13/03/05 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

Kegiatan perikanan budidaya pada saat ini meningkat kembali setelah ditimpa kegagalan budidaya udang di beberapa daerah. Kegagalan budidaya antara lain disebabkan karena perubahan kualitas air den kualitas tanah di beberapa daerah, kemudian daya dukung Iingkungan yang semakin rendah, serta kurangnya sentuhan teknologi den kelengkapan sarana dan prasarana budidaya Budidaya tambak kini tidak lagi hanya bergantung pada udang windu, komoditas lain seperti ikan bandeng den berbagai jenis kerapu mulai dibudidayakan di tambak sebagai alternatif bagi udang

Kerapu merupakan komoditas ekspor unggulan setelah udang. Produksi kerapu selama ini didominasi dari hasil penangkapan dan budidaya karamba di laut. Selama ini budidaya kerapu masih terkesan mewah dan mahal, sehingga yang sanggup melakukan budidaya ini hanya petambak bermodal besar saja. Kesan tersebut tentunya tidak seluruhnya benar, karena sebetulnya budidaya kerapu ini dapat dilaksanakan oleh semua lapisan masyarakat bahkan petambak kecil sekalipun. Dalam ujicoba ini digunakan teknologi sederhana yang murah dengan memanfaatkan sitat dasar kerapu sebagai pemangsa. Sebagai pakan selama pemeliharaan adalah ikan mujair yang sanggup berkembang biak dengan cepat. Sebagai input dari kegiatan ini adalah pemberian pupuk organik dan anorganik untuk menjaga populasi ikan mujair supaya tetap berkembang sesuai dengan kebutuhan pakan pada kerapu. Dengan uji coba ini diharapkan budidaya ikan kerapu dapat lebih popular di kalangan masyarakat tambak den dapat berkembang sebagai salah satu alternatif pengganti budidaya udang.

BAHAN DAN METODE
Bahan
Bahan yang digunakan dalam uji coba ini antara lain : benih ikan kerapu berukuran rata-rata 7-8 cm, benih ikan mujair, pupuk anorganik, pupuk organik, moluskisida, den saponin.

Metode
Budidaya kerapu dilakukan secara sederhana/tradisional; meliputi beberapa kegiatan antara lain persiapan tambak, penebaran benih, pengamatan pertumbuhan, dan monitoring kualitas air. Pemeliharaan kerapu dibagi dalam 2 tahap, yakni tahap penggelondongan pada petak berukuran 360 m2 dan tahap pembesaran pada petak 1500 m2. Pada persiapan tambak dilakukan : (a) perbaikan konstruksi dan pematang, (b) pengolahan dasar tambak, (c) pemberantasan hama, (d) pengapuran, (e) pemupukan, dan (f) pangisian air.

Persiapan tambak
Petak tambak dikeringkan selama 7 hari dengan maksud untuk memudahkan dalam perbaikan pematang dan pendalaman caren di tengah petakan. Selain itu juga dilakukan pemberantasan hama dan penyakit menggunakan saponin dengan dosis 20 ppm dan moluskisida sebanyak 0,5 ppm.

Petak pembesaran diberi sekat sehingga membagi petakan menjadi dua sama besar; sekat terbuat dari jaring dengan mata 1 inchi. Tujuan penyekatan adalah untuk memisahkan antara ikan mujair dan kerapu, sehingga yang bisa lolos dari jaring dan menyeberang hanya anak mujair yang mempunyai ukuran kecil dan kemudian menjadi mangsa ikan kerapu. Sekat jaring terus ada selama pemeliharaan, sehingga kebutuhan pakan bagi kerapu selalu tersedia, yaitu mujair yang ternyata selalu berkembang biak setiap 14 – 20 hari.

