18/10/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

Rajungan (Portunus pelagicus) banyak ditemukan pada daerah dengan geografi yang sama seperti kepiting bakau (Scylla serrata). P. pelagicus dikenal dengan nama rajungan, blue swimming crab atau kepiting pasir dan merupakan hasil samping dari tambak tradisional pasang-surut di Asia (Cowan, 1992). Sejak tahun 1973 di negara tetangga, rajungan (Portunus pelagicus) merupakan hasil laut yang penting dalam sektor perikanan (Anonim, 1973).

Rajungan di Indonesia sampai sekarang masih merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomis tinggi yang diekspor terutama ke negara Amerika, yaitu mencapai 60% dari total hasil tangkapan rajungan. Rajungan juga diekspor ke berbagai negara dalam bentuk segar yaitu ke Singapura dan Jepang, sedangkan yang dalam bentuk olahan (dalam kaleng) diekspor ke Belanda. Komoditas ini merupakan komoditas ekspor urutan ketiga dalam arti jumlah setelah udang dan ikan (Anonim, 1988). Sampai saat ini seluruh kebutuhan ekspor rajungan masih mengandalkan dari hasil tangkapan di laut, sehingga dikhawatirkan akan mempengaruhi populasi di alam (Supriyatna, 1999). Alternatif yang sangat bijaksana untuk menghindari kepunahan jenis kepiting ini melalui pengembangan budi daya (Juwana, 2002).

Penelitian tentang produksi massal rajungan masih relatif baru, berbeda dengan kepiting bakau yang telah lebih lama dilakukan (Rusdi et al., 1993; Yunus et al., 1996; Rusdi, 1999), walaupun hasil sintasannya masih rendah. Supriyatna (1999) menyebutkan bahwa sintasan diperoleh juga masih rendah berkisar 4%-29%. Menurut informasi dari panti benih milik perusahaan swasta, dari beberapa kali memproduksi benih rajungan masih diperoleh sintasan rata-rata sebesar 15%.

Beberapa spesies rajungan yang memiliki nilai ekonomis adalah Portunus trituberculatus, P. gladiator, P. sanguinus, P. hastatoides (Nakamura,1990), dan P. pelagicus (Supriyatna, 1999), sementara yang banyak diteliti saat ini adalah P. pelagicus dan P. trituberculatus.

Dari penelitian pembenihan diketahui bahwa tingkat kematian benih rajungan banyak terjadi pada saat larva yaitu dari stadia zoea IV ke stadia megalopa. Pemberian pakan tunggal berupa rotifera pada pemeliharaan larva rajungan dapat menghasilkan sintasan sebesar 5,8% (Panggabean et al., 1982), dan pemberian naupli artemia dapat menghasilkan sintasan sebesar 10% (Yatsuzuka & Sakai, 1980). Padahal pembenihan di Jepang yang telah berhasil, pakan yang diberikan pada larva rajungan juga hanya berupa rotifer, artemia, dan cacahan daging ikan atau kerang. Sehubungan sintasan yang masih rendah tersebut, maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut agar dapat diketahui faktor-faktor lain yang mempengaruhi sintasan larva rajungan untuk dapat meningkatkan sintasannya.

Upaya pengontrolan lingkungan larva saat ini dilakukan secara biologis dengan memanfaatkan bakteri menguntungkan yaitu yang dapat menekan populasi mikroorganisme yang merugikan sebagai alternatif penggunaan antibiotik. Sebagai pengontrol biologis digunakan isolat bakteri yang mampu menekan populasi bakteri patogen dan memacu sistem pencernaan larva rajungan. Berikut informasi biologi di samping pembenihan rajungan sendiri yang diharapkan dapat berperan sebagai bahan informasi dasar untuk meningkatkan teknologi perbenihan rajungan di Indonesia.

JENIS DAN MORFOLOGI RAJUNGAN
Secara umum morfologi rajungan berbeda dengan kepiting bakau, di mana rajungan (Portunus pelagicus) memiliki bentuk tubuh yang lebih ramping dengan capit yang lebih panjang dan memiliki berbagai warna yang menarik pada karapasnya. Duri akhir pada kedua sisi karapas relatif lebih panjang dan lebih runcing. Rajungan hanya hidup pada lingkungan air laut dan tidak dapat hidup pada kondisi tanpa air. Dengan melihat warna dari karapas dan jumlah duri pada karapasnya, maka dengan mudah dapat dibedakan dengan kepiting bakau (Kasry, 1996).

