27/07/04 – Lain-lain: Artikel-dkp.go.id

Strategi musim tanam yang tepat pada usaha komoditas budidaya di tambak, khususnya udang merupakan salah satu keberhasilan dalam produksi sampai mencapai ke tingkat optimal. Kegagalan panen (panen prematur) tersebut, selain akibat serangan penyakit yang bersifat massal dan mematikan disebabkan pula para petambak salah dalam memilih waktu tanam.

Periode musim dalam satu tahun di Indonesia dikenal dua musim, yaitu musim kemarau dan musim penghujan. Kaitannya dengan musim tanam ini, khususnya usaha budidaya udang diperlukan kecermatan untuk memprediksi peluang keberhasilan yang maksimal. Dengan demikian, informasi ini diharapkan akan memberi gambaran secara umum tentang musim tanam yang tepat untuk kegiatan usaha komoditas budidaya di tambak.

Tujuan dari informasi ini adalah : 1.Petambak agar dapat memperoleh informasi musim tanam yang tepat untuk kegiatan usaha komoditas budidaya di tambak; 2. Sebagai pedoman dan petunjuk bagi petambak dalam melakukan proses produksi budidaya komoditas tambak; 3. Membantu petambak agar mampu memprediksi musim tanam yang tepat. Sedangkan sasaran yang dicapai sebagai berikut :1. Mengoptimalkan lahan dalam musim tanam yang tepat; 2. Memperoleh hasil (produksi) yang optimal; dan 3. Petambak dapat memperoleh keuntungan yang pasti setiap mengoperasionalkan tambaknya (jaminan suksesi > 80%).

Prediksi Musim
Kedua musim yang ada di Indonesia mempunyai mikroklimat yang berbeda, dalam hal ini mikroklimat tambak untuk kegiatan usaha budidaya. Kedua musim tersebut masing-masing mempunyai kelebihan dan kekurangan bagi organisme (biota) air yang dibudidayakan (Tabel 1). Maka dengan kondisi demikian petambak secara cermat harus mewaspadai dan memilih musim tanam yang tepat sesuai komoditas budidaya tambak yang akan diusahakan.

Tabel 1. Kelebihan dan kekurangan periode musim bagi usaha budidaya tambak

Parameter
Musim Kemarau
Musim Penghujan
Kelebihan
Kekurangan
Kelebihan
Kekurangan


Dampak Beberapa Parameter Kunci Kualitas Air

Salinitas
Untuk tumbuhan dan berkembangnya organisme yang dibudidayakan mempunyai toleransi optimal. Kandungan salinitas air terdiri dari garam-garam mineral yang banyak manfaatnya untuk kehidupan organisme air laut atau payau. Sebagai contoh kandungan calcium yang ada berfungsi membantu proses mempercepat pengerasan kulit udang setalah moulting. Salinitas air media pemeliharaan yang tinggi (> 30 ppt) kurang begitu menguntungkan untuk kegiatan budidaya udang windu. Karena jenis udang windu akan lebih cocok untuk pertumbuhan optimal berkisar 5-25 ppt.

Tingginya salinitas untuk kegiatan usaha budidaya udang windu akan mempunyai efek yang kurang menguntungkan, diantaranya : 1. Agak sulit untuk ganti kulit (kulit cenderung keras) pada saat proses biologis bagi pertumbuhan dan perkembangan; 2. Kebutuhan untuk beradaptasi terhadap salinitas tinggi bagi udang windu memerlukan energi (kalori) yang melebihi dari nutrisi yang diberikan; 3. Bakteri atau vibrio cenderung tinggi; 4. Udang windu lebih sensitif terhadap goncangan parameter kualitas air yang lainnya dan mudah stres; dan 5. Umumnya udang windu sering mengalami lumutan. Selain itu, pada saat puncak musim kemarau jenis udang umumnya akan lebih mudah terserang penyakit SEMBV (white spot).

