feri dan gtBanyak orang yang mengenal Kota Sabang – Aceh, dari pada pulaunya sendiri yaitu Pulau Weh. Pulau yang berada paling ujung barat di Indonesia ini ternyata memiliki keindahan alam yang eksotik. Disamping itu di Pulau Weh menyimpan potensi lokasi ikan-ikan besar, seperti yang dituturkan M. Ferry, mania asal Medan – Sumatera Utara kepada Mancing Mania (MM), saat melakukan ekspedisi ke Pulau Weh pada 26 – 30 April 2007 melakukan ekspedisi ke sana bersama dengan, Abun, Tata, Sani, Agus, dan Fuad.

Lantaran diliputi rasa ingin berpetualangan untuk mendapatkan ikan-ikan besar, maka saya mengajak rekan-rekannya seperti Abun, Tata, Sani, Agus dan Fuad untuk mencari lokasi baru. Merekapun sepakat berangkat memancing ke kota Sabang, Pulau Weh – Aceh. Berbekal informasi bahwa di saat terdapat banyak boat bantuan tsunami dan alamnya yang masih “perawan” membuat kami semakin bersemangat dalam melakukan ekspedisi mancing ke Pulau Weh – Aceh.

 

Pada tanggal 26 April 2007 pagi, kami berangkat dari bandara Polonia – Medan dengan tujuan ke Banda Aceh. Sekitar pukul 10.00 WIB pesawat yang kami naiki pun mendarat di Banda Aceh. Dari Bandara Banda Aceh kami pun langsung menuju ke pelabuhan untuk menyeberang ke Pulau Weh dengan menggunakan kapal Ferry.

Sambil menikmati semilirnya angin, dari atas kapal Ferry, saya dan rekan-rekan tiada henti mengamati kota Aceh. Angan saya, terus menerawang teringat peristiwa tradegi bencana alam tsunami yang meluluh lantakkan kota Acah. Di pelabuhan ini, sebelum bencana tsunami, tampak ramai dan hilir mudik. Sekarang ini, meski tidak seramai dahulu kota pelabuhan Banda Aceh mulai kembali normal.

Tanpa terasa kapal Ferry yang kami tumpangi sampai di kota Sabang yang menjadi jantung kota dari Pulau Weh. Indah dan eksotik begitulah untuk pertama kalinya ketika kaki saya menginjak Pulau Weh. Dari pelabuhan kami langsung naik mobil menuju ke Gapang Resort.

Sebelum berpetualangan mancing di sekitar Pulau Weh, saya akan ceritakan kondisi dan geografis Pulau Weh. Pulau Weh terletak di kawasan paling barat di Indonesia. Terletak di sebelah utara pantai barat Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, kurang lebih 35 mil dari ibukota provinsi, Banda Aceh. Penduduk pulau ini berjumlah kurang lebih 24 ribu jiwa. Mata pencaharian mayoritas penduduk setempat adalah nelayan dan pegawai negeri.

Beberapa tempat tujuan pariwisata di pulau ini antara lain adalah Iboih, Keuneukai, Gapang, Ujong Kareung dan tempat pemandian air hangat Anoi Itam. Taman laut di pulau ini memiliki terumbu karang yang mengelilingi pulau kecil bernama Rubiah. Taman rekreasi Iboih terletak di pantai barat pulau Weh. Taman tersebut memiliki hutan pantai dan hutan tropis dataran rendah. Di daerah Ukong Murong (daerah sekitar Iboih), terdapat sebuah gunung berapi kecil, air terjun dan gua yang dihuni oleh burung, kelelawar dan ular.

Saat itu kami juga menikmati suasana kota Sabang yang memang terletak terletak di pulau ini. Di pulau ini juga terdapat tugu kilometer nol sebagai tanda kilometer nol sebagai hasil pengukuran dari Badang Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Tugu ini terletak di ujung barat pulau Weh dan diresmikan Wakil Presiden Try Sutrisno pada tanggal 9 September 1997. Posisi tugu berada di atas bukit yang tubirnya berada persis di tepi laut, 29 km dari pusat kota Sabang. Atau tepatnya, tugu itu berada di desa Iboih, kecamatan Sukakarya Ujung Ba’u. Dari titik kilometer nol ini, seseorang bisa langsung melihat ke laut lepas. Dapat dilihat juga tiga buah pulau kecil yang sebelum tsunami merupakan satu kesatuan.

