap para pengurus di Asosiasi Tuna Indonesia dapat segera bereaksi untuk membatasi aktivitas nelayan pukat cincin skala industri di Samudera Indonesia yang menangkap baby tuna dalam volume besar. (Gema Mina Agustus 2005).

About these ads