Dilihat dari sistematikanya, rajungan termasuk ke dalam:

  • Phylum : Arthropoda
  • dass : Crustacea
  • Ordo : Decapoda
  • Sub ordo : Branchyura
  • Famili : Portunidae
  • Genus : Portunus
  • Species : Portunus pelagicus

Dari beberapa jenis kepiting yang dapat berenang (swimming crab), sebagian besar merupakan jenis rajungan. Sebagai contoh yang banyak terdapat di Teluk Jakarta adalah 7 jenis rajungan seperti Portunus pelagicus, P. sanguinolentus, Thalamita crenata, Thalamita danae, Charybdis cruciata, Charibdis natator, Podophthalmus vigil (Anonim, 1973). Sementara beberapa informasi lain menyebutkan bahwa jenis rajungan terdiri atas 11 jenis seperti Portunus pelagicus Linn, P. sanguinolentus Herbst, P. sanguinus, P. trituberculatus, P. gladiator, P. hastatoides, Thalamita crenata Latr., Thalamita danae Stimpson, Charybdis cruciata, Charibdis natator Herbst, Podophthalmus vigil Fabr., (Nakamura, 1990; Soim, 1996; Supriyatna, 1999), sedangkan P. trituberculatus banyak ditemukan di Jepang, Cina, Taiwan, dan Korea. Nilai gizi dari bagian tubuh jenis kepiting yang dapat dimakan (edible portion) mengandung protein 65,72%; mineral 7,5%; dan lemak 0,88% (Soim, 1996).

Rajungan di beberapa daerah memiliki nama yang berbeda-beda seperti tersaji pada Tabel 1.

Tabel 1. Nama jenis rajungan di berbagai daerah

Nama ilmiah
Nama daerah

Sumber : Nakamura (1990), Soim (1996), Supriyatna (1999), Juwana & Romimohtarto (2000)

Hasil penelitian pembenihan rajungan, Portunus trituberculatus banyak dilaporkan di Jepang, sedangkan di Indonesia hasil penelitian banyak dilaporkan pembenihan rajungan jenis Portunus pelagicus (Juwana, 2002). Sementara Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol Bali tahun 2003 telah melakukan penelitian pembenihan rajungan (Portunus pelagicus) (Gambar 2) untuk mengantisipasi keperluan benih rajungan dalam rangka meningkatkan keberhasilan budi daya rajungan di tambak, dan sekaligus untuk memenuhi permintaan ekspor rajungan.

Warna rajungan jantan adalah dasar biru dengan bercak putih, sedangkan rajungan betina berwarna dasar hijau kotor dengan bercak putih kotor. Induk rajungan mempunyai capit yang lebih panjang dari kepiting bakau, dan karapasnya memiliki duri sebanyak 9 buah yang terdapat pada sebelah kanan kiri mata. Bobot rajungan dapat mencapai 400 g, dengan ukuran karapas sekitar 300 mm (12 inchi). Ukuran rajungan antara yang jantan dan betina berbeda pada umur yang sama. Yang jantan lebih besar dan berwarna lebih cerah serta berpigmen biru terang. Sedang yang betina berwarna sedikit lebih coklat (Cowan, 1992).

Rajungan (P. pelagicus) memiliki karapas berbentuk bulat pipih, sebelah kiri-kanan mata terdapat duri sembilan buah, di mana duri yang terakhir berukuran lebih panjang. Rajungan mempunyai 5 pasang kaki, yang terdiri atas 1 pasang kaki (capit) berfungsi sebagai pemegang, 3 pasang kaki sebagai kaki jalan, dan 1 pasang kaki berfungsi sebagai dayung untuk berenang. Nontji (1986) menyatakan rajungan mempunyai 5 pasang kaki jalan, di mana kaki jalan pertama ukurannya besar, memiliki capit dan kaki jalan terakhir mengalami modifikasi sebagai alat berenang. Kaki jalan pertama tersusun atas daktilus yang berfungsi sebagai capit, propodos, karpus, dan merus. Sedangkan pada kaki kelimayang mengalami modifikasi pada daktilus menyerupai dayung untuk berenang dan berbentuk pipih.

HABITAT RAJUNGAN
Rajungan (swimming crab) memiliki tempat hidup yang berbeda dengan jenis kepiting pada umumnya seperti kepiting bakau (Scylla serrata), tetapi memiliki tingkah laku yang hampir sama dengan kepiting. Coleman (1991) melaporkan bahwa rajungan (Portunus pelagicus) merupakan jenis kepiting perenang yang juga mendiami dasar lumpur berpasir sebagai tempat berlindung. Jenis rajungan ini banyak terdapat pada lautan Indo-Pasifik dan India. Sementara itu informasi dari panti benih rajungan milik swasta menyebutkan bahwa tempat penangkapan rajungan terdapat di daerah Gilimanuk (pantai utara Bali), Pengambengan (pantai selatan Bali), Muncar (pantai selatan Jawa Timur), Pasuruan (pantai utara Jawa Timur), daerah Lampung, daerah Medan, dan daerah Kalimantan Barat.

