30/09/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

Potensi Pantai Losari

Pantai Losari memiliki banyak potensi yang dapat dimanfaatkan, yaitu sebagai tempat wisata bahari, olah raga air, pelabuhan, hasil laut yang melimpah, kawasan perdagangan, dan lain sebagainya. Pantai Losari menjadi salah satu pilihan tempat berinvestasi dalam bidang pariwisata, seperti dibangunnya hotel dan restoran, terbukti dengan banyaknya hotel dan restoran yang berdiri sepanjang pantai dengan memanfaatkan pemandangan pantai. Perairan pantai yang cukup tenang telah dimanfaatkan sebagai tempat latihan ski air dan jet ski. Salah satu tempat wisata sejarah di kawasan pantai ini adalah Fort Rotterdam, benteng peninggalan pemerintah kolonial Belanda yang memiliki nilai sejarah tinggi dalam perjuangan bangsa.

Potensi lain yang menjadi daya pikat untuk kegiatan pariwisata di pantai ini adalah sunset Losari, Festival Laut, 13 pulau-pulau yang eksotik, dan sea food Makassar yang sudah populer. Untuk mencapai pulau-pulau kecil di sekitar Kota Makassar dapat ditempuh dengan menggunakan perahu di dermaga rakyat Kayu Bangkoa yang terletak di Jl. Pasar Ikan, yang merupakan salah satu simpul transportasi rakyat. Dermaga ini diapit oleh Hotel Pantai Gapura dan Hotel Makaassar Golden, sehingga diperlukan penataan yang terpadu dengan beberapa dermaga di sekitarnya dan kawasan tepi air Pantai Losari. Selain dermaga Kayu Bangkoa, terdapat beberapa dermaga kecil lainnya, yaitu dermaga POPSA, dermaga POLAIRUD, dan dermaga rekreasi P. Samalona dan P. Kayangan. Pengelolaan yang terpadu beberapa dermaga tersebut dapat menciptakan suatu kawasan transportasi air yang menarik di Kota Makassar.

Pelabuhan Sukarno-Hatta yang berada di Jl. Nusantara merupakan salah satu gerbang laut internasional dan nasional Kota Makassar. Intensitas bongkar muat penumpang dan barang yang tinggi membuat kawasan ini menjadi daerah yang cukup sibuk di perairan pantai Kota Makassar. Sebagian masyarakat Kota Makassar menikmati Pantai Losari dengan aktivitas bermain air, berenang, berperahu di pantai. Ruang laut menjadi daya tarik bagi publik untuk beraktivitas rekreasi perairan. Namun, ruang publik yang berada di Pantai Losari hanya terbatas pada ruang bermain pada taman segitiga, ruang duduk di sepanjang bangunan pelindung pantai, dan panggung Losari. Selain itu ruang terbuka hijau masih sangat kurang.
Keberadaan pedagang kaki lima telah menjadi salah satu identitas yang melekat di Pantai Losari. Penataan kawasan pedangang kaki lima menjadi salah satu prioritas dalam pengembangan kawasan Pantai Losari.

Permasalahan Pantai Losari

Pantai Losari telah mengalami penurunan kualitas lingkungan berupa pencemaran, kerusakan terumbu karang, perubahan morfologi pantai, dan masalah kemacetan akibat perkembangan kota. Perubahan fungsi-fungsi ruang kota di kawasan Pantai Losari dari perumahan menjadi kawasan komersial mempunyai andil terhadap pencemaran perairan. Di sepanjang Pantai Losari bermuara 14 outlet drainase kota, 7 di antaranya adalah outlet besar, yang memberikan kontribusi terhadap tercemarnya perairan. Belum adanya sistem pengendalian pencemaran berupa Sewage Treatment Plant dan pembuangan limbah rumah tangga yang langsung ke laut turut menjadikan masalah pencemaran menjadi isu penting yang harus diperhatikan dalam pengelolaan Pantai Losari.

