<Dikenal sebagai habitat terakhir bagi hewan prasejarah Komodo, Taman Nasional Komodo (TNK), juga menyajikan ruang yang luar biasa bagi keragaman terumbu karang, bakau, padang lamun, dan gunung-gunung bawah laut yang menjadi habitat bagi lebih dari 1.000 spesies ikan dan 385 spesies karang penyusun terumbu.

Sejak 1994, TNK telah menjadi focus sebuah program konservasi, diawali oleh organisasi konservasi global The Nature Concervancy (TNC), bekerja sama dengan Balai Taman Nasional Komodo serta masyarakat setempat, dan kini di lanjutkan oleh PT. Putri Naga Komodo ( PNK),, usaha patungan nirlaba, dengan TNC sebagai pemilik mayoritas saham.

Program ini melindungi ekosistem TNK yang sangat beragam dari pemboman, racun dan tangkap lebih, yang telah menyebabkan kerusakan besar pada terumbu karang dan polulasi ikan. Setelah pemboman berhasil dihentikan, pertumbuhan karang keras meningkat sebesar 60 persen, begitu pula area patahan karang seluas 6.000 meter persegi kini telah ditumbuhi karang keras dan karang lunak baru.

Dibentuk pada tahun2005 sebagai unit pengelola yang mandiri dan berkelanjutan untuk mendukung Inisiatif Pengelolaan Kolaborasi Komodo (KCMI), sebuah srtruktur kolaborasi yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, PNK percaya bahwa hanya melalui pengelolaan yang efektif dan professional, TNK mampu memenuhi kebutuhan dana untuk kobservasi dan pengembangan masyarakat.

Read the rest of this entry »

Upaya pengelolaan perikanan melalui pendekatan ekosistem.

Oleh: Indar wati Aminudin

Abdul maman seorang lelaki sederhana. Lahir dari keluarga etnik Bajo, ia berhasil menamatkan pendidikan sarjananya, suatu hal ynag jarang terjadi di lingkungannya. Manan kini menjadi dosen di Universitas Haluoleo, Sulawesi Tenggara. Sebagai perwakilan kaum intelektual, Orang Bajo di daerah ini memercayai Manan sebagai Ketua Kerukunan Keluarga Bajo.

Kepercayaan itu mengharuskan Manan memikirkan berbagai hal, dari yang kecil hingga yang besar. Misalnya, masalah pendidikan, pekerjaan dan perekonomian Orang Bajo. Ia pun harus menghadapi kecenderungan yang memperlihatkan Orang Bajo dan warga nelayan lainnya mengalami kemunduran dalam menjaga wilayah lautnya. ” Saya menyaksikan ini dari tahun ke tahun.” Katanya, “Generasi yang terputus dan tak lagi paham mengapa kita harus menjaga laut dengan baik.” Saya menjumpai Mnan pada Desember 2006, dalam suasana konsultasi publik menata ulang zonasi untuk kawasan Taman Nasional Wakatobi (TNW).


Orang Bajo yang di maksud Manan hanyalah segelintir warga dari 88 ribu jiwa yang kini bermukim dalam kawasan lindung yang didirikan sejak 1996 itu. Saat ini, secara bertahap mereka mengikuti ritme konversi yang digagas sejak tahun 1986 di wilayahnya. Mereka pun ikut menyaksikan berbagai perbedaan pandang atas misi itu. Bberapa diantara mereka melontarkan keraguan, “Apakah tindakan itu akan menguntungkan seacara nyata bagi warga dan semua pihak?”

Read the rest of this entry »

Menempuh ribuan mil laut dan melawan arus kuat bukanlah kendala bagi kapal-kapal kayu pemburu tuna di perairan dalam Nusantara. Namun, mereka harus takluk pada kenyataan paceklik tuna. Rudi Masuswo Purwoko mengisahkan perjalannya mengikuti sebuahg kapal rawai tuna.

disadur oleh : ria & tuti

dari : suplemen national geographic indonesia edisi april 2007

[Jum’at, 9 Juni 2006]

Pelabuhan Benoa, Bali, pukul 06.00 WITA. Inilah kesempatan yang saya tunggu, pergi melaut bersama kapal rawai tuna, (tuna longline) menuju Samudra. Kapal ini menggunakan ribuan kail ( biasanya 700-2000 kail) yang dihanyutkan pada kedalaman tertentu (hingga kedalaman 300 meter) dengan senar utama (main line) yang mencapai puluhan kilometer. Biasanya mereka melaut satu sampai enam bulan dengan tuhuan utama untuk menagkap ikan tuna. Memang, perjalanan ini bukanlah kali pertama bagi saya, Namun kali ini saya akan mencoba alat untuk melepaskan penyu dari kail pancing rawai tuna. Nama alat ini adalah de-hooker. Itulah salah satu tugas saya sebagai pengamat yang mencermati interaksi para nelayan dengan satwa laut yang terancam punah dan dilindungi seperti penyu, paus, dan lumba-lumba.