Titik kilometer nol yang terdapat di Pulau Weh ini sebenarnya bukanlah merupakan titik paling barat Indonesia. Pulau yang terletak di ujung paling barat Indonesia adalah Pulau Rondo. Namun dikarenakan pulau Rondo tidak berpenghuni, maka tugu kilometer nol dibangun di pulau Weh.sani dan fuad

Sejak lama Sabang terkenal dengan titik 0° nya yaitu bagian paling barat dari wilayah Indonesia. Sejak didirikannya Sabang Maatschappij pada tahun 1895 Pelabuhan Sabang mempunyai arti penting pada zaman Belanda, karena dari pelabuhan itulah kapal-kapal besar Belanda mengangkut rempah-rempah dari Bumi Nusantara untuk dijual ke Eropa.

Kota Sabang sebelum Perang Dunia II adalah kota pelabuhan terpenting dibandingkan Temasek (sekarang Singapura), Kota Sabang terdiri dari 2 bagian yaitu Kota Atas dan Kota Bawah.

Popping mengeliling Pulau

Nah, setelah saya berikan gambaran Pulau Weh dan kota Sabang, maka saya akan ceritakan bagaimana serunya berpetualangan di sana. Setelah berkeliling daerah Gapang akhirnya kami menemukan kapal-kapal long boat fiber bantuan tsunami bagi nelayan.

sarang gtDari bodi kapal benar-benar layak untuk mancing. Sedangkan harga sewa kapal untuk satu kapal tidak terlalu mahal yaitu Rp. 600 ribu. Setelah kami deal harga sewa kapal kami pun mulai memancing di sekitar perairan Pulau Weh.

Pada tanggal 27 April 2007, saat matahari baru memancarkan sinarnya, ‘pasukan’ ekspedisi sudah siap dengan ‘senjata’ untuk berpopping ria. Setelah siap kami pun lantas menyusuri gugusan karang di Pulau Weh. “Woow cantiknya luar biasa, seperti trip kita bakalan berhasil,” kata saya kepada rekan-rekan setelah melihat gugusan karang di Pulau Weh. Rekan-rekan saya juga nampak antusias sekali ketika melewati gugusan pulau karang di sana.

Tangan kami nampak gatal untuk melontar popper. Gempuran-gempuran popper di antara karang-karang benar-benar membuahkan hasil. Tepat di Pulau Silaku popper Sani diterkam ikan giant trevally (GT). Byuur….byaarr begitulah suara ketika ikan GT menyambar.

Tak lama adu kuatpun terjadi. Sani mencoba mempertahankan alat pancingnya dengan mati-matian. Duel antara Sani dan ikan GT benar-benar mendebarkan. Setelah mengalami masa kritis akhirnya ikan GT mulai kehilangan tenaga dan sani menguasai keadaan. Sungguh tiada menyangka ikan GT yang di dapat sana sangat besar dan kami perkirakan bobotnya mencapai 52 kg. Belum puas mendapat GT besar, kami tetap popping dan kami kembali mendapat ikan GT dengan bobot 29 kg. sun rise di gapang 

Menjelang siang kami beristirahat makan di Pulau kecil bernama Rubiah. Di lokasi ini memang terkenal dengan taman laut dengan terumbu karang yang indah. Lkasi in memang dilarang untuk memancing dan hanya untuk menyelam. Di karang ribuan ikan banyak dijumpai di sana. Setelah makan siang kami melanjutkan popping hingga sore dengan hasil 9 ekor ikan GT. Trip mancing di hari pertama sungguh luar biasa.

Pada hari kedua (28/04/07), sekarang giliran saya yang ketiban rejeki mengajar ikan GT besar. Popper saya terkam induknya GT. Duel dengan GT besar pun akhirnya kembali terjadi. Andrenalin saya langsung naik dan saya ingin segera menyudahi pertarungan ini. Berbekal semangat tinggi akhirnya GT seberat 39 kg menggelepar tak berdaya. Sorak histeris penuh kegembiraan mewarnai trip mancing ke pulau Weh. Pada hari kedua kami juga banyak mendapat ikan GT. Dua hari berpetualangan, sepertinya waktu terasa cepat sekali karena kami besok harus kembali ke Medan. “Jika ada pembaca yang ingin berpetuangan mancing di Pulau Weh, saya dengan senang hati akan memandunya dan ini nomor handpone saya 08153162301,” kata M.Ferry mengakhiri kisahnya berpetualangan di Pulau Weh.***mrk

http://www.mancingmania.com/index.php?option=com_content&task=view&id=40&Itemid=50

About these ads