Jumat, 09 Januari 2004

http://www.kotabogor.go.id

Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan meresmikan terminal Agribisnis/Holding Ground Ikan hias di Kelurahan Rancamaya Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor Rabu (7/1 Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan meresmikan terminal Agribisnis/Holding Ground Ikan hias di Kelurahan Rancamaya Kecamatan Bogor Selatan Kota Bogor Rabu (7/1). Sebagai tanda diresmikannya Gedung tersebut Gubernur malakukan penandatangan prasasti sebagai tanda diresmikannya Holding Ground Ikan pertama berdiri di Indonesia. Terminal Agribisnis tersebut dibangun oleh Pemerintah Propinnsi Jawa Barat berdiri diatas tanah milik Pemerintah Kota Bogor seluas 9 ha, dengan luas bangunan seluas 800 meter2, yang menghabiskan dana sebesar Rp 1,5 miliyar dari APBD Jawa Barat.

Dalam acara peresmian Menteri Perindustrian dan Perdagangan (Menperindag) Rini M.Soemarno Soewandi mendapat kehormatan membuka selubung papan nama Holding Ground Ikan Hias sekaligus melakukan pengguntingan untaian bunga. Sejumlah pelaku usaha agrobisnis ikan hias dari Jawa Barat, maupun dari luar Jabar hadir, termasuk para eksportir hadir dalam acara tersebut..

Menperindag Rini M.Soemarno Soewandi mengatakan Ikan hias merupakan komoditas perikanan yang potensial untuk dikembangkan, karena selain mempunyai potensi sumber daya berlimpah juga peluang pasar yang besar, baik didalam negeri mapun di luar negeri. Menurut Rini, Indonesia memiliki berbagai jenis ikan hias air laut maupun air tawar yang merupakan suatu keuanggulan komporatif. Sejak tahun tujuh puluhan tujuan utama ekpor ikan hias ke Singapura, Hongkong, dengan nilai ekspor yang diperoleh sudah mencapai kurang dari seratus ribu dolar Amerika.

Seiring dengan perkembangan dan perdagangan ikan hias dan adanya peningkatan pangsa pasar luar negeri, maka pada tahun 2002 lalu, ekspor ikan hias Indonesia telah mencapai 20 juta dollar Amerika dengan tujuan lebih dari 52 negara, Amerika Serikat, Uni Eropa dan Jepang menjadi pengekspor terbesar. Sebagai bahan perbandingan kata Rini, berdasarkan data stasiun karantina bandara Soekarno Hatta, Bali, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Sumatra Barat dan Lampung jumlah ikan hias yang diekspor pada tahun 2003 tercatat 120 ekor. Jika diasumsikan harga satu ekor ikan senilai satu dollar Amerika, maka nilai ekspor ikan hias pada tahun 2003 mencapai 120 juta dollar Amerika, terang Rini. Adanya kenaikan nilai ekspor tersebut tidak terlepas dari peran aktif Pemerintah Propinsi Jawa Barat dalam hal ini Dinas Perindustrian dan Perdagangan Agro Jabar yang secara konsisten terus membina dan memfasilitasi pada state holder bidang perikanan di Jawa Barat.

Namun Rini mengakui, hingga saat ini pangsa ekspor Indonesia di pasar Eropa masih belum menggembirakan apabila dibandingkan dengan negara pengekspor lainnya. Menurut data dari organization Fishery International (OFI), Singapura masih mengusai pasar Eropa dengan pangsa pasar sebesar 25 persen, sementara negara lain, termasuk Indonesia hanya 10 persen. Hal ini menurut Rini, sangat ironis sekali karena ikan hias yang diperdagangkan oleh Singapura hampir seluruhnya berasal dari Indonesia, sehingga dapat dipastikan bahwa impor ikan hias Singapura sebagian besar dari Indonesia yang di ekspor kembali Sementara Indonesia saat inu hanya bisa menguasai pasar ikan hias Amerika Serikat sebesar 6 persen. Padahal, peluang pasar ikan hias air laut dan ikan hias air tawar sangat terbuka lebar, namun para eksportir Indonesia belum dapat memanfaatkan peluang tersebut. Sementara itu Gubernur Jawa Barat Danny Setiawan mengungkapkan, bagi propinsi Jawa Barat sektor Agribisnis termasuk diantaranya ikan hias, merupakan salah satu pilar utama penyokong pertumbuhan perekonomian Jawa Barat, karena operasionalisasi Gedung Holding Ground Ikan hias merupakan tonggak penting dalam pengembangan sektor Agribisnis Ikan hias di Jawa Barat pada khususnya dan di Indonesia pada umumnya.

Menurut Gubernur Danny, Gedung Holding Ground dibangun berdasarkan kebutuhan potensi masayarakat pelaku usaha ikan hias Jawa Barat, yang mayoritas merupakan pengusaha kecil dan lokasinya tersebar sehingga sulit melakukan konsoludasi produk, baik untuk memenuhi pasar maupun petetrasi pasar, terutama pasar luar negeri. Nantinya jelas Gubernur, Gedung yang pertama berdiri di Indonesia ini akan menjadi pusat bagi perdagangan ikan hias lokal untuk kepentingan ekspor, penyediaan informasi lainnya, terutama yang berkaitan dengan ukuran, mutu, kemasan, harga, cara pembayaran, daftar buyer, dan saluran distribusi.