Usai menaruh seluruh bekal pada anjungan kapal yang saya tumpangi, saya segera mencari kapten kapal, pemimpin perjalanan ini. Berbadan tegak dan berkulit belang akibat terbakar cahaya mentari, sang kapten menyambut kedatangan saya dengan ramah. Ia mengatakan, kapal akan berangkat pada pukul 09.00 WITA. Saya tercenung sesaat, lalu mencoba meminta kelonggaran untuk melaksanakan sembahyang Jum’at. Sang kapten akhirnya meluluskan permohonan saya.

[Sabtu, 10 Juni 2006]

Kapal rawai tuna yang saya tumpangi berbobot 94 gross ton, panjangnya 26, 11 meter dengan lebar 0,755 meter. Berdaya 750 PK, mesin kapal mampu melajukan kapal dengan kecepatan rata-rata 7 knot. Kapten kapal memiliki 14 orang Anak Buah Kapal (ABK). Agar diterima di lingkungan baru, saya menggencarkan pendekatan kepada seluruh awak kapal. Saya piker tak sulit melakukan lobi intensif bila orang satu di kapal ini telah berhasil dirangkul. Siapa ya yang harus saya lobi pada hari ini?Aha, Koki kapal kami! Pejabat penting di bagian dapur ini memang harus segera saya lobi agar ia tak keberatan menyediakan pelayanan yang memuaskan. Saya melangkahkan kaki menuju ruangannya. Read the rest of this entry »

disadur oleh : tuti & ria

dari : suplemen national geographic  indonesia edisi april 2007

K

risis kelautan Indonesia dan dunia telah berada di hadapan kita. Sumber daya perikanan kita semakin mengecil jumlahnya, sementara ekosistem laut kita mendapat banyak tekanan dari berbagai sisi. Para peneliti menemukan indikasi pelabuhan perikanan. Contohnya, ikan-ikan dari kelompok tuna. Walapun para ahli bersepakat bahwa tak ada yang mampu memprediksi potensi ikan tuna dengan hasil yang pasti, para peneliti menyarankan agar pemerintah tak lagi memberikan izin penangkapan baru di seluruh perairan Nusantara. Produk perikanan Indonesia banyak yang gagal menembus pasar ekspor karena penanganan dan manajemen yang buruk. Belum lagi, masalah tangkapan samping. Sebagai salah satu solusi, para peneliti menawarkan pengelolaan perikanan yang berdasarkan pendekatan ekosistem, menetapkan kawasan-kawasan perlindungan laut untuk mengelola dan melindungi fungsi-fungsi penting pelestarian sumber daya laut.

Rawai nan Sepi

OLEH: INDAR WATI AMINUDDIN

Melalui sejumlah penelitian, perikanan Indonesia tengah menghadapi ancaman. Beberapa perairan mengalami penangkapan berlebihan untuk beberapa jenis ikan predator besar. Pengelolaan yang berdasarkan pendekatan ekosistem menjadi salah satu pilihan untuk menata kembali perikanan Indonesia.


KRISIS LAUT

Keluhan itu datang dari Masdar, kapten dari sebuah kapal rawai tuna yang berlabuh di Pelabuhan Benoa, Bali. Gerombolan ikan tuna sirip uning atau madidihang saat ini makin sulit dijumpai pada beberapa awasan perairan dalam Nusantara. Walaupun telah bekerja keras dan

memperpangjang waktu perburuan, ikan-ikan yang tersangkut kail rawai milik Masdar belum mampu menutupi ongkos kapal yang mencapai dua ratus juta rupiah dalam setiap perjalanan.

