Melestarikan perairan baik air tawar dan laut sebenarnya menjadi tanggung jawab semua komponen baik pemerintah maupun masyarakat. Mania Mancing dapat ikut serta menjaga kelestarian perairan, sehingga kelak masih bisa merasakan sensasi mancing di alam.

Bila sungai, danau, rawa , pantai dan laut sudah tidak ada ikannya, maka manusia mulai merasakan betapa pentingnya kelestarian alam itu, tetapi kadangkala sesuatunya sudah terlambat. Seperti punahnya berbaekosistemgai jenis ikan air tawar di Indonesia, serta ancaman serius terhadap ikan laut, dengan bukti menurunnya hasil tangkapan baik pemancing maupun nelayan.

Di negara-negara sedang berkembang, seperti Indonesia, kerusakan alam merupakan hal yang biasa terjadi. Tuntutan ekonomi yang tinggi tanpa lapangan pekerjaan yang memadai, maka mencari dari alam adalah solusi yang paling mudah bagi masyarakat di negara-negara seperti Indonesia ini. Coba lihat penegakan hukum yang payah pada kasus-kasus yang berat, apalagi pada kasus-kasus perusakan lingkungan.

Kearifan lokal

Dalam menjaga kelestarian perairan, beberapa peraturan adat biasanya lebih dipatuhi dibanding peraturan pemerintah, karena kalau melanggar adat, maka bisa dikucilkan. Peraturan adat biasanya mengatur kapan boleh mencari ikan, cara-cara yang sesuai, serta aturan lain yang bertujuan untuk kelestarian ikan dan hasil-hasil perairan, sehingga dapat dipertahankan sampai anak cucunya kelak.

Kearifan lokal dalam pelestarian perairan sudah ada di masing-masing daerah, misalnya Sasi di Saparua, Pengelolaan Perairan Pesisir Desa Tanjung Barari, Biak, Sistem Rumpon Way Muli, Lampung, Manajemen Danau Sentarum di Kalimantan Barat, Pengelolaan Terumbu Karang di Jemluk, Bali, Lubuk Larangan di Jambi dan lain-lainnya. Hal-hal tersebut adalah pola-pola pelestarian oleh lembaga-lembaga adat oleh masyarakat luas, tidak hanya pemancing saja.

Peran mania mancing

Saya pernah membaca di sebuah media, setidaknya ada 2 kasus, dimana kelompok mancing (klub mancing) ikut menjaga kelestarian perairan dimana mereka biasa memancing. Kasus pertama, adalah yang dilakukan oleh COMAT (Club Mancing Temanggung) yang selain memancing juga menangkapi para penyetrum dan pencari ikan dengan apotas.

Mereka akan menangkap siapa pun yang terbukti mencari ikan dengan cara ilegal tersebut. Misalnya, pernah mereka menangkap 4 peracun Sungai Lutut di Kecamatan Candiroto, Temanggung, dan menyerahkan kepada polisi. Sayangnya setelah negosiasi di Polsek, para penyetrum ini dilepas lagi, setelah menebus dengan menebar sebanyak 60 kg benih ikan mas, tawes dan nila ke Sungai Lutut di Candiroto.

Kasus yang kedua, adalah diadakannya ronda secara bergilir bagi nelayan penjala dan pemancing di sekitar Sungai Tambra (anak dari Sungai Serayu) di Kecamatan Karang Tengah di Purbalingga, Jawa Tengah. Mereka juga akan menangkapi para penyetrum dan pencari ikan dengan sistem apotas/racun. Siapa pun boleh mencari ikan di sungai ini asalkan dengan cara yang legal seperti memancing dan menjala dengan ukuran jala lebih dari 2, 5 inchi, sehingga ikan yang kecil/benih tidak terangkat.

Satu kasus lagi terjadi di Sungai Bogowonto yang mengalir dari Magelang sampai Purworejo. Beberapa kelompok pemancing di Purworejo, sekitar Kecamatan Bayan yang dilalui Sungai Bogowonto, juga berpartisipasi dengan akan melaporkan siapa pun yang berani meracuni dan menyetrum sungai, sehingga beberapa kedung (lubuk) di sungai ini masih dapat dipancing ikan-ikan lokal sungai seperti nilem, sogo, serni, uceng, nyoho, beder, palung, deler, cakul, balar, morosoco, mersasi, pelus dan limpok atau lembet. Sehingga sungai ini bisa menjadi liputan/rubrik fokus tabloid ini, tentang mancing di sungai. ekosistem1

Tidak tahu atau jalan pintas?