Karena proses-proses yang terjadi di darat maupun di laut Pantai Losari mengalami permasalahan berupa perubahan morfologi pantai. Proses sedimentasi dari Sungai Jeneberang menyebabkan terjadinya pendangkalan dan tanah timbul sepanjang Pantai Losari. Kondisi laguna yang terletak di sebelah dalam Jalan Metro Tanjung Bunga yang menghubungkan Pantai Losari dengan Kawasan Tanjung Bunga telah mengalami pendangkalan yang cukup serius dan terjadi pembusukan organik laut akibat tidak optimalnya pertukaran air laut di dalam laguna. Karena pendangkalan laguna tersebut perahu-perahu tidak dapat berlabuh dengan baik di dermaga pelelangan ikan. Selain masalah sedimentasi, terdapat pula abrasi berupa rusaknya revetment pada beberapa titik. Usia revetment yang sudah lama dan besarnya energi gelombang yang menghantam struktur tersebut telah menimbulkan kerusakan struktur yang lambat laun dapat merusak bangunan yang ada di sepanjang pantai.

Terbukanya akses dari Kawasan Tanjung Bunga dan Takalar pasca Jembatan Barombong (yang menghubungkan Kota Makassar dengan Kabupaten Gowa) akan memberikan aliran pergerakan kendaraan yang bergerak menuju ke Kota Makassar semakin besar, begitu pula sebaliknya. Volume kendaraan yang besar dibanding dengan kapasitas jalan yang terbatas menyebabkan terjadinya bottle neck pada kawasan Pantai Losari sehingga diperlukan penanganan transportasi yang terpadu untuk mengalirkan pergerakan kendaraan. Kawasan ini diperkirakan akan terus berkembang menjadi fungsi-fungsi komersial yang memiliki daya pembangkit lalu lintas yang besar.


Upaya Revitalisasi Pantai yang Dapat Ditempuh

Agar pengelolaan Pantai Losari dapat dilakukan secara terpadu diperlukan perencanaan yang matang pada kawasan ini dengan meletakan peruntukan rekreatif yang terintegrasi dengan perencanaan kawasan pesisir di Kota Makassar. Untuk itu diperlukan upaya revitalisasi Pantai Losari. Upaya revitalisasi membutuhkan luas ruang baru (reklamasi) sebesar 11 Ha dengan volume timbunan 600.000 m3. Peruntukan ruang sebesar 30% parkir dan pelebaran jalan, 30% ruang hijau kota, dan 40% pedestian, pelataran, dan fasilitas penunjang.
Mengingat kompleksitas sistem pada pesisir Pantai Losari, baik pada sumberdaya alam yang terkandung di dalamnya maupun masyarakatnya, revitalisasi sebagai upaya pemanfaatan sumberdaya pesisir memerlukan suatu pengelolaan yang tepat. Hal ini menjadi sangat penting karena revitalisasi meliputi lebih dari satu pemanfaatan dan mencakup lebih dari satu ekosistem. Dengan demikian cara yang disarankan untuk pembangunan suatu lahan adalah menggunakan Pendekatan Pengelolaan Pesisir Terpadu (Integrated Coastal Zone Management/ICZM). Sebab ICZM suatu alat management bagi pemanfaatan sumberdaya pesisir secara berkelanjutan dengan mengintegrasikan berbagai perencanaan sektoral, tingkat pemerintah, ekosistem darat dan laut serta disiplin ilmu. Oleh karena itu diperlukan kegiatan perencanaan untuk mempraktekkan prinsip-prinsip pengelolaan pesisir terpadu (ICZM).

Disamping kegiatan perencanaan pengelolaan pesisir terpadu, juga diperlukan kegiatan perlindungan ekosistem pesisir dan laut untuk mencegah terjadinya degradasi ekosistem akibat kegiatan revitalisasi.
Diperkirakan dana yang diperlukan secara keseluruhannya, untuk mendukung kegiatan tersebut sebesar Rp 104.920.000.000,- (Seratus empat milyar sembilan ratus dua puluh juta rupiah).

(Ditjen Pesisir dan Pulau-pulau Kecil)

About these ads