Di pelabuhan yang sama saya juga menjumpai Supriyadi, kapten KM Mas 7, kapal rawai tuna lainnya. Ia mencoba memberikan gambaran. Saat ini zona wilayah penangkapan di Samudra Hindia bagaikan pasar yang disesaki pengunjung. Ada belasan kapal pemburu tuna di sana. Akibatnya, “kami berebut fishing ground (daerah penangkapan ikan),”keluhnya. Saat dilakukan penarikan, rawai tuna milik kapalnya terasa lebih ringan daripada perjalanan di masa silam. Read the rest of this entry »

National Geographic

Jumat, 3 April 2009 | 17:24 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Keberadaan ikan terbang dikhawatirkan akan lenyap di perairan Indonesia pada tahun 2030 bila pola pengelolaan ikan tersebut tidak diperbaiki.

“Pengelolaan ikan terbang di Indonesia, sekitar 30 persennya berasal dari Sulawesi Selatan. Kalau tren itu dipertahankan, tahun 2030 tidak ada ikan itu,” kata Peneliti Perikanan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Augy Syahailatua, di Jakarta, Jumat (3/4).

Ia mengatakan, besar kemungkinan ikan terbang akan berpindah tempat dari perairan Sulawesi Selatan bila penangkapan ikan terbang terus dilakukan secara besar-besaran. “Kemungkinan ikan terbang akan berpindah tempat. Selain itu, populasinya juga akan berkurang kalau dilakukan penangkapan secara berlebihan. Tetapi, kami akan terus melakukan riset,” ujarnya.

Pada tahun 1922 lalu, diperkirakan terdapat 18 jenis ikan terbang di Indonesia. Namun, pada tahun 2004 dan 2005 hanya ditemukan sekitar 13 jenis saja. Sedangkan 5 jenis lainnya tidak diketahui keberadaannya. “Yang 5 jenis itu masih ada atau tidak, sampai sekarang tidak jelas,” tuturnya.
ANI

Pusat Penelitian Limnologi LIPI

BERAWAL dari pemikiran para ahli dan peminat limnologi di Indonesia yang disponsori LBN (Kini Pusat Penelitian Biologi), mengenai perlunya lembaga khusus untuk menangani masalah-masalah Limnologi di Indonesia, maka Pusat Penelitian Limnologi-LIPI berdiri pada tanggal 13 Januari 1986 dengan nama Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi – LIPI. Lembaga tersebut dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Presiden RI Nomor 1 Tahun 1986 tentang Organisasi LIPI, dan bertempat di Jalan Ir. H. Juanda No. 3, Bogor. Pada tanggal 25 Maret 1996 Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi-LIPI pindah ke Kompleks LIPI di Cibinong. Pada reorganisasi LIPI tahun 2001, Pusat Penelitian dan Pengembangan Limnologi-LIPI berubah menjadi Pusat Peneli-tian Limnologi-LIPI.

Pusat Penelitian Limnologi sejak berdiri hingga saat ini telah mengalami empat kali pergantian Kepala. Adapun para Kepala Pusat yang pernah memimpin Pusat Penelitian Limnologi tersebut adalah

1. Dr. Anugerah Nontji (1986 – 1994)
2. Ir. Peter Hehanussa, M. Sc. (1994 – 1999)
3. Dr. Ir. Herry Harjono (1999 – 2001)
4. Dr. Ir. Gadis Sri Haryani (2001 sampai sekarang)

Puslit Limnologi membawahkan Bidang Dinamika Perairan Darat, Bidang Produktivitas Perairan Darat, Bidang Sistem Komputasi Perairan Darat, dan Bagian Tata Usaha.

Visi Puslit Limnologi LIPI adalah menjadi referensi nasional dalam bidang limnologi. Sedangkan misinya adalah : mengembangkan limnologi sebagai ilmu pengetahuan serta mendayagunakan pemanfaatannya bagi kepentingan kehidupan melalui program litbang limnologi, pembinaan jaringan dan kerjasama litbang dalam dan luar negeri, pembinaan perkembangan keilmuan serta pemasyarakatan pelayanan jasa dan informasi Read the rest of this entry »

Kamis, 03 April 2008

NEW YORK — Anak-anak usia pra-sekolah yang ibu mereka secara rutin mengonsumsi ikan rendah-merkuri selama kehamilan diduga memiliki otak lebih cerdas dibandingkan dengan teman sebaya mereka. Beberapa peneliti mendapati bahwa di antara 341 anak berusia tiga tahun, mereka yang ibunya mengonsumsi lebih dari dua porsi ikan per pekan selama hamil biasanya lebih baik dalam pemeriksaan verbal, visual, dan perkembangan gerak.