Pengisian air dilakukan secara bertahap sampai ketinggian 60 cm; hal ini dimaksudkan untuk memberi kesempatan tumbuhnya klekap sebagai persediaan pakan awal bagi ikan mujair yang ditebar. Pada tahap awal, ikan mujair dibiarkan sampai 2 minggu, untuk memberi kesempatan mereka beradaptasi den sebagian mulai berkembang biak. Ikan mujair kecil berhasil menyeberang penyekat dan nantinya akan dimanfaatkan sebagai pakan bagi ikan kerapu. Ikan mujair akan berkembang dan tumbuh dalam berbagai ukuran; sementara di lain pihak, ikan kerapu akan memilih mujair yang sesuai dengan ukuran mulutnya.

Penebaran benih kerapu
Ikan kerapu macan (Epinephelus fuscoguttatus) yang digunakan berukuran panjang 7-8 cm dengan berat rata-rata 11,8 gram/ekor (untuk pembesaran awal); padat penebaran adalah 5 ekor/ m2. Adaptasi benih dilakukan untuk menghindari stres terhadap lingkungan, antara lain dengan cara menebarnya di pagi hari, dimana suhu air relatif rendah. Pada saat penebaran ini dilakukan penghitungan jumlah awal dan pengukuran panjang dan berat ikan rata-rata per individu. Proses adaptasi berlangsung relatif lebih cepat, karena benih yang ditebar di tambak sebelumnya telah dipelihara di petak penggelondongan tambak. Selama pemeliharaan, ikan kerapu tidak diberi pakan tambahan, namun disediakan ikan mujair sebagai makanannya. Ikan mujair dipelihara terlebih dahulu supaya berkembang banyak, setelah itu ikan kerapu dimasukkan sehingga dapat memakan sesuai dengan kebutuhan.

Pengamatan pertumbuhan dan kelangsungan hidup
Untuk mengetahui pertumbuhan dan kelangsungan hidup dilakukan sampling setiap 10 hari. Jumlah sampel ditetapkan sebanyak 30 ekor. Data yang diamati antara lain pertumbuhan panjang, lebar (tinggi), dan berat tubuh ikan kerapu macan. Kelangsungan hidup dihitung berdasarkan jumlah populasi awal (saat panen) dan akhir (panen).

Pengamatan kualitas air
Untuk mengendalikan lingkungan dilakukan : (a) penggantian air setiap hari sebanyak 5 – 10%, (b) pengapuran susulan secara periodik setiap bulan dengan dosis 10 – 20 % dari pengapuran awal, dan (c) pemupukan susulan dengan dosis 10 % dari pemupukan awal atau disesuaikan dengan kondisi lingkungan di tambak. Pengamatan kualitas air dilakukan setiap minggu, berupa pengukuran DO, nitrit dan ammonia, sedangkan untuk temperatur, salinitas dan pH diukur harian.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pertumbuhan dan kelangsungan hidup

Pada tahap pemeliharaan gelondongan kerapu (Tabel 1) terjadl pertambahan berat rata-rata dan 11,8 menjadl 43,9 gram dalam waktu pemeliharaan 2 bulan. Tingkat kelangsungan hidup mencapai 45,3 %. Pada masa gelondongan, ikan kerapu mempunyai sifat bergerombol, berlindung di bebatuan, lebih banyak diam dan tidak aktif mencari makan sendiri, sehingga pertambahan berat badan berlangsung lambat. Pertambahan berat kerapu ini menjadl lebih cepat setelah mencapai berat lebih dari 100 gram, hal ini disebabkan karena ikan kerapu sudah aktif mencari makan sendiri berupa ikan mujair yang hidup. Hanya saja, pertumbuhan individu ikan menjadi tidak merata yaitu yang besar menjadi cepat besar, sementara yang kecil selalu kalah dalam perolehan pakan hidup tersebut, sehingga tumbuhnya lambat. Pada kondisi seperti ini, disarankan untuk melakukan grading guna menghindari kanibalisme diantara mereka.

