26/04/06 – Informasi: Teknologi-dkp.go.id

Di Jakarta, banyak restoran khusus yang menyediakan menu yang berbahan dasar kerang abalone. Salah satunya di restoran Ah Yat Abalone. Restoran ini bisa dijumpai di Hotel Dusit Mangga Dua, Plaza Indonesia, serta Plaza Senayan, bahkan mampu menghidangkan 12 menu abalone. “Pengunjung restoran yang sering memesan abalone kebanyakan dari warga keturunan Tionghoa dan orang bule,” kata Bens, Manajer Operasional Ah Yat Abalone Plaza Senayan.

Untuk mencicipi setiap potong abalone masak di restoran itu, setiap pengunjung minimal harus merogoh kocek sekitar Rp 200 ribu. Ada juga menu abalone yang berharga Rp 1 juta per porsi. Asal tahu saja, itu bukan menu termahal. Soalnya menu abalone kering yang harga per ekornya mencapai Rp 13 juta ini, setara dengan harga sebuah unit sepeda motor. Tapi ironis, seluruh bahan baku masakan abalone yang disediakan restoran ini masih diimpor dari Jepang, Meksiko, dan Afrika Selatan.

Secara umum, cara memasak kerang ini hanya disteam lalu disajikan dengan saus yang dibuat khusus. Yang membedakan adalah proses memasaknya. Seperti abalone yang berasal dari Mexico biasanya dimasak selama sekitar enam jam. Bahkan, untuk memasak abalone kering dibutuhkan waktu hingga tiga hari. Koki yang tidak terbiasa memasak abalone pasti akan kesulitan. Mereka sering kali bukannya membuat masakan jadi enak, tapi malah membuat daging abalone jadi keras. Karena itu, seyogianya untuk memasak abalone harus ditangani koki yang berpengalaman.

Tak mengherankan, jika Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), paling tidak sejak dua tahun terakhir mulai menggalakkan budidaya abalone. Selain mengembangkan teknik budidayanya, kini bersama sejumlah pengusaha asal Nippon, DKP juga tengah membangun lembaga riset di Bali yang khusus menangani penelitian dan pengembangan abalone. Menariknya lagi hasil produksi dari proyek budidaya ini sudah siap dibeli oleh Kyowa Concrete Industries, yakni perusahaan asal negara Samurai.

Di Negeri Matahari Terbil ini, abalone (jenis kerang termasuk dalam keluarga holitoidae) tergolong jenis makanan laut yang sangat eksklusif yang hanya dihidangkan di sejumlah hotel atau restoran berbintang dengan tarif paling murah Rp 1,5 juta per porsi. Itu sebabnya, menu kerang ini hanya layak dikonsumsi bagi kalangan berkantong tebal.

Selama ini untuk mendapatkan jenis kerang bercangkang tunggal itu hanya mengandalkan hasil tangkapan para nelayan, terutama di perairan Nusa Tenggara Barat khususnya sekitar Pulau lombok, Flores, Bali dan Sulawesi. Tapi, boleh jadi karena kebutuhannya semakin tinggi, belakangan hasil tangkapan dari alam jumlahnya terus merosot. Malah, untuk mendapatkan abalone yang bermutupun makin sulit. Pasalnya, jenis kerang yang senang hidup di dasar laut dan menempel di bebatuan ini memang rentan terhadap penceemaran. Terlebih lagi, karena hanya memiliki satu cangkang sehingga gerakannya sangat lambat hewan ini jadi mudah disantap oleh predator laut lainnya.

Nyatanya penggemar menu hidangan abalone terus saja meningkat. Selain memiliki cita rasa tersendiri, jenis kerang tersebut terutama oleh masyarakat Jepang juga diyakini sebagai makanan yang berkhasiat meningkatkan kebugaran serta bisa menyembuhkan berbagai penyakit, seperti gangguan ginjal. “Karena pandangan konsumen yang begitu baik, maklum saja harga abalone terus meningkat,” ujar Made L. Nurdjana, Dirjen Perikanan Budidaya DKP.

Sosok hewan laut ini sepintas mirip dengan daun telinga. Itu pula sebabnya oleh para nelayan jenis hewan ini biasa disebut kerang telinga laut. Di dunia, diperkirakan ada sekitar 70 jenis abalone. Sekitar setengah dari jumlah jenis abalone tersebut hidup di perairan sekitar Indonesia dan Filipina.

Awalnya, pengembangan yang dilakukan oleh DKP baru terhadap jenis abalone lokal dari Lombok yang dikenal dengan nama medau atau tiram telinga keledai (haliotis acinina). Di pasaran internasional jenis abalone ini dihargai Rp 200 ribu per kilogram. Setelah itu, DKP mulai mencoba mengembangkan jenis abalone haliotis superdexta yang harganya lebih mahal, bisa mencapai Rp 600 ribu per kilogramnya.

Teknik budidaya yang dikembangkan oleh DKP adalah dengan memelihara abalone bersama (tumpang sari) rumput laut. Rumput laut memang makanan utama jenis biota laut ini. Kebutuhan pakannya, dalam setiap 1 meter kubik paling hanya diperlukan rumput laut basah sebanyak 1 kilogram untuk selama empat hari. Dalam 1 meter kubik bisa dipelihara 100 ekor abalone.

Tempat pemeliharaan abalone cukup unik, yaitu menggunakan keranjang dari kawat. Keranjang ini digantungkan pada keramba (rakit apung) tempat pemeliharaan rumput laut. Abalone mulai dibesarkan dari benih berukuran 1 cm hingga 1,5 cm. Harga tiap benih ini Rp 1.000 per ekor. Abalone siap dipanen setelah budidaya berlangsung selama delapan bulan. Dan rumput laut yang tersisa masih bisa dijual dengan harga Rp 600 per kilogram (dalam keadaan kering).

Memang belum ada ukuran yang pasti mengenai luas budidaya abalone yang ekonomis. Tapi lazimnya, budidaya ini dilakukan di lahan seluas minimal 1.000 m2 dan dengan kedalaman satu meter. Dan yang perlu diperhatikan dalam usaha ini terutama menyangkut tempat pemeliharaan, yakni harus di perairan yang masih bersih dari pencemaran serta tidak berombak besar. Selain itu, hindari memelihara abalone di dekat muara sungai.

Pembudidaya juga harus memperhatikan kehadiran pemangsa alami hewan ini, seperti kepiting dan ikan besar. Jangan pula sampai kerang yang dipelihara kekurangan pakan (telat memberi makan). Jika terlambat, niscaya abalone akan merangkak ke luar dari keranjang pemeliharaan.

Dengan lahan budidaya seluas itu, saat panen bisa dihasilkan 7.500 kilogram abalone. Artinya seorang pembudidaya akan meraup pendapalan kotor sebesar Rp 4,5 miliar (jika harga jual per kilogramnya Rp 600 ribu). Sementara investasi yang dibutuhkan hanya sekitar Rp 100 jutaan). Dan pendapatan ini, belum termasuk hasil dari menjual rumput laut.

Sumber : Majlah Demersal

About these ads