Temuan yang diungkap dalam Journal of Epidemiology tersebut menambah bukti bahwa ikan dapat menjadi makanan otak. Tapi, mereka menggaris-bawahi perlunya memilih ikan rendah merkuri selama hamil. ”Saran bagi konsumsi ikan selama kehamilan mesti memperhitungkan manfaat nutrisi dalam ikan serta potensi risiko terhadap merkuri,” tulis para peneliti yang dipimpin Emily Oken dari Harvard Medical School di Boston. Ikan berlemak seperti tuna, salmon, dan sardin berisi asam lemak omega-3 yang penting dalam perkembangan otak anak dan janin. Masalahnya, ikan berlemak lebih mungkin untuk tercemar merkuri, zat logam yang menjadi racun bagi sel-sel otak, terutama pada janin dan anak kecil. Read the rest of this entry »

Berminat memelihara cupang hias? Untuk mendapatkan jenis yang baik, ada beberapa saran untuk itu.
Peliharalah yang masih bakalan (muda). Asalkan tidak cacat, berkelamin jantan, sehat dan lincah. Perhatikan pula warna tubuhnya yang harus cemerlang, warnanya harmonis, merata, baik di tubuh dan siripnya, serta bermental baja.
Menurut pengalaman para pakar, untuk memperoleh bakalan cupang hias yang baik memang tidak sesulit mendapatkan bakalan cupang aduan. Sebab cupang hias lebih mudah dilihat kelebihan fisiknya ketimbang jenis aduan yang kudu dinilai juga gaya bertarungnya, pukulan andalannya dan perilaku lain yang kadang susah ditebak jika tak melihat sendiri. Sementara cupang aduan belum dijamin kualitasnya hanya dengan melihat sosoknya.
Usia cupang bakalan yang ideal untuk dipelihara berkisar 1,5—5 bulan. Di umur itu, harganya lebih murah ketimbang kalau membeli yang dewasa. Lagi pula menyaksikan ia berkembang dan bertumbuh besar, punya keasyikan tersendiri. Saat ini cupang untuk kontes usianya 3—5 bulan dengan kategori yunior. Read the rest of this entry »

Irwan Sugandy tertarik pada ikan cupang sejak ia duduk di sekolah dasar. Ketika itu cupang yang dikenalnya adalah ikan aduan. Begitu juga dengan ikan hias lain. Namun hobi memelihara dan mempelajari seluk-beluk ikan hias sempat dilupakan ketika dia mulai sibuk mengurusi bisnisnya.
Hingga tahun 1977 ketika badai krisis menerpa ekonomi Indonesia, usaha Irwan limbung juga. Di sela-sela waktunya untuk membangun kembali bisnisnya, pada 1988 nalurinya sebagai orang pencinta ikan tergelitik saat menyaksikan sosok cupang yang amat berbeda dibanding cupang yang dikenalnya dulu.
Sejak itulah bapak tiga anak itu mulai getol berburu cupang hias, hingga ke manca negara.
Menurutnya, sifat cupang yang doyan kawin dimanfaatkan betul untuk mencetak berbagai strain baru yang cantik. Makanya tidak heran bila pria yang mempersunting putri Canada itu cukup beken sebagai penghasil cupang hias putih dan halfmoon di kalangan hobiis di Jakarta.
Rumahnya di kompleks Taman Ratu Indah, di Duri Kepa (Jakarta Barat), kini dijadikan sebagai tempat pembiakan cupang hias. Irwan bangga dengan ikannya yang cantik dan keluarga yang selalu memberi dukungan. Dari perkawinannya dengan Gene Lightle, dia dikaruniai tiga putri indo yang manis-manis. Read the rest of this entry »