Moosa (1980) memberikan informasi bahwa habitat rajungan adalah pada pantai bersubstrat pasir, pasir berlumpur, dan di pulau berkarang, juga berenang dari dekat permukaan laut (sekitar 1 m) sampai kedalaman 56 meter. Rajungan hidup di daerah estuaria kemudian bermigrasi ke perairan yang bersalinitas lebih tinggi untuk menetaskan telurnya, dan setelah mencapai rajungan muda akan kembali ke estuaria (Nybakken, 1986).

Rajungan banyak menghabiskan hidupnya dengan membenamkan tubuhnya di permukaan pasir dan hanya menonjolkan matanya untuk menunggu ikan dan jenis invertebrata lainnya yang mencoba mendekati untuk diserang atau dimangsa.

Perkawinan rajungan terjadi pada musim panas, dan terlihat yang jantan melekatkan diri pada betina kemudian menghabiskan beberapa waktu perkawinan dengan berenang (Coleman, 1991). Disebutkan pula bahwa rajungan hidup pada kedalaman air laut sampai 40 m (131 ft), pada daerah pasir, lumpur, atau pantai berlumpur. Rajungan merupakan binatang karnivora. Makanan rajungan berupa ikan, binatang invertebrata dan merupakan binatang karnivora.

PEMBENIHAN RAJUNGAN
Dalam pembenihan baik itu pembenihan ikan, udang, ataupun pembenihan kepiting dan rajungan, diperlukan beberapa ketentuan antara lain penyediaan induk rajungan yang baik dari segi kualitas maupun kuantitas.

Induk rajungan yang mengandung telur banyak terdapat pada bulan Maret sampai Mei dan pada bulan Juni sampai Agustus. Induk-induk rajungan yang mengandung telurdiangkut dengan wadah kantong plastik atau box polyestervolume 5-10 L untuk 1 ekor dengan suhu air t 30°C, bila capit diikat dapat terisi lebih banyak lagi. Lama transportasi untuk membawa induk rajungan sampai 1-5 jam dan menggunakan aerasi yang cukup. Induk rajungan kemudian ditempatkan pada bak beton tertutup dengan kedalaman 50 cm, dan dilakukan pergantian air atau air mengalir. Pada bak induk harus dihindari adanya alga karena akan mengganggu perkembangan telur. Pengamatan perkembangan telurselalu dipantau setiap hari dan akan terlihat perubahan warna telur dari orange ke coklat dan kemudian berwarna hitam. Penetasan telur biasanya akan terjadi pada waktu malam antara pukul 20.00 sampai 24.00, kemudian induk diambil, dilanjutkan dengan menghitung larva, kemudian larva dipindahkan ke bak pemeliharaan. Larva yang menetas diseleksi, larva yang kurang baik dengan tanda-tanda kurang tertarik pada cahaya dan ukuran larva kecil < 0,65 mm dibuang. Sebagai informasi untuk induk rajungan yang berukuran 400 g akan menghasilkan 1 juta zoea-1. Induk tersebut tidak digunakan lagi walaupun masih dapat menghasilkan telur sampai 4 kali.

Pemeliharaan larva rajungan cenderung lebih cepat dibanding pemeliharaan larva kepiting bakau; karena masa stadia zoea lebih singkat yaitu hanya mengalami 4 masa stadia zoea (Z1-Z4). Informasi sementara menyebutkan bahwa lama perkembangan masa stadia zoea sekitar 3-4 hari dalam kondisi suhu media air 20°C-25°C, stadia megalopa dan crablet selama 5-7 hari. Perkembangan larva rajungan dari zoea-1 sampai menjadi crablet seperti terlihat pada Gambar 3.

Larva juga dapat dipelihara pada berbagai bentuk bak, tetapi yang lebih sesuai untuk pemeliharaan larva rajungan adalah bentuk bak bulat yang ditempatkan di luar ruangan atau ruang kaca. Sumber air yang baik digunakan dalam pemeliharaan larva rajungan berupa air laut yang disaring dengan filter pasir. Nogami et al. (1995) menyatakan bahwa sumber air untuk pemeliharaan larva rajungan berasal dari air laut yang telah disaring dengan filter pasir, kemudian disterilkan dengan sodium hipoklorit dan dinetralkan dengan sodium tiosulfat.

Langkah yang dilakukan dalam pemeliharaan larva rajungan yaitu menyiapkan bak dengan bak, dengan memper tahankan suhu air yang konstan; salinitas air 30-33 ppt; pH air sekitar 8-8,5; oksigen 15–20 L/ton/menit; dan intensitas cahaya di atas 3.000 lux. Penebaran larva rajungan dapat dilakukan dengan kepadatan 100 ind./L (Juwana, 2002).