Pada tahap pembesaran (Tabel 1) terjadl pertambahan berat dari rata-rata 43,9 gram menjadi 250 gram, dengan waktu pemeliharaan 10 bulan. Tingkat kelangsungan hidup yang dicapai adalah 40%. Pada masa pembesaran ini, populasi ikan mujair yang dipergunakan sebagai pakan cukup stabil; stok bibit ikan mujair awal sebanyak 200 kg dapat bertahan sampai tahap pembesaran berakhir. Ukuran ikan mujair pun menjadi bervariasi; yang awalnya masih juvenil (benih) kemudian tumbuh menjadi dewasa/besar; karenanya, dalam sekat pemeliharaan kerapu terdapat ikan mujair dart berbagai ukuran, tentu saja hal ini sangat sesuai dengan kebutuan pakan untuk ikan kerapu. Keadaan populasi yang seimbang ini berlangsung terus menerus, sehingga beban biaya produksi dari komponen pakan cukup ringan.

Tabel 1. Data kegiatan budidaya ikan kerapu macan dengan pakan mujair hidup di tambak tradisional

Tahap Budidaya
Kriteria
Satuan

Kualitas Air
Selama ujicoba dilakukan pengukuran kualitas air mingguan untuk oksigen terlarut (DO), nitrit dan ammonia, serta pengukuran harian untuk parameter suhu, salinitas dan pH air. Beberapa parameter kualitas air pada petak pemeliharaan cenderung stabil, kecuali suhu air antara siang dan malam hari yang berkisar antara 21- 27 °C. Penurunan salinitas air terjadi pada saat banyak turun hujan di bulan Januari dan Februari sampai mencapai 5 – 7 ppt, yang menyebabkan banyak kematian pada ikan kerapu di tambak.

Parameter
Kisaran Nilai

KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan

  • Ikan kerapu macan dapat dipelihara di tambak dengan baik, tumbuh secara normal, dalam 10 bulan dapat mencapai berat maksimum 410 gram den berat rata-rata 250 gram,
  • Pemeliharaan kerapu secara sederhana di tambak dapat dllakukan tanpa menggunakan kincir, dengan kepadatan sekitar 1 ekor/m2 menggunakan pakan hidup berupa ikan mujair, yang dipelihara bersama-sama dalam satu petak dan disekat dengan jaring yang bermata 1 inchi.
  • Pada bulan Januari den Februari saat banyak turun hujan, terjadi salinitas air turun sampai mencapai 5 ppt. Pada saat inilah terjadi banyak kematian kerapu, karena ikan kerapu sebetulnya adalah ikan yang biasa hidup di laut yang berkarang, sehingga memerlukan salinitas cukup tinggi dan stabil.
  • Berat rata-rata ikan belum bisa mencapai sasaran yang diinginkan yaitu 300 gram, sebab terjadi kendala pada awal pemeliharaan, yaitu ikan kerapu kecil tidak aktif mengejar makanan sendiri, sehingga pertumbuhannya lebih lambat bila dibandingkan dengan pemberian pakan dengan ikan rucah yang tidak perlu dikejar.
Saran
  • Dalam pemeliharaan ikan kerapu dl tambak disarankan untuk menghindari musim penghujan, sebab penurunan salinitas menyebabkan kematian ikan kerapu.
  • Dalam pemeliharaan di tambak, sebaiknya digunakan tambak dengan dinding semen, sebab pada saat pemindahan atau panen banyak ikan yang bersembunyi di rongga-rongga pematang sehingga menyulitkan pemanenan.
  • Teknologi pemeliharaan kerapu macan secara sederhana ini dapat segera dikembangkan kepada petani tambak, disamping itu perlu juga dicobakan komoditas lain seperti ikan kerapu tikus dan kakap putih.
Sumber :
Media Budidaya Air Payau No. 3 Tahun 2004
BBPBAP Jepara, Ditjen Perikanan Budidaya, DKP



About these ads