Pemancing itu mendambakan sekali bisa dapat marlin. Menurut para pemancing kawakan, marlin itu hebat fight-nya. Jenis ikan ini juga cantik sekali. ”Kalau terpancing, dia melompat ke atas permukaan 10 sampai 20 meter. Pemancing bisa melihat ”musuh” di depannya itu. Ini sebuah pesona yang hanya bisa dinikmati sedikit orang,” ujar Dadi Kartahadimadja, yang pernah mendapat marlin seberat 300 kg namun lepas, ketika mengikuti turnamen di Manado.
Tapi jika marlin terpancing, dia naik kepermukaan. Ada waktu untuk tarik ulur. Di sinilah pemancing fight bagaimana memenangkan pertarungan. Kapten kapal musti cekatan juga, membantu agar tali tidak putus. Caranya bisa memundurkan kapal agar posisi tali kendur dan ada kesempatan menggulung.
Ada beberapa jenis ikan marlin. Black marlin atau marlin hitam dalam bahasa ilmiah disebut Makaira indica. Kemudian ada blue marlin atau marlin biru (Makaira nigircan). Sailfish atau ikan layar disebut Istiophorus platypterus. White marlin atau marlin putih (Tetrapturus albidus). Dan swordfish atau ikan todak dengan nama latin Xiphias galduys Linnaeus. Masih ada lagi stripped marlin (Tetrapturus audax) dan spearfish (Tetrapturus pfiuegeri / Tetrapturus angustirostris / Tetrapturus belone).


Sail Fish


Black Marlin

Marlin Hitam
Ikan ini yang terdapat di Samudra Hindia dan menjadi buruan dalam kegiatan hobi olahraga memancing di Pelabuhan Ratu. Selain di situ juga terdapat di Samudra Pasifik. Berada pada air dengan suhu 21-30 derajat Celcius dan jarang dijumpai di perairan dingin. Read the rest of this entry »

PELABUHAN RATU – Ada hajatan besar pada tanggal 18-21 April lalu. Kegiatan ini jadi kebanggaaan warga setempat karena menjadi arena Turnamen Mancing Ke-5 memperebutkan Piala Presiden RI. Hadiahnya tak seberapa, tapi yang kumpul dan yang jadi peserta adalah adalah para pengusaha besar dan anggota MPR. Jumlahnya sekitar 80 orang (23 tim). Tujuh belas orang di antaranya adalah peserta asing berasal dari Amerika Serikat, Belanda, Australia, Malaysia, dan Korea.

Oleh Wartawan SH
GATOT IRAWAN

”Walau event nasional, namun pesertanya beragam bangsa,”ujar Dadi Kartahadimadja, Sekjen Federasi Olahraga Mancing Seluruh Indonesia (Formasi). Kegiatan ini tiap tahun menjadi agenda tetap dan diadakan di Pelabuhan Ratu, Kabupaten Sukabumi. Menurutnya, turnamen ini adalah ‘”Game Fishing Tournament” yakni boleh mancing semua jenis ikan billfish (berparuh) antara lain yang top adalah marlin, juga jenis lainnya kecuali hiu dan pari. Tapi bobot minimum yang sah ditimbang adalah 10 kilogram.
Kenapa hiu dan pari tak diperbolehkan dipancing, sebab jenis ini ikan pembersih. Senang makan segala sesuatu, termasuk sampah plastik Karena keberadaannya membantu secara tak langsung kebersihan lingkungan maka keduanya diharamkan untuk dipancing.

Jangan harap melihat mereka mancing dengan kapal laut yang melego jangkar. Ini, lanjut Dadi, tidak boleh. Sebab tata cara yang dipakai adalah sistem trolling, yakni pancing ditarik kapal dengan kecepatan tertentu, tanpa melego jangkar. Istilah lokal adalah ngoncer.
Angka terbesar jika pemancing berhasil mendapat marlin, ikan dambaan pemancing seluruh dunia yakni 500 poin. Khusus untuk marlin, peserta tak boleh membawa pulang. Sebab yang diterapkan adalag ‘tag and release.’ Jika marlin terpancing, dia hanya diberi label dengan memakai tombak yang ujungnya ada record yang akan tertinggal di tubuhnya.

SH/Gatot Irawan
Untuk mengatahui keberadaan ikan, pemancing dibantu alat-alat canggih seperti GPS dan echo sounder.
SH/Gatot Irawan
Umpan palsu sengaja dibuat dengan warna-warni agar menarik perhatian ikan.

Ada isian yang kemudian dilaporkan ke International Billfish Foundation di Amerika Serikat. Di situ dicatat bobot, panjang, lokasi pancing, nama kapten dan kapal dan pemancing. Oleh yayasan itu dijadikan data base untuk mengetahui pola migrasi dan jumlah marlin. Read the rest of this entry »

JAKARTA – lkan arwana asal Indonesia – terutama hasil penangkaran – boleh diperdagangkan atau diekspor. Hal ini telah mendapat persetujuan Convention on International Trade in Endangered Species (CITES).