Saya sendiri sampai saat ini tidak tahu alasan yang tepat tentang aktivitas menyetrum dan meracun ini seperti yang banyak dilakukan di Sungai Bengawam Solo dan anak-anak sungainya. Apakah mereka tidak tahu, atau ingin mencari jalan pintas untuk mendapatkan rejeki?

Padahal penyetrum dan meracun adalah efek yang sangat mematikan tidak hanya bagi ikan-ikan target, tetapi pada semua kehidupan di sungai yang dilalui racun dan strum. Berbagai macam plankton, mikroba pengurai, berbagai larva serangga, udang, cacing dan ikan ikut-ikutan mati. Jadi selanjutnya mau cari apa lagi di sungai yang tidak ada penghuninya? Dan mereka pada akhirnya malah tidak bisa mencari ikan sama sekali, toh mereka sendiri yang rugi sebenarnya.

Di Sungai Bengawan Solo, meracun ikan dilakukan pada saat air sungai mulai menyusut (karena kalau musim hujan, volume air sangat banyak sehingga dibutuhkan apotas yang lebih banyak lagi, sehingga bagi mereka paling efektif meracun sungai di saat musim kemarau). Mereka justru “urunan” atau membeli apotas dengan dibayar bersama-sama oleh beberapa orang, atau istilahnya mari merusak sungai secara berjamaah. Apakah ini perlu ditiru? Saya yakin dalam mencari ikan saja mereka menghalalkan segala cara, apalagi dalam sepak terjang kehidupannya.

Di tempat saya tinggal di perumahan, mengalir sungai dengan lebar 2-3 meter yang merupakan sungai irigasi, dan masih terdapat ikan gabus, wader, betik, cakul dan udang. Saat saya membeli rumah di sini 3 tahun yang lalu, pada sore hari yang cerah saya masih bisa memancing “fun” dengan penghuni lain yang juga senang memancing beserta anak-anak kecil penghuni perumahan yang ikutan menonton dan bermain-maian di taman pinggir sungai.

Tetapi akhir-akhir ini banyak “destroyer” datang dan ikutan meracun dan menyetrum sungai yang mengalir di perumahan kami tersebut. Pernah saya ingatkan untuk tidak menyetrum lagi, tetapi malah mereka balik menantang saya, dan mengajak berkelahi. Jadilah saya yang terpaksa mengalah, karena saya punya anak istri dan mereka tahu rumah saya. Saya hanya berfikir, bila semua penghuni perumahan suka mancing, saya lebih beani menegakkan aturan di “sungai” saya terhadap para penyetrum.

Mudahnya mendapatkan apotas

Salah satu kemudahan dalam merusak sungai diantaranya adalah mudahnya bagi siapapun untuk membeli apotas di toko bahan kimia. Tanpa ijin apapun dan seberapa pun Anda membeli tetap akan dilayani. Pernah suatu saat saya sedang antri membeli karbon aktif untuk filter akuarium di toko kimia, kemudian datang beberapa ABG (anak-anak usia SMP) untuk membeli apotas. Lalu saya pun ikutan masuk dalam pembicaraan, mengapa mereka membeli apotas?. “Lebih mudah dapat ikannya mas, karena kalau mancing sulit dapatnya,” sahut mereka. Lalu saya bilang “Karena dulu kakak-kakakmu juga memakai apotas, maka kamu sulit mendapatkan ikannya, nanti adik-adikmu justru sudah tidak dapat meng-apotas sungai lagi, karena sudah tidak ada ikan-ikannya,”. Selanjutnya sudah dapat diduga, merek akhirnya ngeloyor pergi, tapi….dengan sekilo apotas.!!

ekosistem2Saya salut dengan beberepa pejabat yang cinta akan kelestarian alam, misalnya Bupati Sragen, Jawa Tenagah, H. Untung Wiyono yang membuat sayembara. Dalam sayembaranya itu, bupati akan memberi imbalan sebesar Rp 10 juta bila ada yang melaporkan dan terbukti menyetrum maupun meracuni sungai.

Ancaman ini tentu akan dipikir ulang bagi para “destroyer” yang akan berbuat kejahatan lingkungan di Perairan Sragen. Agaknya Undang-undang No 31/2004 tentang perikanan yang memberikan ancaman kurungan badan 6 tahun dan denda maksimal 1,2 milyar rupiah masih belum “ditakuti” sehingga masih perlu sayembara lagi.

Akhirnya, hanya persatuan antar pemancing yang kuat seperti contoh-contoh di atas tadi yang bisa menyelamatkan ikan dari kepunahan. Maka bersatulah pemancing se Indonesia.!*
http://www.mancingmania.com/

About these ads