Pergantian air dalam bak larva dimulai saat stadia Zoea 2 sebanyak 10% per hari, kemudian ditingkatkan saat megalopa menjadi 20%-50% per hari. Aerasi diharapkan merata di seluruh bak dan jumlah aerasi optimum tergantung pada tingkat kepadatan larva, plankton, dan pakan yang diberikan. Pada beberapa panti benih di Jepang tidak menggunakan fitoplankton dalam bak pemeliharaan larva rajungan, sehingga selama pemeliharaan larva dilakukan sirkulasi air untuk menjaga timbulnya populasi plankton. Alga yang mati dapat melepaskan racun nitrogen berupa amonia dan nitrit, oleh karena itu diperlukan adanya perlakuan air secara mikrobiologi berupa penambahan bakteri dan ragi agar dapat mengontrol tingkat kelarutan bahan organik yang dapat menimbulkan amonia dan nitrit. Selama pemeliharaan larva juga dilakukan pengamatan organisme asing berupa diatom, protozoa, dan jamur, karena diatom dan protozoa akan membahayakan larva pada tingkat kepadatan > 5.000 sel/mL. Di samping itu pada kondisi suhu rendah diatom akan melekat pada karapas, dan pada media air yang kotor, jamur akan menghambat proses moultingsehingga kematian larva akan meningkat.

Kepadatan optimal untuk produksi massal Portunus pelagicus yang dipelihara dalam bak volume 400 liter adalah berturut-turut untuk Zoea 1, 2, 3, dan 4 sebanyak 312.000, 294.000, 200.000, dan 104.000 ekor, begitu juga pola pemberian pakan untuk bak tersebut adalah 2 x 1 juta artemia ditambah 2 x 10 g pakan tambahan (Juwana, 2002). Dari penelitian Juwana (1999a) dalam Juwana (2002) juga diuraikan bahwa suhu optimal untuk pemeliharaan zoea sekitar 30°C atau berkisar 27°C-32°C, sementara untuk stadia megalopa sekitar 34°C, salinitas optimum untuk zoea sekitar 27-30 ppt, dengan intensitas cahaya 2.500 lux selama 3-12 jam/hari. Untuk stadia crablet membutuhkan air bersalinitas 28-32 ppt; suhu 28°C-30,5°C; dan intensitas cahaya 3.300 lux.

Berbagai metode dalam jenis makanan yang diberikan dan caranya selama pemeliharaan larva sampai crablet rajungan berurutan berupa rotifera, pakan tambahan, naupli artemia, dan ikan rucah yang diblender, Juwana (2002) memberikan pola makan pada P. pelagicus berurutan berupa naupli artemia, formulasi diet, dried mysid, dan kerang hijau cincang. Sedangkan Nogami et al., (1994) memberikan urutan jenis pakan yang diberikan pada larva rajungan (Portunus trituberculatus) seperti pada Tabel 2.

Tabel 2. Standar pakan untuk larva rajungan (Portunus trituberculatus) (Nogami et.al.,1994)

Jenis Pakan
Stadia larva
Z-1
Z-2
Z-3
Z-4
M
C

Keterangan : Z : Zoea, M: Megalopa, C : Crablet

Juwana (2002) memberikan formulasi diet makanan untuk pemeliharaan larva P. pelagicus seperti tersaji pada Tabel 3.

Tabel 3. Formulasi diet untuk pemeliharaan larva P. pelagicus

Ingredient
Unit
Formulated diet

Maeda (1999) melaporkan pemberian pakan untuk larva P. trituberculatus berupa nannochloropsis, diatom, bakteria, rotifer, artemia, dan euphansia. Dosis dan saat pemberian pada tiap stadia rajungan tersaji pada Tabel 4.

Tabel. 4 Pemberian pakan untuk larva P. trituberculatus (Maeda, 1999)

Jenis Pakan
Stadia larva
Z-1
Z-2
Z-3
Z-4
M

Keterangan : Z: Zoea; M: Megalopa

Untuk menghindari terjadinya kanibalisme dari stadia megalopa sampai crablet, maka pada bak pemeliharaan diberikan shelter atau pelindung berupa jaring atau waring. Kanibalisme yang terjadi selama stadia megalopa dapat dikurangi dengan menyediakan feeding regime yang optimal dan diberi fibre plastik sebagai shelter (Juwana, 2002). Kondisi lingkungan sangat menentukan terhadap keberhasilan dari perbenihan rajungan di mana suhu, salinitas, makanan, dan sistem pemeliharaan yang berbeda akan mengakibatkan proses intermoult(lama antar pergantian kulit) dan waktu untuk metamorfosis 1 akan berbedajuga. Crablet rajungan dapat diangkut menuju tempat pembesaran di tambak dengan kepadatan 150 ekor/liter dengan suhu air 15°C-19°C.

Sumber : Warta Penelitian Perikanan Indonesia, Volume 10 Nomor 1, 2004.


H

About these ads