Begitu terkena tombak, anak-anak ikan dimuntahkan, dan nelayan sudah siap mengambilnya dengan menebarkan jala atau memungutnya dengan serok. Setelah mendapatkan anakan arwana, para nelayan mendarat, dan di situ pula sudah ditunggu oleh para pengumpul/ pedagang setempat.

Diperkirakan kuota ekspor arwana sampai tahun 2001, dapat mencapai kuota 10 ribu ekor lebih. Ini berarti, pangsa pasar ekspor arwana sungguh menggairahkan.
Apalagi harganya amat menawan. Seekor arwana ekspor jenis super red dengan panjang tubuh 10-15 cm di Taiwan mencapai Rp 1 juta, malahan di Jepang bisa meroket sampai Rp 2 juta. Di samping Taiwan dan Jepang, negara tujuan ekspor lainnya adalah Hongkong, Korea, dan Singapura.
Sementara itu, harga anakan arwana kuning emas di Kalimantan Barat sekitar Rp 100 ribu/ekor, sedangkan jenis merah mencapai Rp 250 ribu/ ekor. Tapi jangan kaget, harga itu merupakan transaksi antara nelayan penangkap arwana di Sungai Nanga Jentawang dan Danau Piam (Kal-Bar) dengan pengumpul setempat. Read the rest of this entry »

Kelalaian adalah sumber malapetaka bagi penggemar. Sekali saja lalai tidak mengontrol aerator akuarium, bisa-bisa arwana mati. Apalagi ceroboh, tentu lebih fatal akibatnya. Maka bagi penggemar yang sungguh-sungguh mencintai arwana, pastilah memperhatikan seluk-beluk di sekitar perawatan. Harapannya, agar arwana dalam akuarium bisa tampil anggun dan asri. Lantas apa yang harus dilakukan?

1. Perhatikan peralatan aquarium
Berhasil tidaknya akuarium menjadi tempat yang nyaman bagi ikan arwana, sungguh dipengaruhi oleh kelengkapan sarana pendukungnya.

Aerator
Fungsi aerator atau pompa udara adalah menyuplai udara ke dalam air akuarium, dan sekaligus menguapkan atau mendorong hasil sisa-sisa pembakaran ke luar dari akuarium. Aerator dikatakan baik, jika arus listrik yang menggerakkannya kecil, tetapi udara yang ditiupkannya relatif banyak.


Heater & Thermometer


Alat pemanas (heater) ini diperlukan terutama pada waktu suhu air akuarium turun drastis. Sedangkan alat pengontrol suhu air atau termometer juga dipasang dalam akuarium. Di daerah dingin, heater dan termometer ini sangat dibutuhkan. Read the rest of this entry »


Yosafat Erie S
“Bentuk segi empat yang baik punya perbandingan ukuran lebar dan panjang 1 banding 1,5. Jika lebih pendek atau panjang, ikan itu termasuk jenis yang kurang bagus.”


Nenek moyang lou han sebenarnya berasal dari keluarga Cichlidae. Keluarga siklid ini hidup tenang di perairan wilayah Amerika Selatan dan Tengah, seperti danau yang berada di Meksiko, Sungai Otapa (Panama), perairan Honduras, Kolombia dan Brasil. Siklid merupakan keluarga besar yang terdiri dari ratusan spesies.
Menurut Iskandar, importir lou han di bilangan Ciledug, selatan Jakarta, bila dilihat dari cara breeding-nya, siklid terbagi menjadi dua golongan. Pertama, cara breeding yang menempelkan telur di substrat (wadah). Kedua, cara breeding yang menetaskan telur di mulut. Untuk cara pertama itu, dapat dibedakan menjadi dua macam. Ada ikan yang senang menebarkan telur di sembarang tempat atau di dasar kolam. Ada pula yang hobinya menempelkan telur itu di substrat. Untuk contoh macam yang pertama, Cichlasoma. Contoh macam kedua, seperti Symphisodon, Julidocromis dan Apistograma. Sedang contoh siklid yang menetaskan telurnya di mulut, Eretnodus cyanosticus.