Suhu air
Suhu pada air media pemeliharaan udang umumnya sanagt berperan dalam keterkaitan dengan nafsu makan dan proses metabolisme udang. Apabila suatu lokasi tambak yang mikroklimatnya berfluktuatif, secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap air media pemeliharaan. Sebagai contoh pada musim kemarau yang puncaknya mulai bulan Juli hingga September sering terjadi adanya suhu udara dan air media pemeliharaan udang yang sangat rendah (24oC). Rendahnya suhu tersebut akibat dari pengaruh angin selatan (musim bediding), pada musim seperti ini biasanya suhu air berkisar antara 22-26oC. Suhu < 26oC bagi udang windu akan sangat berpengaruh terhadap nafsu makan (bisa berkurang 50% dari kondisi normal). Sedangkan bagi jenis udang putih pada umumnya, nafsu makan masih normal pada suhu air antara 24-31oC.

Tingkat kekeruhan air
Tingkat kekeruhan air, baik air sumber maupun air media pemeliharaan mempunyai dampak yang positif dan negatif terhadap organisme yang dibudidayakan, dan setiap organisme mempunyai toleransi tingkat kekeruhan yang berbeda pula. Sebagai contoh bagi jenis kerang hijau masih dapat hidup normal dan tumbuh baik pada tingkat kekeruhan yang tinggi, sementara rumput laut pada umumnya memerlukan tingkat kekeruhan yang rendah. Bahan organik yang menumpuk dalam jumlah yang banyak (tebal) termasuk tempat bersarangnya bakteri dan vibrio yang merugikan bagi udang.

Bila air sumber yang digunakan untuk kegiatan budidaya banyak membawa material organik akibat limbah kiriman dari darat, maka secara tidak langsung akan berpengaruh negatif terhadap biota air yang dipelihara di tambak. Tingkat kekeruhan yang tinggi (limbah dari darat) sering terjadi pada musim penghujan, dimana material yang terbawa berupa cair, padat dan gas. Namun untuk mengendalikan air keruh akibat limbah bawaan tersebut masih dapat digunakan untuk kegiatan budidaya tambak, khususnya udang.

Jenis dan kelimpahan plankton
Keberadaan plankton dalam air media pemeliharaan organisme, khususnya jenis fitoplanktonyang menguntungkan dan persentase dominanasi (keseimbangan) sangatlah dibutuhkan, baik dari segi keanekaragaman maupun kemelimpahannya. Fungsi dan peran plankton pada media air pemeliharaan diantaranya adalah : 1. sebagai pakan alami untuk pertumbuhan organisme yang dipelihara; 2. sebagai penyangga (buffer) terhadap intensitas cahaya matahari; dan 3. sebagai bio-indikator kestabilan lingkungan air media pemeliharaan.

Kaitannya dengan kedua musim yang ada ini, keanekaragaman (jenis) maupun kemelimpahan plankton akan sangat berbeda antara musim kemarau dan musim penghujan. Pada musim kemarau yang salinitasnya relatif tinggi (> 35 ppt) penumbuhan plankton pada saat persiapan air media hingga umur pemeliharaan satu bulan pada umumnya sangat sulit untuk tumbuh dan dalam kondisi populasi yang stabil.

Kemelimpahan bakteri, vibrio dan virus
Kemelimpahan berbagai jenis bakteri, vibrio dan virus pada musim kemarau akan lebih membahayakan bagi udang (organisme) yang dipelihara bila dibandingkan pada musim penghujan. Pada salinitas tinggi, penampakan secara visual di lapangan lebih sulit untuk dilihta dan diketahui secara pasti terserang oleh jenis virus atau bukan. Sdangkan pada musim penghujan (salinitas cukup optimal berkisar antara 5-25 ppt) kemelimpahan virus relatif berkurang. Hal yang pasti dari kasus ini adalah bahwa bukan tidak adanya virus yang berbahaya melainkan kondisi udang relatif lebih tahan terhadap serangan penyakit, namun tetap petambak harus waspada.

Tabel 2. Jadwal Musim Tanam Komoditas Budidaya Non Finfish (NFF)

Komoditas Budidaya NFF
Bulan
10
11
12
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Sumber :
Divisi Pembesaran Udang
BBPBAP Jepara, PO Box 1
Telp. 0291-591125, Fax : 0291-591724
Jepara