Dilihat dari ukuran tubuhnya, Cichlasoma masuk ke dalam kelompok lou han bertubuh besar. Cichlasoma tersebesar pernah ditemukan di Meksiko, yaitu Boulengerochromis microlepis. Panjang tubuh ikan ini hampir 80 cm. Jenis siklid lainnya yang telah banyak dikenal dan digemari orang antara lain, Pterophylum, Altolamprologus, Teleogramma dan Crenicicha.
Di negara asalnya, Malaysia, lou han telah dikembangkan sejak 1994. Dari situ popularitasnya terus menanjak. Ikan ini tak lagi hanya dikenal di seluruh negeri jiran itu saja. Lou han menyebar hingga ke hampir separuh daratan Asia, seperti Thailand, Taiwan, Hong Kong, Cina, Singapura, Jepang dan Korea. Bahkan telah merambah beberapa negera Eropa dan Amerika yang sebetulnya memiliki jenis (strain) asli ikan siklid ini.

Yosafat Erie S.
Tambahan makanan buatan berupa pellet sangat bagus untuk pertumbuhan dan pencerahan warna lou han.

Read the rest of this entry »


JAKARTA – Ikan bertato aksara Mandarin itu hilir-mudik di akuarium. Tubuhnya yang dibaluti perpaduan corak hitam dan perak bisa membuat mata terpikat. Hewan ini pun tak menolak saat dielus–elus tangan sang pemilik. Ikan lou han sebutannya. Lou han yang diberi nama dewa hoki itu diyakini bisa membawa berkah tersendiri.

”Kalau dilihat baik-baik, tulisan Mandarin itu artinya berkembang,” kata Inna, sang pemilik ikan istimewa itu. ”Ikan ini memang nggak punya corak warna yang mencolok, tapi dia punya marking yang jelas sekali. Jadi bisa langsung terbaca,” tambah Inna menunjukkan rajah di tubuh ikan lou han kesayangan itu.
Sebetulnya, sudah banyak pehobi ikan hias yang merayu Inna untuk melepas ikan itu. Namun ibu dua anak ini tak bergeming, not for sale untuk si dewa hoki. ”Wah, ditukar dengan BMW keluaran terbaru pun saya nggak mau (lepas),” kelakarnya dengan mimik kocak. Rasanya, ungkapan itu tak berlebihan. Sebab Inna dan keluarga begitu percaya bahwa ikan itu bisa membawa berkah. Membuat usaha mereka yang tengah dilakoni makin maju. ”Jadi, kalau sampai dilepas bisa-bisa bangkrut kita.”

Yosafat Erie S.
Perhatikan bibit lou han yang baik. Agar tak tertipu sebaiknya Anda memilih bibit lou han yang sudah berukuran di atas tujuh cm.

Read the rest of this entry »

RAIH SARJANA NEGERI 3 TAHUN - TANPA SKRIPSI - ABSENSI HADIR KULIAH BEBAS - COCOK BUAT ANDA KARYAWAN SIBUK
http://www.sarjana3tahunlul.us/

since dec27'07, thanks to

  • 1,073,866 visitors
Potensi perikanan di republik ini sungguh sangat berlimpah di perairan darat maupun di lautan, namun sampai saat ini belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan rakyat. Karena kebokbrokan mental aparatur negara hasil perikanan laut kita terkuras oleh 'ilegal fishing' -nyaris sama seperti hutan kita yang gundul oleh 'ilegal logging', semuanya hanya dinikmati sekelompok rakus yang tidak memikirkan kemajuan bangsa bersama. Bundel kliping info perikanan ini semoga dapat menghimpun segala informasi untuk menggugah masyarakat luas akan urgensi penyelamatan potensi perikanan nasional khususnya perikanan laut agar tetap lestari bagi kemakmuran anak cucu kita.

a





Recent Readers

View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile View My Profile



pranatamangsa

November 2009
S S R K J S M
« Apr    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
apakah anda memerlukan bea siswa ke PTN ? anda lulusan SLTA 2007,2008 dan rangking 9 besar di kelas ?
beasiswa klik disini

Flickr Photos

yellow

Vanessa bikini girl -small

tits31rr

Tiff n Dana

suzfishing

suekat_cobia

sr-015

shelly

shelly 039_1

sharkchick

More Photos
Watch videos at Vodpod and other videos from this collection.

www.bukansarjanabi.asia

Halaman